Livia kehilangan ibunya saat masih kecil. Meskipun kakeknya sangat menyayanginya, ia merindukan kasih sayang ayahnya dan tidak pernah berani menentang perintah Dimitri. Ia bahkan tidak berani bergerak ketika Dimitri menghukumnya dengan menyuruhnya berlutut selama setengah hari di hari yang bersalju.
Saat ini, Livia mencibir,
“Ayah, kau tidak bisa membedakan yang benar dari yang salah, dan mengabaikan semua kejahatannya padaku sebelumnya. Kau bahkan menghukumku, karena seorang anak haram. Tidak heran Kakek menolak mempromosikanmu di posisi penting istana.”
“Apa katamu?” Dimitri sangat marah hingga wajahnya memerah.
Dia mengambil tongkatnya dan memukuli Livia lagi. Livia berdiri tegak.
“Ayah, apakah pendengaranmu buruk? Jika kau memukulku lagi karena putri harammu ini, dan berita ini tersebar, orang diluar akan mengatakan hal-hal yang seratus kali lebih buruk daripada yang baru saja kukatakan!”
“Kau…” Tangan Dimitri yang memegang tongkat itu bergetar.
Livia berbalik dan bertatapan dengan Valery. Wajah cantiknya memancarkan aura mulia dan dingin.
“Valery, ingat, jika kau menuduhku mendorongmu ke dalam air lagi, aku akan membiarkanmu tenggelam di sana.” Livia menunjuk Valery dengan marah.
Mata Valery dipenuhi air mata dan ekspresinya menjadi semakin sedih.
“b******n! Valery itu adalah adikmu!”
Mata Dimitri dipenuhi rasa jijik dan amarah saat menatap Livia. Bibir Livia melengkung membentuk senyum mengejek. Dia dengan cepat mendekat mengulurkan tangan untuk meraih Valery dan menariknya ke kolam. Kolam itu memang kecil, namun di beberapa bagian ada yang sangat dalam jadi jika terjatuh di area itu dan orang itu tidak bisa berenang, itu akan berakibat fatal.
Dalam kepanikan, semua orang sibuk menyelamatkan Valery. Barulah setelah dia pergi, pikiran semua orang dipenuhi dengan tanda bahaya. Lady Livia ini berbeda dari sebelumnya! Jadi sebaiknya mereka menghindari membuat masalah dengan nya lain kali.
Livia membawa Zhilan kembali ke kamar. Zhilan menggertakkan giginya dan menopang tubuhnya yang lemah.
“Nona, berbaringlah. Saya akan memanggil tabib.”
Livia menggeleng.
“Tidak perlu. Aku akan mengambil obatnya sendiri.”
Ibunya, Cecilia, adalah tabib wanita nomor satu di Kekaisaran Romawi Timur. Meskipun meninggal saat melahirkan, ia mewarisi bakat ibunya dan belajar ilmu Pengobatan sejak usia muda di perbatasan bersama banyak tabib. Ia dapat belajar lebih cepat daripada tabib yang telah belajar selama bertahun-tahun hanya dengan membaca buku-buku Pengobatan.
Baginya, meresepkan obat untuk mengobati luka luar bukanlah hal yang sulit. Namun kali ini, dia tidak hanya akan mengonsumsi obat biasa, melainkan ginseng berusia seratus tahun yang sangat dihargai oleh kakeknya.
Kakeknya menyimpan ginseng itu di kompartemen rahasia di Lembah obat. Awalnya, kakek hanya menceritakan itu padanya sebagai bahan penghibur. Sekarang dia punya kesempatan untuk memanfaatkannya!
Di bagian belakang halaman mereka di sudut terpencil ada sekumpulan gunung batu cadas hitam dan hutan lebat. Para pelayan bilang itu adalah area penguburan leluhur keluarga Caspian jadi terlarang bagi orang luar. Ada banyak altar leluhur disana bersama sebuah gereja kecil untuk tempat persembahan.
Kakek menyebut bahwa itu adalah tempat suci yang hanya boleh dimasuki oleh ketururan keluarga Caspian, jadi pelayan atau orang luar tidak akan berani kesana.
Namun hanya kakek dan dia yang tau bahwa di dalam gunung cadas itu ada Lembah obat peninggalan ibunya.
Sekarang Livia memutuskan untuk pergi kesana. Pintu menuju Lembah obat hanya berupa celah sempit di bebatuan yang hanya bisa di masuki oleh satu orang dengan cara menyamping. Celah itu telah lama tertutupi oleh tanaman rambat. Jadi jika orang awam ingin menemukan celah itu akan sangat sulit.
Setahun yang lalu Livia menanam pohon tulip putih sebagai penanda jalan masuk.
Livia meraba di sekitar batu cadas dan menemukan knop pintu. Begitu dia membuka pintu kecil itu, cahaya keemasan menyambar di depan matanya dan dia memasuki tempat yang asing. Sudah setahun dia tidak masuk ke Lembah ini.
Rumput hijau terbentang seperti karpet, dan aroma tanaman obat tercium di udara. Tak jauh dari situ, terdengar suara air terjun.
Livia memandang segala sesuatu di depannya dengan aneh. Itu bukanlah pemandangan yang pernah dilihatnya sebelumnya. Tanaman herbal langka yang ditanam di ladang herbal itu sulit ditemukan dalam seratus tahun. Saat melihat Rumput Penggumpal Darah di ladang herbal, matanya langsung berbinar.
“Ternyata ada banyak sekali di sini!”
Dari manuskrib ibunya, ia mengetahui bahwa Rumput Penggumpal Darah dapat dengan cepat menyembuhkan luka dan memperkuat otot serta tulang. Rumput ini sangat langka. Satu batang bernilai ribuan koin perak di pasaran!
Dulu kakaknya menerima Sebatang rumput dari kamp militer ketika kakaknya mengalami luka luar yang serius. Kamp militer memberikannya kepadanya agar ia dapat berpartisipasi dalam kompetisi militer di masa mendatang setelah sembuh.
Namun, dia tidak tega menggunakannya dan memberikannya kepada Livia, lalu Livia menyimpannya di Lembah obat dan ternyata mereka sudah tumbuh sebanyak ini! Dia terus mencari dan menemukan bahwa tanaman obat berharga lainnya, seperti Hyssopus officinalis sebagai obat penenang dan Nardostachys jatamansi yang biasa di gunakan untuk kesulitan melahirkan, juga ada di mana-mana. Itu benar-benar surga bagi para tabib.
“Segala macam ramuan langka tumbuh subur di Lembah obat.” Gumam Livia.
Yang terpenting, air di tempat ini Sangat jernih dan sedikit manis. Livia meminum beberapa teguk. Ia tidak hanya menghilangkan dahaganya, tetapi juga merasa peredaran darahnya lancar. Ia melihat ada alga dan beberapa herbal penghangat tumbuh di dasar dan tepi telaga ini. Membuat rasanya berbeda dari air ungai biasa.
Livia menghela napas lega. Tampaknya tanah disini sangat subur. Dia memetik beberapa tangkai Rumput Penggumpal Darah dari kebun obat dan membuatnya menjadi krim penggumpal darah. Dia mengoleskannya pada lukanya dan dengan cepat terasa efeknya.
Setelah Kembali ke kamar, dia memberikan salep itu pada Zhilan,
“Nona, Anda bisa membuat obat sendiri?” Mata Zhilan terbelalak kaget.
Selama ini majikannya lebih suka menjadi pelayan Nona Valery dan senang mencari perhatian pangeran, kapan dia belajar pengobatan?