Yang tidak diceritakan brosur tentang menjadi awak kabin adalah betapa pekerjaan ini sebenarnya adalah perang melawan tidur. Tiara mengetahuinya sepenuhnya di pekan pertama line flying, ketika ia mendapat rotasi yang awak senior sebut 'empat kota' — empat penerbangan dalam satu hari, menyentuh empat kota berbeda, dengan transit di darat yang terlalu pendek untuk istirahat dan terlalu panjang untuk apa pun yang lain.
Mereka mulai dari Jakarta sebelum fajar. Terbang ke Surabaya. Turun, penumpang keluar, kabin dibersihkan dalam waktu yang terasa seperti hitungan detik, penumpang baru naik, terbang lagi ke Makassar. Di Makassar transit lebih panjang, tapi tidak cukup untuk meninggalkan bandara, jadi mereka duduk di ruang awak dengan kopi yang ke sekian, kaki diangkat ke kursi seberang, seragam masih lengkap, percakapan yang menipis seiring lelah. Lalu Balikpapan. Lalu, jika jadwal sedang baik hati, layover — menginap di kota terakhir sebelum rangkaian berikutnya.
Tubuh Tiara tidak mengerti waktu lagi. Ia makan saat ada jeda, bukan saat lapar. Ia minum kopi bukan karena ingin tapi karena harus. Riasannya harus tetap rapi di penerbangan keempat seperti di pertama, padahal wajah di baliknya sudah kuyu, dan ia belajar trik dari Yustika: menyimpan kapas dingin di kantong, menepuk leher di balik tirai galley saat tidak ada penumpang melihat, meneteskan obat mata supaya merahnya samar. Kru senior punya seluruh gudang trik kecil untuk tampak segar di atas tubuh yang tidak segar, dan Tiara mengumpulkannya satu per satu seperti orang miskin mengumpulkan recehan.
"Yang penting bukan kamu nggak capek," kata seorang senior bernama Mbak Resa di galley, sambil mengupas pisang dengan satu tangan dan menahan troli dengan kaki. "Yang penting penumpang nggak lihat kamu capek. Capek itu hakmu. Tapi di lorong, capek itu nggak boleh kelihatan, karena kalau awak kelihatan capek, penumpang ngerasa nggak aman. Mereka pikir, kalau yang jaga aja udah loyo, gimana kalau ada apa-apa." Tiara menyimpan kalimat itu. Capek itu hakmu, tapi tidak boleh kelihatan. Itu menjadi salah satu hukum tak tertulis yang ia jalani.
Ia juga belajar tentang manajemen kelelahan yang sebenarnya — bukan trik kosmetik, tapi yang sungguhan. Tidur saat bisa, walau cuma dua puluh menit, walau di kursi tegak ruang awak. Jangan minum kopi terlalu dekat dengan jam tidur layover, karena kamar hotel itu satu-satunya kesempatan tidur betul, dan menyia-nyiakannya berarti penerbangan besok dijalani dengan tangki kosong. Air putih lebih dari yang terasa perlu, karena udara kabin mengeringkan tubuh. Makan walau tidak selera. Hal-hal yang terdengar sepele sampai ia mengabaikannya satu kali dan membayar dengan penerbangan yang ia jalani seperti zombie, mata pedas, kepala berkabut, dan ia bersumpah tidak lagi.
Layover malam itu di sebuah hotel di Balikpapan. Hotel-hotel layover punya kemiripan yang aneh — di mana pun kotanya, kamarnya seperti saudara kembar: karpet bermotif sama-sama meredam suara, gorden tebal supaya bisa tidur siang hari, bau pewangi yang sama, pemandangan jalan kota yang Tiara tidak akan pernah jelajahi karena ia tidak punya waktu dan tidak punya tenaga. Ia masuk kamar, melepas sepatu, dan tubuhnya seperti tas yang dijatuhkan ke kasur.
Di sinilah ia bertemu sisi glamor yang tidak pernah difoto: kesepian. Ia berbaring di kamar asing di kota yang ia tidak kenal, ribuan kilometer dari ibunya, dengan tubuh terlalu lelah untuk keluar dan terlalu terjaga untuk langsung tidur. Lampu kota asing menembus celah gorden. Ia bisa mendengar samar suara televisi dari kamar sebelah, mungkin awak lain, mungkin orang asing. Ia menelepon ibunya, tapi ibunya sudah tidur — di kampung orang tidur lebih awal. Ia mengirim pesan: 'Aku di Balikpapan, Bu. Sehat. Besok pagi terbang lagi.' Lalu ia meletakkan ponsel dan menatap langit-langit yang sama dengan ratusan langit-langit hotel yang akan ia tatap dalam hidupnya.
Kinanti, yang kebetulan dalam rotasi berbeda, mengirim pesan voice note yang isinya keluhan panjang tentang penumpang yang menumpahkan jus ke seragamnya, diakhiri tawa keras khasnya, dan Tiara mendengarnya sambil tersenyum di kegelapan. Itu sedikit menambal kesepian. Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi yang lebih ringan, karena ia tidak ingin Kinanti tahu betapa sepi kamar ini terasa.
Ia memikirkan slip gajinya. Empat penerbangan hari ini berarti jam udara, berarti tunjangan terbang, berarti angka yang sedikit lebih tebal di buku catatannya. Tubuhnya digerus untuk recehan tambahan itu, dan recehan itu sebagian besar akan ia kirim ke kampung, untuk obat bapak, untuk warung ibu. Ada matematika dingin di balik kelelahan ini, dan Tiara menjalaninya dengan mata terbuka. Ia tidak menjadi pramugari untuk melihat kota-kota. Ia menjadi pramugari untuk dibayar per jam udara, dan untuk dibayar ia harus terbang, dan untuk terbang ia harus mengorbankan tidur, dan begitulah lingkarannya.
Ia akhirnya tertidur dengan seragam masih tergantung di pintu kamar mandi, sayap kecil berkilau samar di dadanya. Alarm disetel untuk pukul empat lagi. Di luar, kota Balikpapan hidup tanpa dirinya, dan ia tidur sebagai orang asing yang akan pergi sebelum kota itu bangun, ke kota lain yang juga tidak akan mengenalnya. Glamor, ia simpulkan di ambang tidur, adalah kata yang dipakai orang yang melihat dari kursi penumpang. Dari kursi lipat, kata yang lebih tepat adalah bertahan.