Namanya Pak Kasto. Rani baru mendatanya dua minggu lalu—sebuah titik merah baru di pinggir Wuni Lor, laporan samar dari seorang tetangga tentang 'orang tua yang diikat di belakang rumah'. Lelaki tujuh puluhan, dipasung lebih dari sepuluh tahun oleh keponakannya yang merawatnya setengah hati setelah orang tua Pak Kasto meninggal. Saat Rani pertama melihatnya, ia tahu kasus ini berat: tubuh Pak Kasto sudah tinggal kulit membungkus tulang, kakinya yang dipasung berbusuk oleh luka tekan yang menahun, dan napasnya pendek-pendek dengan suara yang membuat insting klinis Rani langsung waspada.
Ia tidak menunggu. Hari itu juga ia mengatur rencana rujukan, kini dengan ambulans baru yang dijanjikan akan memudahkan segalanya. Ia membersihkan luka, memberi cairan, menjadwalkan pemeriksaan dr. Pram. Untuk pertama kali sejak ia memulai program ini, ia punya sumber daya untuk bertindak cepat. Ia merasa, untuk sesaat, bahwa ia berlomba dengan waktu dan kali ini punya kendaraan untuk menang.
Kabar itu datang lewat telepon, pukul setengah lima pagi, tiga hari kemudian. Keponakan Pak Kasto, suaranya panik dan bersalah, mengatakan pamannya tak sadarkan diri sejak tengah malam, napasnya makin berat, dan sekarang—ia berhenti, dan keheningan di telepon itu sudah memberi tahu Rani semuanya sebelum kata-katanya menyusul—sekarang sudah tidak bernapas lagi.
Rani datang dengan ambulans baru itu, ironi yang menusuk—kendaraan yang dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa, kini datang terlambat untuk membawa jenazah. Ia memeriksa Pak Kasto, tahu sebelum stetoskopnya menyentuh dada bahwa tak ada lagi yang bisa ia dengar. Tubuh tua itu terbaring di lantai kamar belakang, kaki masih dengan bekas pasung yang dalam, dan dr. Pram, yang menyusul kemudian, menyebutkan dengan suara pelan kemungkinan penyebabnya—komplikasi dari pasung bertahun: infeksi luka yang menyebar, tubuh yang sudah terlalu lemah, jantung yang menyerah. Hal-hal yang, jika ditemukan setahun lebih awal, atau dua tahun, mungkin masih bisa dilawan. Tapi Rani datang ketika tubuh itu sudah terlalu jauh dirusak oleh sepuluh tahun di kamar gelap.
Ia berdiri di kamar belakang itu, di antara bau yang ia kenal terlalu baik, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa bergerak. Karena yang ia lihat bukan hanya Pak Kasto.
Ia melihat Bagas.
Luka yang menahun, tubuh yang menyerah, kamar belakang yang gelap, keluarga yang panik dan terlambat menyadari bahwa yang mereka simpan dengan rantai bukan masalah, tapi nyawa. Semuanya kembali—pagi ketika ia masih remaja, ketika ia menemukan kakaknya tak lagi bernapas di tempat orang tuanya memasungnya 'demi keselamatan semua'. Sepuluh, lima belas tahun berlalu, dan di sini, di kamar yang berbeda, di tubuh yang berbeda, kematian yang sama datang dengan wajah yang sama.
Yoga, yang ikut datang, berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Ini kematian pertama yang ia hadapi langsung dalam program ini. Rani melihat anak muda itu gemetar, dan ketika Yoga bicara, suaranya tercekat. "Kita baru aja mau rujuk, Mbak. Tiga hari lagi. Tiga hari aja. Kenapa nggak nunggu..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya. "Saya kira sekarang kita punya ambulans. Saya kira sekarang kita bisa nyelametin semua."
Kalimat itu—'kita bisa nyelametin semua'—menusuk Rani lebih dalam dari yang Yoga sadari, karena itu kalimat yang dulu juga ia percayai, kalimat yang ia ucapkan pada dirinya sendiri di gudang Sutejo, janji impulsif bahwa tak boleh ada yang mati lagi. Janji yang kini, di kamar belakang ini, terbukti tak pernah bisa ia tepati.
Pemakaman digelar dua hari kemudian, sederhana, dihadiri sedikit orang. Pak Kasto, yang sepuluh tahun terakhir hidupnya dihabiskan di gelap dan dilupakan, dikuburkan dengan kecepatan orang yang ingin segera menutup aib. Rani datang, berdiri di belakang, dan Yoga di sampingnya, masih goyah. Bu Inah datang juga, menggenggam tangan Rani dengan kekuatan diam seorang perempuan tua yang sudah melihat terlalu banyak kematian.
Di tepi makam yang baru ditutup tanah merah, Rani bergulat dengan sesuatu yang sudah lama ia hindari. Sejak gudang Sutejo, ia membawa keyakinan bahwa jika ia bekerja cukup keras, cukup cepat, cukup lama, ia bisa mencegah setiap kematian—bisa menebus Bagas dengan tidak membiarkan seorang pun berakhir seperti kakaknya. Keyakinan itu adalah bahan bakarnya. Tapi keyakinan itu juga, ia mulai menyadari, adalah racun yang pelan-pelan menggerogotinya, karena ia membangun harga dirinya di atas hal yang mustahil: menyelamatkan semua orang.
Pak Kasto datang terlambat ke petanya. Bukan salah Rani—ia tak tahu rumah itu ada sampai dua minggu lalu, tak ada yang melaporkannya selama sepuluh tahun, sistem yang seharusnya menemukannya jauh lebih awal tak pernah ada. Tapi pengetahuan rasional itu tak meredakan apa pun. Karena luka Bagas tak pernah bicara dalam bahasa rasional.
"Mbak nggak salah," kata Bu Inah pelan di sampingnya, seolah membaca pikirannya. "Mbak nggak bisa nyelametin yang udah terlanjur jauh sebelum Mbak datang."
"Saya tahu," jawab Rani, dan suaranya tak meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.
Ia menatap gundukan tanah merah itu, dan untuk pertama kali ia memaksa dirinya memikirkan kebenaran yang selama ini ia tolak: bahwa ia tidak bisa menyelamatkan semua orang. Bahwa sebagian akan datang terlambat. Bahwa sebagian akan mati sebelum tangannya sampai, dan tak ada ambulans, tak ada dana, tak ada kerja keras yang bisa mengubah itu. Dan jika ia terus memikul tiap kematian sebagai kegagalannya sendiri, sebagai pengulangan Bagas, ia akan hancur jauh sebelum ia bisa menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.
Ia harus belajar berdamai dengan itu. Ia tahu itu. Tapi berdiri di tepi makam yang mengingatkannya pada makam kakaknya, dengan janji lama yang tak bisa ia tepati membebani dadanya, Rani menyadari bahwa berdamai dengan ketidakmampuan menyelamatkan semua orang mungkin adalah pasung terakhir yang harus ia lepaskan—dan itu pasung yang melingkari dirinya sendiri, yang sudah ia kenakan sejak ia masih remaja dan menemukan kakaknya tak bernapas, dan yang sampai hari ini belum berani ia lepas.