Rumah Bu Warti ada di ujung Wuni Tengah, di gang yang menyempit hingga motor pun harus dituntun. Dinding bata yang tak diplester, atap seng berkarat, dan halaman sempit tempat jemuran menggantung di antara genangan. Rumah orang yang bertahan hidup dari hari ke hari, tanpa cadangan untuk apa pun—termasuk untuk merawat anak yang sakit.
Bu Warti menyambut Rani pagi itu dengan gugup, berkali-kali mengelap tangannya ke kain di pinggang. "Saya udah bilang ke dia ada yang mau datang," katanya. "Tapi dia... dia nggak ngerti, Mbak. Kadang dia ngerti, kadang nggak."
Berbeda dari rumah Pak Darmin dulu—di mana keluarga Sutejo menolak melepas pasung, takut dan malu, harus dibujuk berbulan—di sini Rani tidak perlu membujuk siapa pun. Bu Warti telah menunggu kedatangan ini bertahun-tahun. Yang Rani hadapi bukan dinding penolakan, tapi keputusasaan murni seorang ibu yang sudah kehabisan segalanya.
Kamar belakang itu di balik dapur, pintu kayu dengan gembok di luar. Bu Warti membukanya dengan tangan gemetar, dan bau yang menyergap—pesing, apak, bau ruang tanpa cahaya—begitu Rani kenal hingga membuat dadanya tercekat. Di dalam, di atas tikar di sudut, duduk seorang perempuan muda. Ratri. Rambutnya panjang kusut, kulitnya pucat karena bertahun tak kena matahari, tubuhnya kurus dengan kaki yang—Rani melihatnya dan menahan napas—diikat dengan tali ke tiang kayu, bukan rantai besi, tapi tali yang sama kejamnya.
Ratri mengangkat wajah. Matanya menatap Rani dengan kewaspadaan binatang yang terlalu lama dikurung, tapi tanpa agresi—hanya kebingungan, ketakutan, dan jauh di dalamnya, sisa-sisa seseorang yang dulu pernah utuh.
"Halo, Ratri," kata Rani pelan, jongkok di ambang pintu agar tak terlihat mengancam, menjaga jarak. "Saya Rani. Saya perawat. Saya nggak akan nyakitin kamu."
Ratri tidak menjawab. Tapi ia juga tidak mundur ke sudut seperti yang Rani takutkan. Ia hanya menatap, lalu menggumam sesuatu yang tak jelas, lalu menatap ibunya.
Di belakang Rani, Bu Warti mulai bercerita, dan cerita itu mengalir seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah lima tahun. Ratri mulai berubah di usia sembilan belas—menarik diri, bicara sendiri, kadang ketakutan tanpa sebab, kadang marah-marah dan keluar rumah tengah malam tanpa tahu ke mana. Suaminya sudah lama pergi. Bu Warti bekerja sebagai buruh cuci dan pembantu, dari pagi sampai sore, di beberapa rumah. "Saya nggak bisa tinggalin dia di rumah, Mbak. Pernah saya tinggal, pulang-pulang dia hilang. Saya cari semalaman, ketemu dia di sawah, basah kuyup, nggak inget jalan pulang. Pernah dia hampir kena motor di jalan. Saya takut dia mati di luar, Mbak. Saya takut."
Ia terisak. "Tetangga ngeluh dia berisik malam-malam. Ada yang bilang dia kena guna-guna. Saya bawa ke orang pinter, habis uang banyak, nggak ada gunanya. Akhirnya saya... saya ikat dia. Biar dia di dalam aja pas saya kerja. Biar dia aman. Saya tahu itu salah, Mbak. Tiap pagi saya kunci pintu itu, hati saya hancur. Tapi saya harus kerja. Kalau saya nggak kerja, kami nggak makan. Saya nggak punya pilihan lain. Lima tahun saya nggak punya pilihan lain."
