Setelah kematian Pak Kasto, Rani tidak berhenti. Ia justru bergerak lebih cepat, seolah kecepatan bisa menebus kehilangan, seolah jika ia mengisi tiap jam dengan kerja, tak akan ada ruang untuk gundukan tanah merah itu menghantuinya.
Dan ada cukup banyak kerja untuk mengisi tiap jam, bahkan melampauinya. Dana provinsi yang ia perjuangkan, yang ia syukuri, ternyata membawa beban yang ia tak sepenuhnya antisipasi. Lebih banyak sumber daya berarti lebih banyak kasus yang bisa—dan harus—ditangani. Ratri baru mulai pengobatan, butuh pengawasan ketat di minggu-minggu awal. Wulan masih rapuh dengan rasa bersalahnya. Pak Darji yang sempat relaps perlahan dipulihkan. Sutejo, Topan, Mbah Ginem, keluarga-keluarga baru di Posyandu Jiwa. Dan di atas semua tubuh yang harus dirawat itu, ada gunung kertas: laporan bulanan provinsi, kuitansi tiap rupiah, indikator capaian, dokumentasi, foto, tanda tangan. Pekerjaan yang dulu ia lakukan dengan tangan kini harus juga ia catat dengan tangan yang sama, dua kali lipat beban, separuh waktu.
Rani mulai pulang larut, lalu lebih larut, lalu kadang tidak benar-benar pulang—tidur beberapa jam di kursi Puskesmas dengan laporan setengah jadi di pangkuan. Ia melewatkan makan, mengganti nasi dengan kopi dan biskuit dari laci. Ia berhenti menjawab pesan dari ibunya. Tubuhnya, yang biasanya ia perlakukan seperti alat yang harus selalu siap, mulai mengirim sinyal yang ia abaikan satu per satu: sakit kepala yang tak kunjung hilang, tangan yang gemetar saat menulis, malam-malam ketika ia berbaring kelelahan tapi tak bisa tidur karena pikirannya berputar di daftar yang tak pernah selesai.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah sesuatu yang ia kenali, dengan ironi pahit, dari pasien-pasiennya sendiri. Ia mulai merasa hampa. Kunjungan rumah yang dulu memberinya makna kini terasa seperti tugas yang harus dicoret dari daftar. Ketika Wulan menggendong bayinya dengan tangan yang dulu hampir mencelakai, Rani—yang dulu akan menangis diam-diam karena terharu—kini hanya mencatat 'kepatuhan baik, bonding membaik' dan beralih ke kasus berikutnya. Empati yang selama ini jadi kekuatannya menumpul, seperti pisau yang terlalu sering dipakai tanpa diasah. Ia mengenali tanda-tanda itu pada orang lain—kelelahan empati, keletihan jiwa yang menumpuk pada mereka yang terlalu lama merawat tanpa dirawat—tapi pada dirinya sendiri, ia menolak menyebutnya dengan nama itu. Saya cuma capek, katanya pada diri sendiri. Saya cuma butuh nyelesain laporan ini dulu.
Kolapsnya datang pada suatu Kamis pagi, di tengah kunjungan rumah.
Ia sedang menaiki tangga sempit menuju rumah keluarga baru ketika ruangan tiba-tiba berputar. Telinganya berdengung, pandangannya menggelap dari pinggir ke tengah, dan kakinya yang biasanya menapak mantap mendadak tak menopang. Yoga, yang mengikutinya, baru sempat memanggil namanya sebelum Rani merosot ke dinding dan terduduk di anak tangga, basah keringat dingin, jantungnya berdebar kacau.
"Mbak! Mbak Rani!"
Ia sadar—ia tak benar-benar pingsan—tapi tubuhnya menolak bangkit. Untuk pertama kali sejak ia bisa ingat, tubuhnya yang selalu ia paksa berfungsi, menolak perintah. Ia duduk di anak tangga itu, gemetar, dan menyadari dengan ngeri yang aneh bahwa ia tak punya tenaga bahkan untuk berdiri.
Yoga membawanya ke Puskesmas. dr. Pram memeriksanya—tekanan darah, gula, semua yang fisik—dan ketika semua angka kembali tanpa penyakit yang bisa ia tunjuk, dr. Pram duduk di hadapan Rani dengan ekspresi yang bukan ekspresi dokter pada pasien, tapi ekspresi seorang teman yang sudah lama menahan diri untuk tidak mengatakan ini.
"Nggak ada yang salah sama tubuhmu, Rani," katanya pelan. "Yang salah, kamu udah berbulan-bulan ngerjain tubuhmu sampai habis. Ini namanya burnout. Kelelahan empati. Kamu tahu istilahnya lebih baik dari saya—kamu yang ngajarin saya soal ini." Ia berhenti. "Kamu kolaps karena kamu nggak bisa lagi. Bukan nggak mau. Nggak bisa."
"Saya nggak bisa berhenti, Dok," Rani berbisik, dan suaranya pecah, kelelahan akhirnya menemukan celah keluar. "Ada Ratri yang baru mulai obat. Ada laporan provinsi minggu depan. Kalau saya berhenti, semuanya—"
"Semuanya nggak akan runtuh," potong dr. Pram tegas. "Itu pelajaran yang udah kamu mulai sejak awal program ini—kamu yang bilang program nggak boleh gantung di satu tubuh. Ingat? Kamu yang ngajarin Yoga megang kasus sendiri. Kamu yang ngerintis kader. Kamu yang bilang membagi beban berarti melepas kendali. Sekarang waktunya kamu percaya pada hal yang kamu ajarin orang lain." Ia menatap Rani lurus. "Kamu istirahat. Itu perintah dokter, dan kalau perlu saya tulis di rekam medis. Yoga dan Bu Inah yang jalanin tim. Mereka bisa. Kamu yang nggak ngasih mereka kesempatan buktiin selama ini."
Rani dibawa pulang sore itu, ke rumah ibunya, dan untuk pertama kali dalam berbulan ia berbaring di kamar tanpa laptop, tanpa laporan, tanpa daftar kunjungan. Ibunya menyelimutinya seperti ia masih anak kecil, dan Rani—yang selama ini selalu jadi yang merawat—membiarkan dirinya dirawat, canggung dan asing dengan rasanya.
Dalam kelelahan yang akhirnya boleh ia rasakan tanpa harus menahannya, Rani menatap langit-langit kamar dan menyadari sesuatu yang menohok hingga ke ulu hatinya, sesuatu yang membuatnya tertawa kecil dan pahit di tengah air mata.
Ia telah memperlakukan dirinya sendiri persis seperti keluarga-keluarga itu memperlakukan ODGJ yang mereka pasung. Memaksanya terus berfungsi—bekerja, melayani, menahan—tanpa pernah merawatnya. Mengabaikan tiap sinyal sakit, tiap permohonan istirahat, sampai tubuh itu kolaps. Ia telah merantai dirinya sendiri pada pekerjaan dengan rantai yang tak kalah kejam dari rantai di gudang Sutejo—rantai yang terbuat dari rasa bersalah Bagas, dari janji impulsif bahwa tak boleh ada yang mati lagi, dari keyakinan bahwa ia harus menyelamatkan semua orang sendirian.
Ia, yang menghabiskan hidupnya melepaskan pasung orang lain, ternyata adalah orang yang paling lama terpasung—dan yang paling tak mau mengakui rantainya sendiri. Dan berbaring di kamar masa kecilnya, dengan tubuh yang akhirnya memaksa berhenti, Rani menyadari bahwa sebelum ia bisa terus membebaskan orang lain, ia harus belajar—untuk pertama kali sejak Bagas mati—melepaskan dirinya sendiri.