Penerbangan pertama Tiara berangkat pukul enam pagi, yang berarti briefing pukul empat, yang berarti ia bangun pukul setengah tiga dan tidak benar-benar tidur sebelumnya. Ia tiba di ruang awak dengan koper kecil beroda dan jantung yang berdebar seperti hari penilaian. Di ruang briefing, awak hari itu berkumpul: seorang purser bernama Pak Bima, lelaki bertubuh tegap dengan tenang yang sudah jadi bagian dari tulangnya setelah belasan tahun terbang, dan beberapa pramugari senior. Yang ditunjuk membimbing Tiara hari itu adalah Yustika — pramugari senior dengan mata tajam dan suara yang tidak pernah ia naikkan, sebab ia tidak perlu.
Briefing pra-terbang bukan basa-basi. Pak Bima membacakan informasi penerbangan: rute, durasi, jumlah penumpang, cuaca yang diperkirakan ada turbulensi ringan di sektor tengah. Lalu ia mengajukan pertanyaan keselamatan acak, dan kali ini ia menatap Tiara. "Crew baru. Di mana pemadam api di galley belakang, dan jenis apa yang dipakai untuk api di oven?" Tiara menjawab tanpa ragu — lokasi, jenis, alasan. Pak Bima mengangguk satu kali. Yustika, di sampingnya, tidak bereaksi, tapi Tiara merasa ada penilaian yang lewat, dan ia lulus tipis seperti biasa.
Di pesawat, sebelum penumpang naik, mereka melakukan pemeriksaan keselamatan. Tiara menyusuri area tugasnya dengan daftar di kepala: pemadam ada, tabung oksigen ada dan tekanannya cukup, masker awak berfungsi, pelampung di tempatnya, pintu dan seluncuran armed pada waktunya. Yustika mengikutinya dari belakang, sesekali menunjuk satu hal yang Tiara lewati — bukan dengan teguran, hanya jari yang menunjuk, dan Tiara memeriksanya ulang. Ia belajar bahwa di pesawat sungguhan tidak ada yang berteriak seperti Pak Hilmy. Senioritas bekerja lebih halus, lewat jari yang menunjuk dan diam yang berarti.
Lalu penumpang naik, dan dunia berubah menjadi arus. Orang-orang menyeret koper terlalu besar untuk kabin, mencari nomor kursi, menyumbat lorong, meminta tolong menaikkan tas, bertanya hal-hal yang sama berulang. Tiara tersenyum, mengarahkan, membantu, dan menjaga lorong tetap mengalir. Ia menyadari betapa banyak pekerjaan fisik yang tersembunyi di balik senyum itu. Punggungnya sudah lelah sebelum pesawat lepas landas.
Kemudian terdengar perintah untuk bersiap lepas landas, dan untuk pertama kalinya Tiara duduk di kursi lipat sungguhan di ujung lorong. Jump seat. Ia menurunkannya dari dinding, duduk, dan menarik sabuk empat titik melintang dadanya, menguncinya di pusat, mengencangkannya. Ia menghadap ke arah penumpang — bukan ke depan seperti mereka, tapi ke belakang, menatap puluhan wajah yang menatapnya balik tanpa benar-benar melihatnya. Mereka melihat seragam, sayap, senyum. Mereka tidak melihat perempuan dua puluh dua tahun yang baru pertama kali duduk di sini, yang di kepalanya berputar silent review — kalimat-kalimat yang setiap awak ucapkan dalam hati saat lepas landas: jika terjadi darurat sekarang, pintu mana, komando apa, brace position, di mana peralatan. Pak Hilmy mengajarkannya. Tiga puluh detik berbahaya saat lepas landas, tiga puluh detik kritis saat mendarat — saat itulah awak duduk dan diam dan mengulang skenario terburuk di kepala, supaya tangan sudah tahu jalan jika yang terburuk datang.
Mesin meraung. Pesawat melaju dan menekan punggungnya ke kursi lipat. Tanah jatuh ke bawah. Dan di tengah dentuman dan getaran itu, Tiara menyadari sesuatu yang membuat dadanya penuh: ia kini adalah orang yang dipandang penumpang terakhir saat mereka takut, dan orang yang mereka cari pertama saat ada yang salah. Dari kursi lipat yang tidak pernah benar-benar mereka lihat ini, ia memegang sesuatu yang lebih berat dari nampan minuman. Ia tidak tahu apakah ia layak. Tapi ia duduk tegak, dan ia mengulang skenarionya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk hari pertama.
Setelah lampu sabuk padam, datang service flow, dan di sinilah Tiara nyaris kewalahan. Troli yang berat didorong di lorong sempit yang miring naik atau turun mengikuti pesawat, dan ia harus menahannya dengan kakinya supaya tidak meluncur. Pesanan datang bertubi: kopi, teh, air, yang ini panas yang itu dingin, kembalian uang, penumpang yang tertidur dan harus dilewati, penumpang yang terbangun dan kesal. Ia menumpahkan sedikit teh ke nampan dan jantungnya turun, tapi Yustika di sampingnya hanya mengambil serbet dan menyeka tanpa kata, lalu melanjutkan, dan Tiara belajar bahwa kesalahan kecil tidak dibesarkan, hanya dibereskan dan ditinggalkan.
Turbulensi yang diperkirakan datang di sektor tengah. Lampu sabuk menyala, suara Pak Bima di interfon menyuruh awak duduk. Tiara mengamankan troli dengan cepat, mengunci remnya, duduk di jump seat terdekat. Pesawat berguncang, naik dan jatuh, dan ada yang menjerit kecil di belakang. Tiara menatap ke arah kabin dari kursi lipatnya, wajahnya dipaksa tenang meski perutnya ikut jatuh, karena ia tahu sekarang: penumpang membaca wajah awak. Jika ia tenang, mereka tenang. Guncangan itu adalah bahasa, dan tubuhnya harus mengucapkan 'ini biasa' meski tangannya mencengkeram sabuk.
Saat pesawat mendarat dan melambat, dan tepuk tangan canggung beberapa penumpang terdengar — kebiasaan yang Yustika bilang nanti akan membuat Tiara tersenyum geli — Tiara duduk di jump seat dengan tubuh yang remuk dan kepala yang penuh. Yustika menoleh padanya saat mereka berdiri. "Hari pertama," katanya, satu-satunya kalimat pribadi yang ia ucapkan sepanjang hari. "Kamu nggak panik waktu turbulensi. Itu bagus. Sisanya bisa dilatih." Lalu ia berdiri dan membuka pintu, dan Tiara menyadari itu adalah jari yang menunjuk versi Yustika untuk berkata: kamu boleh tinggal. Untuk hari ini.