Livia melihat seorang mengenakan Pakaian berwarna hitam dengan kursi roda masuk dari puntu aula. Seorang pengawal kekar mendorongnya dengan tenang. Semua orang menahan napas ketika dewa kematian ini masuk.
Memang dia adalah pembunuh berdarah dingin. Entah sudah berapa ribu nyawa mati di tangannya yang kekar dan besar itu.
Hampir seketika semua orang menunduk termasuk pangeran Antony yang memanggilnya…
“Selamat datang, Paman!”
Paman?
Valery adalah orang yang pertama sekali berseru.
“Ah, yang mulia. Anda memanggil Jenderal agung dengan panggilan ‘paman’?”
Antony mengangguk.
“Tidak banyak yang tau bahwa Jenderal Agung Alexei adalah pamanku.”
Berbeda dengan sikap arogannya tadi, kali ini Antony tampak sedikit lebih tenang dan pendiam.
“aku tidak menyangka pangeran akan datang berkunjung namun malah menjumpai calon adik iparnya.” Suara Alexei terdengar ketus. Dia memainkan jepit rambut mawar di tangan kanannya.
Mata Livia terbelalak.
“Jenderal, jepit rambut di tanganmu…” Livia ingin berlari merebut jepit rambut di tangan Alexei namun kakinya enggan bergerak karena takut.
“Punyamu?” Alexei mendengus.
Livia mengangguk pelan.
Kemarin malam dia keluar secara diam-siam bersama pelayannya Nia untuk membeli setoples kue kacang dengan serbuk coklat di toko cemilan terbesar ibukota. Ayahnya melarangnya keluar setelah insiden buket bunga lebih dari dua bulan lalu.
Alexei memberi isyarat pada pengawalnya.
“Luxor, serahkan ini ke Lady Livia.” Perintahnya dengan nada malas.
Valery melirik barang di tangan Alexei.
“Kakak, bukankah kamu di kurung oleh ayah? Dilarang keluar rumah sejak dua bulan lalu? Bagaimana jepit rambut ini bisa sampai di tangan Jenderal Agung? Jangan-jangan kalian bertemu diam…” Valery sengaja tidak melanjutkan, memberi ruang bagi orang-orang di ruangan itu untuk bergosip.
Livia bertunangan dengan Antony namun tanpa sepengetahuan ayahnya dia diam-diam bertemu dengan Jenderal Alexei, seberapa hebatkah gossip itu? Valery berfikir setelah gossip ini menyebar, Jenderal Alexei kemungkinan akan menebas kepala Livia untuk membungkam gossip ini seperti yang biasa ia lakukan.
Rencana yang sangat bagus!
Livia melirik Alexei, menunggu reaksi kemarahannya karena Valery bicara sembarangan. Dia ingin sekali menampar wajah Valery karena berani menyebar rumor buruk. Dia bisa menyebarkan rumor dengan siapapun, namun dengan Jenderal Alexei?
Apa dia sudah bosan hidup?
“Nona Valery, jika anda sudah bosan dengan lidah anda. Aku tidak keberatan menggantinya dengan lidah baru.” Suara Alexei memecah keheningan.
Semua orang menghela napas dingin. Dan suara tubuh terjatuh terdengar!
Valery berlutut dengan gemetar. Dia salah memperhitungkan reaksi Alexei. Dari kebiasaannya seharusnya Alexei segera membunuh namun dia malah mengarahkan pedang ke Valery.
Apa dia sedang membela Livia?
Valery hampir saja buang air di tempatnya karena ketakutan.
“Jenderal. Maafkan aku. Aku salah bicara. Aku…” Suaranya bergetar hampir menangis. Dia berlutut dan bersujud.
Melihat ini, Pangeran antony segera membantunya.
“Paman, tolong maafkan Valery. Dia salah bicara. Dia hanya curiga Livia sedang selingkuh dengan pria lain. Valery hanya sedang kasihan padaku.”
Saat Antony bicara, Alexei mendengus tidak senang.
“Hanya kali ini. Jika kau tidak bisa menjaga lidahmu. Aku tidak keberatan memotongnya, meski Duke Dimitri akan marah.” Alexei bicara dengan pelan namun interval itu membuat semua orang ketakutan.
Menyebarkan rumor buruk tentang si iblis dewa kematian ini benar-benar Tindakan bodoh.
Alexei memerintahkan bawahannya untuk berbalik meninggalkan aula kediaman Claudian. Namun sebelum sampai ke pintu dia berhenti sejenak dan berkata,
“Lady Livia. Jepit rambut anda tertinggal di keretaku. Ingat lain kali jangan ceroboh.”
Mata Livia terbelalak kaget.
“Jenderal, aku tidak ingat pernah menumpang di kereta anda.”
Kening Livia berkerut. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan Alexei, jadi darimana cerita jepit rambut ini ketinggalan di keretanya?
“Kau lupa. Tidak masalah.” Jawab Alexei tenang lalu melangkah pergi bersama pengawalnya.
Setelah Alexei pergi, Valery berdiri dengan semangat dan segera menunjuk hidung Livia. Seolah orang yang berlutut dengan ketakutan tadi bukan dia.
“Yang mulia, anda dengar sendirikan? Kakak pernah bertemu diam-diam dengan Jenderal agung, bahkan menumpang di keretanya. Jika orang lain tau, mereka akan berfikir kakak adalah gadis yang liar.”
Senyum tipis menghiasi wajah cantik Valery.
Antony dengan marah segera mencerca Livia dengan berbagai tuduhan.
“Livia, Kamu masih tunanganku tapi sudah terlibat dengan pria lain? Bahkan gadis dari keluarga pedagang saja tidak serendah kamu!”
“Aku tidak pernah bertemu secara pribadi dengan jenderal agung.” Bantah Livia dengan marah.
Dia tidak tau kapan itu terjadi, tapi yang dia ingat, dia tidak pernah bertemu dengan jenderal Alexei, dia bahkan tidak kenal dengan dewa kematian ini. Namun hari ini dewa agung tiba-tiba datang mengantarkan jepit rambut kesayangannya yang telah lama hilang.
“Pembohong! Apa kau fikir paman akan berbohong demi menjebakmu?”
“Benar, kakak. Apa jangan-jangan kakak juga menggoda jenderal? Reputasimu sudah jelek, dan menggoda jenderal bahkan bisa membuat kakak kesulitan menikah dimasa depan.” Dia bicara seolah dia sangat peduli dengan reputasi Livia dan dengan baik hati mengingatkannya.
Ketika Livia ingin membantah, pintu koridor aula tiba-tiba di tending hingga terbuka lebar dan ayahnya muncul disana dengan wajah merah karena marah.
“b******n! Aku benar-benar gagal mendidikmu. Beraninya kamu menggoda Jenderal Agung!
Dengan cepat Dimitri mendekat dan menampar Livia tanpa menunggu penjelasan. Satu kali, dua kali, tiga kali, total delapan kali tamparan hingga pipi Livia bengkak hebat dan bibirnya berdarah. Dia jatuh ke lantai dengan pusing. Tak punya kekuatan lagi untuk membuka mulut.
“Pengawal! Bawa dia ke penjara bawah tanah!” Teriak ayahnya pada para pengawal.
Penjara bawah tanah? Memberi makan Binatang buas?