Rani tidak mencabut paku itu pagi itu.
Naluri pertamanya berteriak menyuruh sebaliknya—ambil obeng, congkel balok, lepaskan kaki yang menganga merah itu sekarang juga, dan jika perlu, lawan siapa pun yang menghalangi. Tangannya bahkan sudah bergerak ke tas. Tapi ia menahannya. Ia sudah cukup lama di pekerjaan ini untuk tahu bahwa kemarahan yang menang di pagi hari adalah pintu yang terkunci di sore hari. Jika ia melepas paksa lalu memarahi Pak Darmin dan Bu Surti, mempermalukan mereka di depan tetangga yang sudah mengintip dari pagar, maka besok ketika Sutejo butuh disuntik, butuh dirawat, butuh seseorang yang dipercaya keluarga ini—pintu rumah itu akan tertutup, dan ia takkan pernah dibukakan lagi.
Maka yang ia lakukan pertama bukan melawan rantai. Ia berlutut, membuka tasnya, dan merawat luka.
"Saya bersihin dulu ya, Pak," katanya pada Sutejo, suaranya pelan dan rata seperti hari pertama. "Mungkin perih. Saya pelan-pelan."
Luka melingkar di pergelangan kaki itu lebih buruk dari minggu-minggu lalu—jepitan kayu baru telah merobek kulit yang baru saja mulai menyatu, dan di tepinya ada nanah kekuningan, tanda infeksi yang kembali. Rani membersihkannya dengan cairan, menutupnya dengan kasa, dan sepanjang itu ia memberitahu apa yang akan ia lakukan, kalimat demi kalimat, seolah dengan menamai tiap gerakan ia mengembalikan sedikit kendali pada tubuh yang telah dirampas kendalinya. Sutejo tidak menarik kakinya. Ia juga tidak menatap Rani. Matanya tetap di titik jauh di lantai, di tempat yang sama sebelum semua ini—tempat orang pergi ketika percaya terlalu mahal.
Ketika luka selesai dibalut, barulah Rani naik ke teras, tempat Pak Darmin dan Bu Surti duduk seperti dua orang yang menunggu hukuman. Bu Surti tak berani menatapnya. Pak Darmin memandang lantai, tangannya yang dulu memaku balok itu kini meremas-remas ujung sarung.
Rani duduk di hadapan mereka. Ia tidak meninggikan suara. Ia tidak berkata satu kata pun tentang janji, tentang minggu-minggu kerja, tentang kaki yang sudah hampir bisa menapak dua langkah. Sebaliknya, ia mengucapkan kalimat yang paling sulit dari semua kalimat di pekerjaan ini—kalimat yang membuat dr. Pram dan setiap pelatihan supervisi akan menggeleng.
"Maaf, Pak, Bu. Saya nggak ada semalam."
Bu Surti mengangkat wajah, terkejut. Ia sudah menyiapkan pembelaan, sudah menyiapkan rasa bersalah, dan sekarang perawat yang seharusnya marah itu malah meminta maaf lebih dulu.
"Saya ada di tempat lain, nyelametin orang lain," lanjut Rani. "Pas Tejo butuh, telepon saya nggak keangkat. Bukan salah Bapak sama Ibu. Bapak sama Ibu panik, nggak ada yang bantu, dan Bapak-Ibu pilih satu-satunya cara yang Bapak-Ibu tahu buat melindungi semua orang. Saya ngerti." Ia menelan sesuatu yang naik ke tenggorokan. "Yang salah itu sistemnya. Termasuk saya, yang ngebiarin Bapak-Ibu cuma punya satu nomor buat dihubungi—nomor saya—yang bisa mati kapan saja."
Pak Darmin menangis tanpa suara, bahunya berguncang. "Saya nggak mau masang kayu itu lagi, Mbak. Demi Allah saya nggak mau. Tapi dia ngamuk, mecahin barang, dan adiknya yang dari Surabaya kebetulan pulang, takut. Saya... saya cuma punya kayu itu. Cuma itu yang saya punya."
Dan di situlah kebenaran pahit yang Rani bawa pulang berbulan-bulan ini, telanjang di teras: keluarga ini bukan jahat. Mereka cuma punya kayu. Selama bertahun, kayu adalah satu-satunya teknologi yang kampung ini berikan pada mereka untuk menghadapi krisis jiwa—bukan nomor darurat, bukan obat cadangan, bukan tetangga yang dilatih menenangkan, bukan mobil yang bisa datang. Hanya balok dan paku dan rasa malu.
Maka Rani tak menghabiskan pagi itu mencabut paku. Ia menghabiskannya membangun sesuatu yang lebih sulit dicabut: sebuah rencana. Ia mengeluarkan buku catatan, dan bersama Pak Darmin dan Bu Surti, ia menulis—dengan huruf besar agar Bu Surti yang rabun bisa baca—daftar nomor yang bisa dihubungi selain dirinya: nomor Yoga, nomor Bu Inah, nomor Puskesmas. Lalu langkah-langkah saat Sutejo gelisah: jauhkan benda tajam, jangan kerumuni, jangan teriak, bicara pelan, beri air, telepon berurutan dari atas ke bawah. Dan satu kalimat yang ia tulis paling besar, paling akhir: Kayu bukan jalan keluar. Kalau panik, telepon. Selalu ada yang angkat.
Kesepakatan baru lahir, dan kali ini Rani tak menjanjikan apa pun yang ia tak bisa tepati. Kayu dilepas lagi—tapi dengan jaring di bawahnya, bukan hanya janji. Yoga datang sore itu membawa obeng, dan untuk kedua kalinya paku-paku itu dicabut, satu demi satu, dari kaki yang sama.
Ketika balok terakhir terangkat dan kaki Sutejo kembali bebas, lelaki itu tidak bergerak. Ia memandang pergelangannya yang berbalut kasa baru, lalu memandang Rani yang berlutut di sampingnya, dan untuk waktu yang lama tak terjadi apa-apa. Rani tak memaksa. Ia hanya menunggu, seperti dulu, hal yang tak bisa diburu.
Lalu, sangat lirih, dari mulut yang sudah seharian bungkam, keluar satu kata. Bukan tuntutan, bukan tuduhan. Hanya namanya.
"Rani."
Satu kata, di gudang yang sama yang dua hari lalu telah merebut kembali segalanya darinya. Dan Rani mengerti, dalam kata itu, ada sesuatu yang ia tak berhak terima namun tetap diberikan—semacam maaf yang tak ia minta, dari seseorang yang seharusnya marah padanya. Ia menunduk agar Sutejo tak melihat matanya basah, dan menjawab dengan suara yang ia jaga agar tetap tenang.
"Iya, Pak Tejo. Saya di sini."