Pagi itu Tanjung Wuni dicat ulang. Bukan rumah-rumahnya, tapi wajahnya. Pak Hardi sudah berdiri di mulut jalan dusun sejak subuh, mengatur warga memasang umbul-umbul, menyapu got, menyingkirkan gerobak sampah ke gang belakang agar tak terlihat dari rute yang akan dilewati rombongan kabupaten. Spanduk merah membentang di atas pertigaan: SELAMAT DATANG BAPAK ASISTEN BUPATI DI KAMPUNG TERTIB DAN BERSIH. Rani membacanya dua kali. Kata tertib itu menggantung seperti ancaman yang sudah lama ia kenal.
Ia tahu apa yang Pak Hardi maksud dengan tertib. Selama dua minggu lelaki itu mendatangi rumah-rumah yang ada titik merahnya di peta, menekan keluarga agar tak membiarkan anggota mereka kelihatan hari ini. Kunci kamar, gudang, jangan ada yang berkeliaran, jangan ada yang bikin malu di depan pejabat. Pasung yang sudah dilepas diam-diam disuruh dikembalikan untuk satu hari saja, satu hari yang aman. Itu logika yang membuat perut Rani mengeras: menyembunyikan luka supaya kampung terlihat sehat.
Maka Rani memilih melawan dengan cara yang tak terduga Pak Hardi. Ia tidak menyembunyikan siapa pun. Ia menampilkan mereka.
Di halaman Puskesmas, di bawah tenda yang biasanya dipakai imunisasi, Rani dan dr. Pram menyiapkan meja kecil. Sebuah papan tripleks—peta titik merah yang sudah ia ubah, beberapa titik kini ditempel kertas biru—dipasang menghadap jalan masuk. Bukan untuk menakuti. Untuk menjelaskan. Di samping meja, kursi-kursi plastik ditata. Bu Surti duduk di salah satunya, mengenakan kebaya lusuh terbaiknya, tangannya tak berhenti meremas saputangan. Di sebelahnya, dengan kemeja yang Yoga pinjamkan, rambut disisir basah, duduk Sutejo.
Rani sempat ragu sampai detik terakhir. Membawa Sutejo ke keramaian adalah risiko klinis—stres, kerumunan, suara, semua bisa memicu. Tapi suntikan depot terakhir menahannya stabil, dan pagi tadi Sutejo, ketika Rani bertanya pelan apakah ia mau ikut, menjawab dengan kalimat yang membuat Rani hampir menangis. Saya mau orang lihat saya pakai baju, Mbak. Bukan rantai.
Rombongan datang pukul sepuluh, terlambat dari jadwal, dengan tiga mobil dan debu yang mengepul di belakangnya. Asisten Bupati turun—lelaki paruh baya berbatik, dikelilingi staf dengan map dan kamera. Pak Hardi langsung menyongsong, membungkuk berlebihan, menggiring rombongan menyusuri rute yang sudah ia siapkan: balai dusun yang dicat, jalan setapak yang disapu, sekelompok ibu PKK yang berdiri menyambut dengan jajanan. Rani menunggu di tendanya, tak ikut berebut.
Dan justru karena ia tak berebut, Asisten Bupati melihatnya.
Mata pejabat itu jatuh ke peta tripleks, ke titik-titik biru di antara merah, ke tulisan tangan Rani: PROGRAM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT — PENDATAAN DAN PEMBEBASAN PASUNG TANJUNG WUNI. Ia berhenti. Pak Hardi, yang sudah hendak menariknya ke arah lain, terpaksa ikut berhenti, wajahnya berubah.
"Ini apa?" tanya Asisten Bupati, menunjuk peta.
dr. Pram melangkah maju sebelum Pak Hardi sempat bicara. "Ini program keswa kami, Pak. Yang memimpin perawat kami, Mbak Rani." Suaranya tenang, terukur—suara seorang yang tahu cara bicara pada birokrasi. "Selama ini data ODGJ dipasung di kecamatan kami cuma tiga, empat. Setelah didata ulang rumah ke rumah, ternyata belasan. Kami sudah membebaskan dan merawat sebagian."
Asisten Bupati menoleh ke Rani. "Belasan? Di satu kecamatan?"
"Belasan yang sudah terdata, Pak," jawab Rani. "Mungkin masih ada yang belum."
Ia melihat sesuatu bergerak di wajah pejabat itu—bukan jijik, bukan panik seperti Pak Hardi, melainkan perhitungan. Lelaki ini, Rani sadar, sedang menghitung apa yang bisa ia bawa pulang ke kabupaten. Angka yang bisa dipakai. Cerita yang bisa diceritakan.
"Boleh saya kenalkan," kata Rani, dan ia menarik napas, mempertaruhkan segalanya. Ia menoleh ke kursi plastik. "Pak Sutejo. Empat tahun lalu beliau dipasung di gudang rumahnya, disangka kerasukan. Sekarang sudah dilepas, dapat suntikan sebulan sekali, dan sudah bisa jalan sendiri."
Sutejo berdiri. Lambat, kakinya yang dulu lumpuh masih sedikit kaku, tapi ia berdiri tanpa dipapah. Ia tidak menatap pejabat itu. Ia menatap tanah, lalu mengangkat wajah sebentar, lalu menunduk lagi. Tapi ia berdiri, mengenakan kemeja, di tengah orang banyak, di kampung yang dulu menyebutnya orang gila.
Seluruh tenda hening. Rani mendengar napasnya sendiri.
Asisten Bupati menatap Sutejo lama. Lalu, di luar dugaan siapa pun, ia melangkah maju dan mengulurkan tangan. "Pak Sutejo," katanya. "Senang bertemu Bapak."
Sutejo memandang tangan itu seolah benda asing. Rani menahan napas. Lalu, perlahan, Sutejo mengangkat tangannya yang masih bekas luka pasung di pergelangan, dan menjabat.
Kamera menyala. Staf mencatat. Asisten Bupati berbalik ke arah stafnya dan berkata dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar semua, "Ini yang harus kita angkat. Ini prestasi. Catat program ini, saya mau laporan lengkapnya sampai ke meja Bupati. Kalau perlu kita jadikan ini contoh untuk kecamatan lain." Ia menoleh ke Rani. "Kerja bagus, Mbak. Kabupaten akan perhatikan ini. Saya janji."
Kata janji itu, Rani tahu, bisa berarti apa saja. Tapi untuk sekarang, di bawah tenda yang panas dan penuh debu, ia membiarkan dirinya merasakan kelegaan yang langka.
Lalu matanya jatuh pada Pak Hardi.
Kepala dusun itu berdiri di tepi kerumunan, senyumnya tertinggal di wajahnya seperti pakaian yang tak lagi muat. Ia datang membawa rencana untuk memamerkan kampung yang bersih dari aib, dan kini aib itulah yang dipuji pejabat, di panggung yang ia siapkan, oleh program yang selama ini ia tekan. Rani melihat lelaki itu menghitung dengan cepat, raut wajahnya berpindah dari malu ke sesuatu yang lebih licin. Dan ketika mata mereka bertemu sejenak, Rani membaca dengan jelas apa yang sedang lahir di kepala Pak Hardi—bukan kekalahan, melainkan rencana baru. Sebuah panggung yang baru saja terbukti berharga, dan yang kini ia inginkan untuk dirinya sendiri.