Awalnya hampir tak terlihat. Itu yang membuat Rani terlambat menyadarinya.
Wulan sudah sebulan pulang dari RSJ provinsi. Setiap kunjungan, Rani menemukannya tampak baik—wajahnya tenang, ia bisa menggendong bayinya, ia menjawab pertanyaan dengan kalimat yang masuk akal. Resume medisnya jelas: psikosis pascapersalinan, rawat jalan, risperidon dua miligram pagi dan malam, risiko relaps tinggi. Rani menulis dosis itu di buku saku keluarga, menjelaskan pada Mas Bayu kapan obat diminum, dan menitipkan tanggung jawab di tangan suami yang ketakutan tapi penuh cinta itu.
Yang Rani tak lihat adalah dapur belakang, tempat ibu mertua Wulan—Bu Marni—diam-diam memegang kendali sebenarnya atas rumah itu.
Rani baru menyusunnya jadi gambaran utuh ketika ia datang berkunjung di hari yang seharusnya rutin, dan menemukan Wulan duduk di sudut kamar, tidak menggendong bayinya. Bayi itu di pangkuan Bu Marni di ruang depan. Wulan menatap dinding. Ketika Rani menyapanya, ia menoleh terlambat, seolah suara Rani datang dari jauh.
"Wulan," Rani duduk di hadapannya, hati-hati. "Apa kabar hari ini?"
Wulan tersenyum, tapi senyumnya tak sampai ke matanya. "Baik, Mbak."
"Tidurnya gimana?"
Jeda yang terlalu lama. "Susah. Berisik."
Rani merasakan dingin merambat di tengkuknya. Itu kata yang ia kenal. Berisik. "Berisik apa, Wulan?"
Wulan tidak menjawab. Tapi matanya bergerak sedikit ke sudut langit-langit, ke tempat yang kosong, dan Rani melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya waspada—Wulan sedang mendengarkan sesuatu yang tak ada di ruangan itu.
Rani keluar, mencari Bu Marni. Ia menemukannya di dapur, dan ia menanyakan pertanyaan yang sudah ia takutkan jawabannya. "Bu, Wulan masih minum obat?"
Bu Marni meletakkan ulekan. Wajahnya mengeras, defensif, tapi juga—Rani melihatnya—yakin akan kebenaran dirinya sendiri. "Mbak, anak itu sudah baik. Sudah sebulan tenang. Buat apa terus-terusan minum obat? Obat itu bikin dia lemot, ngantuk, nggak bisa kerja. Bapaknya bilang di kampung sebelah ada yang sembuh total habis diruwat, nggak pakai obat. Saya cuma mau menantu saya pulih, bukan jadi pemalas gara-gara obat."
"Sejak kapan obatnya berhenti, Bu?"
Bu Marni menggumam. "Ya... seminggu. Dua minggu. Saya lupa."
Dua minggu. Rani menutup mata sebentar. Risperidon bukan obat yang efeknya hilang dalam sehari, tapi dua minggu sudah cukup untuk kadar obat turun, untuk waham menyelinap kembali, untuk suara-suara yang dulu menyuruh Wulan menyakiti bayinya mulai berbisik lagi dari sudut langit-langit. Dan yang membuat Rani paling takut bukan sekadar relaps. Yang membuatnya takut adalah bahwa relaps Wulan pernah hampir berakhir dengan tangan ibu di leher anaknya.
"Bu," kata Rani, dan ia berusaha keras menjaga suaranya agar tidak menuduh, karena menuduh akan menutup pintu. "Saya ngerti Ibu sayang sama Wulan dan cucu Ibu. Saya tahu Ibu cuma mau yang terbaik. Tapi penyakit yang Wulan punya itu bukan seperti pilek yang sembuh terus selesai. Ini seperti tekanan darah tinggi—kelihatan baik bukan berarti sudah sembuh. Begitu obatnya berhenti, sakitnya balik. Dan kalau balik..."
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia tak perlu. Bu Marni tahu apa yang hampir terjadi malam itu, beberapa bulan lalu.
Wajah perempuan tua itu goyah sedikit. Tapi keyakinan tak mudah retak. "Tapi dia kelihatan baik, Mbak."
"Justru karena obatnya yang bikin dia baik, Bu. Bukan karena penyakitnya hilang."
Saat itulah terdengar suara dari ruang depan. Bukan teriakan. Lebih buruk dari teriakan—suara Wulan, datar dan pelan, berbicara pada seseorang yang tak ada. "Iya. Iya, saya dengar. Dia nangis terus karena... karena saya yang salah. Dia tahu."
Rani bergegas ke ruang depan. Wulan berdiri sekarang, menatap bayinya di pangkuan Bu Marni dengan ekspresi yang membuat darah Rani membeku—bukan benci, melainkan keyakinan yang menyiksa, seolah ia mendengar tuduhan yang hanya ia yang bisa dengar. Bu Marni, yang baru saja menyusul dari dapur, memeluk bayi itu lebih erat, dan untuk pertama kali wajahnya bukan defensif lagi. Wajahnya ketakutan.
"Wulan," Rani memanggil pelan, melangkah perlahan, tangan terbuka. "Lihat saya. Suara yang kamu dengar itu nggak benar. Itu sakitnya yang ngomong, bukan kenyataan. Bayimu sehat. Kamu nggak salah apa-apa."
Wulan menoleh padanya, matanya basah dan jauh. "Mbak... mereka bilang saya harus..."
"Saya tahu. Tapi kita lawan bareng-bareng. Kamu nggak sendirian dengar suara itu sekarang."
Di tengah ketegangan itu, pintu rumah terbuka. Mas Bayu pulang dari kerja, dan dalam sekejap ia menangkap seluruh adegan—istrinya yang menatap kosong, ibunya yang memeluk bayi dengan gemetar, Rani yang berdiri di tengah dengan tangan terbuka. Wajahnya runtuh seketika. Ia tahu, tanpa diberitahu, apa yang sedang terjadi. Ia sudah pernah melihatnya.
Mas Bayu menjatuhkan tas kerjanya. Ia melangkah ke arah Rani, dan suaranya pecah, hampir tak terdengar, permohonan seorang lelaki yang sudah kehabisan tempat untuk berpaling.
"Mbak," katanya. "Saya nggak mau dia dikunci lagi. Tolong, Mbak. Apa pun caranya. Saya nggak mau dia dikunci lagi."