Livia mengalami mimpi panjang yang menyakitkan. Membuat dia berteriak kesakitan setiap kali penyiksaan itu dilakukan oleh ayahnya, adiknya Valery dan bahkan tunangannya Pangeran Antony.
Ketika kesadarannya Kembali, Seseorang sedang memberi semangkuk cairan di mulutnya.
Bagaimana mungkin? Bukankah dia sudah meninggal?
Livia membuka matanya dan melihat pelayannya bernama Zhilan, berdiri menghalangi Cahaya matahari untuknya. Livia menampar dirinya sendiri dengan keras dan merasa kesakitan.
“Nona, apa Anda baik-baik saja?” Mata Zhilan dipenuhi kekhawatiran.
“Pelayan rendahan, minggir kamu! Untuk apa kamu menyelamatkannya? Biarkan dia mati dan membusuk di penjara bawah tanah!” Suara ayahnya terdengar di belakang mereka.
“Nona, aku diam-diam menerobos penjara dan membawamu Kembali ke kamar. Dan Duke ternyata mengetahui ini.” Jelasnya sambil menahan air mata.
Mata Livia bergetar, merasa kejadian ini sedikit familiar. Namun sepertinya itu tidak mungkin. Dia baru saja bangun dari koma, kapan seharusnya dia melihat ini?
“Anak durhaka, kau masih hidup membawa aib!” Ayahnya Dimitri masih meraung dan hendak memukul dengan tongkatnya lagi, yang tetap saja masih di halangi oleh Zhilan.
“Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!” Livia tiba-tiba berdiri dan dan menyadari bahwa semua luka akibat gigitan harimau di lengan dan kakinya telah pulih, hanya meninggalkan sedikit bekas.
Jantungnya berdebar kencang! Siapa pria yang menyelamatkannya dengan posesif itu!
Sehari yang lalu saat dia masih koma, Valery sengaja jatuh ke air dan menuduhnya. semua orang mengira dialah yang mendorongnya. Ayahnya yang bodoh mengira dia berpura-pura sakit untuk menutupi alibi dan hari ini datang ingin memukulinya habis-habisan. Zhilan bahkan sudah dipenuhi luka untuk melindunginya.
Dimitri datang hari ini juga meminta gingseng berusia ratusan tahun hadiah dari kakeknya. Dulu dia akan memberikan apapun yang di minta ayahnya tanpa fikir panjang. Namun balasannya adalah di buang ke penjara bawah tanah untuk makanan harimau.
Mata Livia memerah sesaat. Ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat Dimitri dengan tatapan tajam.
“Aku tidak mendorong Valery. Aku baru saja sadar dari koma.”
“Omong kosong! Valery bilang kau mendorongnya kemarin. Kenapa kau berbohong lagi? Livia, kau benar-benar jahat. Sekarang karena jatuh ke air, dia demam tinggi!” Dimitri sangat marah hingga ingin terus memukul Livia.
Valery keluar dengan rambut acak-acakan dan menghalangi jalan ayahnya. Wajah kecilnya pucat pasi.
“Ayah, Kakak tidak sengaja. Aku hanya sedang kurang sehat jadi sedikit pusing... ”
“Val, kamu masih demam, Kembali ke kamarmu dan istirahatlah. Ayah akan minta gingseng pusaka itu padanya!” Dimitri dengan cepat membuang tongkatnya dan mengambil jubah untuk membantu Valery memakainya. Melihat putri kesayangannya begitu menyedihkan, dia merasa seolah hatinya telah dicabik-cabik.
Livia menatap Valery yang munafik itu, dan sudut bibirnya sedikit melengkung. Di halaman tempat tinggal Livia ada sebuah kolam ikan kecil peninggalan ibunya. Dia menarik Valery dan mendorongnya ke danau.
“Valery!” seru Dimitri .
Dia segera melompat ke dalam air dengan panik dan menyelamatkannya. Kemudian, dia berbalik dan bergegas ke arah Livia, mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi ke udara.
“Dasar anak durhaka, kau begitu kejam hingga menyakiti adikmu sendiri di depanku!” Livia menghindar dan tidak membiarkan pria itu menyentuhnya. Sebaliknya, dia berkata tanpa ekspresi,
"Bukankah dia bilang aku yang mendorongnya? Nah sekarang aku sudah melakukan apa yang dia tuduhkan." Dia telah berlatih seni bela diri sejak muda di perbatasan untuk memperkuat tubuhnya yang lemah karena terpapar racun dan sebenarnya memiliki kepribadian yang kuat.
Hanya saja kebutaannya akan kasih sayang keluarga membuatnya selama ini lebih sering mengalah.
Di mata orang luar, dia selalu menjadi yang kuat dan Valery adalah yang lemah. Setiap kali Valery sakit atau sesuatu terjadi padanya, itu semua karena perbuatan Livia. Ketika Dimitri melihat Valery menggigil kedinginan, dia mulai memarahi dan hendak memukulnya.
Pada awal kembali ke rumah ini dua tahun lalu, Untuk mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang ayahnya dan adiknya, dia berkali-kali dijebak Valery dan dihina oleh orang lain. Dulu dia fikir itu karena Valery suka bercanda.
Ketika Zhilan melihat Livia yang gagah berani, yang tidak lagi rendah hati dan mengemis, hatinya sangat terkejut. Seolah-olah majikannya telah berubah menjadi orang lain!
“Kakak, aku tahu aku salah. Aku tidak akan berani mengganggumu lagi. Aku sedang sakit sekarang, tolong jangan hukum aku sekarang!” Valery sebenarnya dilindungi dengan baik oleh para pelayan, tetapi ada dua garis air mata di wajahnya seolah-olah Livia telah menindasnya.
Namun, dalam hati ia sudah menggerutu. Livia, yang biasanya selalu mendengarkan setiap kata-katanya dan tidak berani berkata apa pun meskipun ia diperlakukan tidak adil, ada apa dengannya hari ini?
Beraninya Perempuan sialan ini mendorongnya ke dalam air di depan ayahnya!
Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya marah. Ia menangis di depan Dimitri dengan lebih lemah, berpura-pura disakiti.
“Ayah, jangan salahkan kakak. Dia juga ingin Ayah lebih menyayanginya. Ini salahku karena ayah selalu memarahinya. Ayah tolong jangan pilih kasih, jika tidak, kakak akan terus marah padaku!” aktingnya benar-benar bagus.
“Siapa yang ingin punya anak memalukan seperti ini? Bodoh, liar dan cemburu buta. Semua sifat buruk Perempuan ada di kepalanya.”
Dimitri memegang tangan Valery dengan lembut dan berteriak marah pada Livia, .
“Cepat minta maaf pada adikmu! Kau akan dihukum berendam di danau selama dua jam. Sebelum waktunya habis, kau tidak boleh keluar! Kalau tidak, aku akan mematahkan kakimu!”