Pujian itu, ternyata, lebih berat dari hinaan.
Tiga hari setelah kunjungan, ruang konseling Puskesmas yang biasanya sepi mendadak ramai. Pak Hardi datang membawa map plastik dan seorang pemuda yang ia kenalkan sebagai keponakannya, lulusan komputer, yang katanya akan membantu mendokumentasikan program. Ia duduk di kursi Rani—kursi tempat Rani biasa menulis catatan asuhan—dan menebar senyum yang lebar dan baru.
"Mbak Rani," katanya, "kemarin itu bagus sekali. Asisten Bupati senang. Kabupaten mau angkat kita jadi percontohan. Ini kesempatan emas buat Tanjung Wuni."
Rani menunggu. Ia sudah cukup lama mengenal lelaki ini untuk tahu bahwa kata kita dari mulutnya jarang berarti benar-benar kita.
"Jadi begini," lanjut Pak Hardi, membuka map. "Saya pikir program ini perlu ditata lebih rapi. Lebih kelihatan. Saya mau kita bikin acara besar bulan depan—deklarasi, undang wartawan, undang Pak Camat. Pasien-pasien yang sudah pulih kita tampilkan, dikasih baju seragam, foto bareng. Bagus buat publikasi. Nanti keponakan saya yang urus."
Rani meletakkan penanya. "Pak, pasien-pasien itu bukan piala."
Senyum Pak Hardi tak goyah. "Saya nggak bilang piala. Saya bilang prestasi. Beda, Mbak."
"Sama saja kalau yang Bapak pikirkan cuma fotonya." Rani menjaga suaranya tetap rata, meski di dadanya sesuatu menanjak. "Sutejo kemarin bisa berdiri karena obatnya stabil dan dia siap. Kalau dia dipaksa berdiri di depan wartawan, lampu, kerumunan, dia bisa kambuh. Wulan baru pulang dari RSJ, masih rapuh. Mereka bukan dekorasi acara."
Untuk sekejap, senyum itu retak. Lalu Pak Hardi menyandarkan punggung, dan nada bicaranya berubah—lebih pelan, lebih dingin, lebih jujur. "Mbak Rani. Saya hargai kerja Mbak. Sungguh. Tapi mari kita realistis. Program ini bisa jalan karena ada izin saya. Karena warga mau buka pintu karena saya yang minta. Karena nama dusun ini yang dipertaruhkan. Tanpa dukungan saya, Mbak nggak akan bisa masuk satu rumah pun."
Ia berhenti, membiarkan kalimat itu mengendap.
"Sekarang ini program saya juga, Mbak."
Rani menatapnya. Di luar jendela, Yoga lewat membawa kotak obat, tak sadar apa yang sedang terjadi di dalam. Rani teringat lelaki yang sama, beberapa minggu lalu, mengancamnya agar tidak mempermalukan dusun di depan pejabat. Lelaki yang menekan keluarga agar memasung anggota mereka kembali demi satu hari yang bersih. Dan kini lelaki itu duduk di kursinya, mengklaim hasil dari kerja yang dulu ia halangi.
Ia ingin marah. Bagian dalam dirinya, yang membawa Bagas, ingin mengusir lelaki ini keluar. Tapi Rani sudah cukup lama bekerja di sistem ini untuk tahu bahwa kemarahan adalah kemewahan yang tak ia mampu beli. Pak Hardi tidak salah soal satu hal: warga membuka pintu sebagian karena restu kepala dusun. Dan dana provinsi yang dijanjikan—kalau itu benar-benar datang—akan butuh tanda tangan, butuh komitmen desa, butuh nama yang dikenal birokrasi. Nama Pak Hardi.
Maka Rani memilih jalan yang lebih sulit dari kemarahan. Ia memilih bernegosiasi.
"Bapak boleh ada di acara," katanya pelan. "Boleh disebut sebagai penggerak desa. Saya nggak keberatan nama Bapak tercatat. Tapi keputusan soal siapa yang tampil, kapan, dan bagaimana—itu di tangan tim medis. Saya dan dr. Pram. Karena kalau salah satu pasien kambuh di depan wartawan gara-gara dipaksa, yang malu bukan cuma dusun. Yang hancur adalah kepercayaan yang kita bangun bertahun. Dan itu nggak bisa dibeli lagi dengan acara apa pun."
Pak Hardi mengamatinya, mengukur, mencari celah. Rani membiarkannya. Ia tahu lelaki ini cukup pintar untuk melihat bahwa sebuah acara yang berakhir kacau akan lebih merusak namanya daripada tak ada acara sama sekali.
"Saya pikir-pikir dulu," kata Pak Hardi akhirnya, menutup mapnya. Ia berdiri dari kursi Rani. "Tapi inget, Mbak. Pejabat sudah tau program ini. Mereka bakal nanyain hasil. Kalau hasilnya nggak kelihatan, yang ditanya pertama saya, terus saya tanya Mbak. Jadi kita ini sekarang seperahu."
Ia keluar, keponakannya mengekor. Rani duduk di kursinya yang masih hangat oleh tubuh lelaki itu, dan menatap peta tripleks di dinding.
Bu Inah, yang sedari tadi menunggu di luar dengan dua bungkus obat untuk antaran, masuk dan langsung membaca wajah Rani. "Pak Hardi?"
Rani mengangguk.
Bu Inah duduk di hadapannya, meletakkan obat di meja. Perempuan tua itu sudah hidup di Tanjung Wuni jauh lebih lama dari Rani, sudah melihat lebih banyak kepala dusun datang dan pergi. "Mbak," katanya, suaranya hati-hati, "hati-hati. Dulu waktu Mbak baru mulai, dia yang paling keras nyuruh kita jangan ribut, jangan buka aib. Dia yang bilang orang-orang itu mending dikurung aja. Sekarang setelah dipuji pejabat, dia mau pegang kuncinya."
Bu Inah memungut salah satu bungkus obat, memutarnya pelan di tangannya yang keriput.
"Orang yang dulu paling pengin masang rantai," katanya, "sekarang yang paling pengin megang kunci."
Rani memandang peta. Titik-titik biru di antara merah. Wajah-wajah yang ia kenal di balik tiap titik—Sutejo, Wulan, Topan, Mbah Ginem. Ia datang ke kampung ini untuk melepaskan rantai. Ia tak menyangka bahwa kemenangan pertama yang terlihat justru melahirkan pertarungan yang lebih halus: bukan lagi melawan orang yang ingin mengikat, tapi melawan orang yang ingin memiliki kunci pembebasan demi dirinya sendiri. Dan Rani tahu, pertarungan yang halus selalu lebih panjang daripada yang frontal.