Dia tau ayahnya selalu pilih kasih. Dia tau ayah selalu menganggapnya bodoh dan memalukan, tapi dia tidak menyangka bahwa ayah akan sebenci itu padanya. Meleparnya ke penjara bawah tanah itu adalah hal yang paling kejam.
Di penjara itu terdapat sebuah harimau, yang disiapkan khusus untuk menghukum para pelayan yang berkhianat. Semua orang yang di jatuhi hukuman itu sudah pasti akan mati di mangsa hewan buas itu.
Livia bisa mengerti jika ayahnya tega menghukum pelayan sekejam itu, namun yang sekarang di hukum adalah dirinya, putri kandungnya sendiri.
Seberapa benci Ayahnya pada dia dan ibunya?
Beberapa pengawal dengan tubuh kekar menarik Livia keluar aula. Pada saat itu matanya menangkap tatapan senang yang di sembunyikan oleh Valery. Dia bahkan tidak repot-repot membela atau menghalangi ayahnya.
Pada saat ini Livia akhirnya mengerti, dia berhenti berteriak minta ampun seperti yang biasa dia lakukan ketika ayah menghukumnya. Dia berhenti mengaku salah dan bahkan berhenti untuk minta maaf.
Dia sadar bahwa apapun yang dia lakukan tetap saja salah dimata ayahnya.
“Kakak, jangan khawatir. Pangeran akan memohon pada ayah untuk meringankan hukumanmu. Setidaknya membiarkan kau tetap hidup.” Valery berkata dengan wajah sedih dan simpati.
“Cih, jangan mimpi. Tukang selingkuh! Bahkan berani menggoda pamanku! Mati saja tidak cukup untuk menebus kemarahanku.” Pangeran Antony mencibir.
Para pengawal menyumpal mulutnya dan menyeretnya dengan cepat ke arah belakang kediaman. Terdapat hutan kecil dengan sebuah bukit disana. Mereka menyeretnya ke pintu kecil di bukit itu. Ketika pintu itu dibuka, bau busuk dan darah sangat menyengat.
Kakek mereka juga menggunakan penjara ini untuk memberi hukuman militer kepada para prajurit yang berkhianat. Suasana di dalam lembab dan gelap. Hanya suara harimau kelaparan yang terdengar.
“Jill, apa kau yakin?” Seorang penjaga yang menyeret Livia mulai ragu ketika mereka mencium aroma penjara bawah tanah.
“Bagaimanapun Lady Livia adalah putri kandung jenderal Nicholas. Dia sangat menyayangi nya. Apa yang terjadi jika jenderal Kembali dan menemukan bahwa dia mati disini?”
“Diam! Itu bukan urusan kita! Kita hanya mengikuti perintah Duke.” Balas yang lain.
“Tapi dengan kepribadian Jenderal Nicholai, dia akan menghukum semua orang yang terlibat.” Seorang diantara mereka mulai berhenti dengan ragu.
“Bukan urusan kita. Lagipula Jenderal masih di perbatasan dan sedang berperang. Dan ini atas perintah Duke sendiri.”
Ketiga orang itupun sepakat, lalu Kembali menyeret Livia dan melemparnya ke dalam penjara. Ketika pintu penjara mengeluarkan suara saat di buka dan di kunci, harimau setinggi pundak manusia segera datang dengan buas.
Wajah Livia berubah pucat. Tidak! Dia sudah tamat. Tak ada tempat minta tolong. Kakek dan kakaknya masih di perbatasan. Tak ada yang akan membelanya di rumah ini bahkan pelayan sekalipun.
Harimau itu mencium bau darah dan mendekat pelan. Sementara Livia duduk meringkuk ketakutan di pintu sel. Dia melihat sekeliling mencari-cari benda yang barangkali dapat melindungi diri dari serangan harimau ini. Dia pernah berlatih seni bela diri dasar sebagai Wanita dari keluarga militer namun tidak mungkin dapat mengalahkan seekor harimau kelaparan.
Apalagi dia sudah dua hari tidak makan. Harimau itu mendekat dengan agresif membuah Livia berlari menghindar. Namun kecepatan hewan buas ini jauh melebihi kemampuannya. Harimau itu masih berputar mengejarnya di sepanjang penjara bawah tanah, menyerang dengan ganas.
Livia semakin panik. Kekuatannya tak seimbang. Ketika dia hendak melompat ke atap penjara tangannya menyentuh sebuah benda dalam saku bajunya. Itu botol racun berisi racun ular.
Karena perasaan senang menemukan senjata membuat dia kehilangan focus sementara, tiba-tiba harimau itu menyerang kakinya dan menancapkan cakar yang cukup dalam sehingga membuat darah mengalir kemana-mana.
“Ah. Sialan!!”
Livia segera meraih botol racun, membukanya dengan cepat dan melempar isinya ke mata harimau. Harimau itu meraung kesakitan sementara kaki livia juga terluka parah. Dia kehilangan banyak darah.
Melihat Harimau di depannya mulai perlahan diam dan roboh ke tanah, Livia merasa sedikit lega. Namun dia sedang pendarahan hebat, dia mengambil jepit rambut dan memotong nadi di leher harimau untuk memastikan makluk itu benar=benar mati.
Namun dalam keadaan sekarat. Dia melihat ayahnya datang menyelamatkannya.
“Ah, ayah ternyata masih peduli.” Gumamnya lega.
Seluruh tubuh Livia kesakitan hingga dia kesulitan bernapas. Darah menutupi hampir diseluruh pakaiannya yang kusam dan kumal. Ditengah kesabaran yang mulai kabur dia merasakan rasa sesak menghantam hatinya mendengar kata-kata ayahnya.
“Pel4cur sepertimu tidak pantas menjadi anakku. Pergilah ke neraka bersama ibumu yang menjijikkan itu.”
“Livi, jika ada kehidupan lain. Jangan memilihku sebagai ayahmu. Kau sama menjijikkannya seperti ibumu!”
“Daripada punya anak sepertimu, lebih baik aku dikutuk menjadi mandul selama seribu tahun!”
Setiap kata itu sedikit demi sedikit mengikis harapan terakhirnya untuk hidup. Dia melihat ayahnya berbalik keluar penjara. Sama sekali mengabaikannya yang sedang diambang kematian karena pendarahan hebat.
“Ayah, jika ada kehidupan lain, aku juga tidak ingin menjadi anakmu.” Dia bicara dengan lirih.
Livia sudah pasrah pada kematian ketika sebuah bayangan gelap melintas. Ah, dewa kematian sudah datang. Dia bisa tenang dan tidak sakit lagi.
“Ingin mati?” Suara pria itu terdengar dingin dan kejam.
Livia berusaha membuka matanya namun pandangannya kabur. Dia tidak punya kekuatan.
“Sudah ku bilang, Jika kau ingin mati, maka kau harus meminta ijinku dulu.” Dengusnya penuh kemarahan.
Ah, bahkan Malaikat kematianpun marah dan jijik padanya.
Sesaat kemudian pandangannya telah sepenuhnya menjadi gelap.