Hari kelulusan disebut wing pinning, dan itu satu-satunya hari sepanjang pelatihan yang dirancang untuk terlihat indah. Mereka mengenakan seragam lengkap untuk pertama kalinya — bukan kaos latihan, bukan pakaian renang, tapi seragam sungguhan: blazer berpotongan rapi, rok dengan panjang yang diukur, scarf yang harus disimpul dengan cara tertentu yang Tiara latih sampai jarinya hafal, sepatu hak dengan tinggi yang ditentukan. Mereka berdiri di aula dengan rambut disanggul rapi dan riasan yang juga, ternyata, diatur — warna lipstik tertentu, tidak boleh terlalu pucat, tidak boleh terlalu merah.
Tiara hampir tidak mengenali dirinya di cermin. Perempuan di pantulan itu terlihat seperti foto-foto yang dulu membuatnya bermimpi. Anggun, terkendali, mengilap. Untuk satu momen ia membiarkan dirinya merasakan itu — bukan kebanggaan persisnya, tapi semacam kelegaan, semacam 'aku sampai di sini'. Dari dua puluh dua yang mulai, tinggal enam belas yang berdiri di aula hari itu. Reno tidak. Mega tidak. Beberapa nama lain tidak. Tapi Tiara dan Kinanti berdiri bersisian, dan saat mata mereka bertemu, Kinanti mengerlingkan mata dengan tawa tertahan, dan itu membuat seragam terasa kurang mencekik.
Satu per satu mereka dipanggil maju. Seorang pejabat maskapai menyematkan lencana sayap logam kecil di dada kiri seragam, di atas jantung. Wing. Sayap di dada. Saat giliran Tiara, ia maju, dan tangan pejabat itu menyematkan logam dingin itu, menusukkan jarumnya ke kain, menguncinya. Tiara menunduk sedikit melihatnya. Sebuah sayap kecil. Ringan. Ia tidak menyangka benda seringan itu bisa terasa seberat itu.
Lalu ada bagian di mana keluarga yang hadir dipersilakan maju memberi selamat. Tiara tidak punya keluarga yang hadir. Perjalanan dari kota kecilnya mahal, dan bapaknya tidak bisa duduk lama di kendaraan, dan ibunya tidak bisa meninggalkan warung dan bapaknya sekaligus. Maka Tiara berdiri sendiri di antara keluarga-keluarga yang berpelukan dan berfoto, dan ia menelepon. Layar ponsel menampilkan wajah ibunya, lalu wajah bapaknya yang digeser masuk ke kamera, dan keduanya menangis melihat anak sulungnya bersayap. Ibunya berkata, "Cantik sekali, Nak. Cantik sekali." Bapaknya tidak banyak bicara sejak sakit, tapi ia mengangkat tangan yang gemetar dan memegang dadanya sendiri, di tempat yang sama dengan sayap itu, dan Tiara mengerti maksudnya tanpa kata. Ia membalikkan kamera supaya mereka bisa melihat aula, lampunya, seragamnya, sayapnya. Ia menahan air mata karena riasan tidak boleh luntur. Kinanti, yang berdiri di dekatnya bersama ibunya yang datang dari Surabaya, menarik Tiara masuk ke foto keluarganya tanpa banyak bicara, dan ibu Kinanti memeluk Tiara seolah ia anaknya juga.
Malamnya, euforia itu mulai menguap, dan kenyataan menetes masuk dari celah-celahnya.
Mereka diberi surat penempatan dan rincian gaji. Tiara membacanya di kamar kos, masih dengan sanggul yang belum ia bongkar. Gaji pokok junior cabin crew lebih kecil dari yang dibayangkan orang-orang di kampungnya, yang mengira pramugari kaya raya. Ada tunjangan terbang, dihitung per jam udara, yang berarti penghasilannya bergantung pada berapa banyak ia terbang — dan terbang banyak berarti tidur sedikit. Lalu ada potongan. Asrama pelatihan sudah selesai; ia harus pindah ke kos sendiri dekat basis, dan kos dekat bandara mahal. Seragam, perawatan, sepatu — sebagian ditanggung, sebagian tidak. Dan menjulang di atas semuanya, tidak tertulis di slip gaji tapi selalu ada di kepalanya, angka ikatan dinas yang tidak ia baca di hari ia tanda tangan: jaring yang akan menjeratnya jika ia berhenti.
Ia membuat hitungan di buku catatan yang sama dengan tempat ia menggambar peta kabin. Gaji, dikurangi kos, dikurangi makan, dikurangi transport, dikurangi kiriman ke rumah. Ia menulis angka kiriman ke rumah lebih dulu, sebelum yang lain, karena itu bukan sisa melainkan kewajiban pertama. Sisanya untuk dirinya sendiri tipis. Tipis sekali. Ia menatap angka itu di bawah cahaya lampu kamar yang kuning, masih mengenakan seragam yang membuatnya terlihat seperti perempuan dari foto-foto, dan untuk pertama kalinya glamor itu terasa seperti yang sebenarnya: kulit yang indah di atas tubuh yang lelah dan dompet yang tipis.
Ia tidak menyesal. Itu yang penting ia catat dalam hatinya. Ia tidak menyesal. Ia hanya mengerti sekarang, dengan mengerti yang dalam dan dewasa, bahwa ia tidak membeli mimpi. Ia membeli pekerjaan. Pekerjaan yang berat, dibayar pas-pasan, dengan baju yang cantik. Dan ia akan melakukannya, sebaik mungkin, karena di seberang telepon ada bapak yang memegang dadanya dan ibu yang menangis bahagia, dan mereka tidak perlu tahu betapa tipisnya angka di bawah lampu kuning ini.
Ia melepas sayap dari dada dengan hati-hati, meletakkannya di meja, dan menatapnya sebelum tidur. Esok lusa ia mulai terbang sungguhan. Ia menyetel alarm. Ia tidak akan menjadi kursi kosong, dan sekarang ia juga tidak akan membiarkan angka di buku catatan ini menjadi alasan. Ia mematikan lampu. Sayap kecil itu memantulkan sedikit cahaya dari jalanan di luar, berkilau samar di kegelapan, ringan dan berat secara bersamaan.