Rani mendengarkan, dan ia merasakan sesuatu yang berbeda dari kasus-kasus sebelumnya bergeser di dalam dirinya. Pada Sutejo, ada keluarga yang harus diyakinkan, stigma yang harus dilawan, kepercayaan kerasukan yang harus dibongkar pelan-pelan. Di sini, tidak ada yang perlu dibongkar. Bu Warti tahu anaknya sakit. Bu Warti ingin anaknya dirawat. Yang memasung Ratri bukan kebencian, bukan malu, bukan mitos—tapi kemiskinan murni dan ketiadaan pilihan. Seorang ibu tunggal yang harus memilih antara mencari nafkah dan menjaga anaknya, dan tak punya tangan ketiga untuk melakukan keduanya.
Kadang, Rani menyadari dengan getir, yang dilawan bukan stigma. Yang dilawan adalah lubang menganga di tempat seharusnya ada sistem—penitipan, pendampingan, layanan yang menjangkau rumah seperti ini sebelum seorang ibu terpaksa mengikat anaknya. Bu Warti bukan pelaku kejahatan. Bu Warti adalah korban dari ketiadaan yang sama yang menelan Bagas dulu.
"Bu Warti," kata Rani, berdiri dan menghadap perempuan itu. "Dengar saya. Apa yang Ibu lakuin selama ini, saya ngerti. Saya nggak di sini buat ngehakimi Ibu. Ibu bertahan sendirian lima tahun dengan beban yang harusnya ditanggung banyak orang. Itu bukan salah Ibu sendiri."
Air mata Bu Warti mengalir deras sekarang. "Jadi... jadi Ibu bisa bantu?"
"Ratri sakit, dan sakitnya bisa dirawat," kata Rani. "Dari yang Ibu ceritain, kemungkinan besar ini skizofrenia—penyakit, bukan guna-guna, bukan kerasukan. Ada obatnya. Ada caranya. Nggak akan langsung sembuh, dan saya nggak janji apa-apa yang muluk. Tapi dia nggak perlu lagi diikat. Sekarang program kami punya sumber daya yang dulu nggak ada—obat, rujukan, kader yang bisa nemenin pas Ibu kerja, Posyandu Jiwa tempat Ibu nggak sendirian lagi."
Bu Warti menatap Rani lama, dan dalam tatapan itu Rani melihat sesuatu retak dan runtuh—bukan keputusasaan yang selama ini menopangnya, tapi pertahanan yang ia bangun untuk bertahan. Lima tahun beban yang ia pikul sendiri, dan akhirnya, untuk pertama kali, ada tangan lain yang menawarkan ikut memikul.
Lalu Bu Warti melakukan sesuatu yang membuat Rani harus menahan diri agar tidak ikut menangis. Ia merogoh kantong di pinggangnya, mengeluarkan sebuah kunci kecil berkarat—kunci gembok pintu kamar belakang—dan dengan tangan gemetar, ia menyerahkannya ke telapak Rani. Bukan menyimpannya. Bukan menggenggamnya erat seperti rahasia. Tapi menyerahkannya, sepenuhnya, dengan kelegaan seseorang yang akhirnya boleh meletakkan beban yang nyaris membunuhnya.
"Bawa, Mbak," katanya, suaranya hancur oleh tangis dan lega yang bercampur. "Saya nggak kuat lagi nahan dia sendirian. Lima tahun saya jadi sipirnya anak saya sendiri. Saya nggak mau lagi. Tolong... tolong bantu saya jadi ibunya lagi."
Rani menggenggam kunci kecil yang masih hangat oleh tangan Bu Warti, kunci yang selama lima tahun mengunci dan kini menyerah, dan ia tahu bahwa kadang pembebasan tidak datang dengan perlawanan dramatis terhadap penindas—kadang ia datang lewat seorang ibu miskin yang menyerahkan kunci sambil menangis, memohon bukan untuk melepaskan tanggung jawab, tapi untuk akhirnya boleh mencintai anaknya tanpa harus juga memenjarakannya.