Ruang fire trainer berada di gedung terpisah, bangunan rendah dari beton dengan dinding yang menghitam di beberapa bagian dan bau yang tidak pernah benar-benar hilang — bau hangus, plastik terbakar, dan sesuatu kimiawi yang menempel di seragam berjam-jam sesudahnya. Tiara mencium baunya bahkan sebelum masuk, dan perutnya mengerut.
"Hari ini kalian akan takut," kata Pak Hilmy di pengarahan pagi. Ia tidak mengatakannya untuk menakuti. Ia mengatakannya sebagai fakta jadwal, seperti mengatakan hari ini akan hujan. "Itu tujuannya. Saya ingin kalian merasakan takut di sini, di tempat aman, supaya saat takut itu datang di udara, kalian sudah pernah bertemu dengannya dan tahu bahwa kalian masih bisa bergerak."
Mereka belajar memadamkan api lebih dulu. Ada panel logam yang dirancang menyala dengan nyala terkontrol, mensimulasikan api di oven galley, api di kompartemen bagasi, api yang menjalar dari panel listrik. Tiap jenis api butuh penanganan berbeda. Tiara belajar mencabut pin pemadam, mengarahkan ke pangkal api bukan ke lidahnya, menyapu dari sisi ke sisi. Ia melakukannya dan rasa panasnya nyata di wajahnya, menjilat pipinya, dan ia mundur selangkah secara naluri lalu memaksa dirinya maju lagi karena Pak Hilmy berdiri di belakangnya berkata, "Jangan mundur. Api tidak pergi karena kamu mundur. Api pergi karena kamu padamkan."
Lalu datang bagian yang Tiara takuti sejak ia tahu akan ada: asap. Mereka masuk ke mock-up kabin yang sengaja diisi asap teatrikal yang tidak beracun tapi pekat, sangat pekat, sampai Tiara tidak bisa melihat tangannya sendiri di depan wajah. Latihannya adalah merangkak menyusuri lorong, menghitung baris kursi dengan tangan karena mata tidak berguna, dan menemukan jalan ke pintu darurat. Dalam kegelapan berasap itu, dengan suara alarm meraung dan instruktur berteriak instruksi yang sengaja membingungkan, Tiara merangkak. Asap masuk ke matanya meski ia memejam. Lututnya sakit di lantai. Ia menghitung — satu baris, dua baris — dan untuk satu momen ngeri yang panjang ia kehilangan hitungan, dan otaknya kosong, dan ia membeku.
Ia membeku di lorong berasap, dada sesak, jantung berdentum di telinga. Ada bagian dirinya yang ingin berhenti, menunggu, berharap seseorang datang menariknya keluar. Lalu ia mendengar suara Pak Hilmy dari hari pertama di kepalanya: kalian menjadi orang yang masih bisa berpikir saat semua orang sudah tidak bisa. Ia memaksa dirinya mengulang dari hitungan terakhir yang ia yakini. Tangannya meraba sandaran kursi. Tiga. Empat. Tepi pintu. Tuasnya. Ia di pintu. Ia menemukannya.
Ia keluar ke udara terang dan menghirupnya seperti orang yang baru muncul dari dasar laut. Wajahnya berkeringat dan berjelaga, matanya merah, dan ia gemetar. Pak Hilmy melihatnya keluar dan mencatat sesuatu. Tiara tidak tahu apa.
Bagian terakhir hari itu adalah dekompresi — bukan yang sungguhan, hanya simulasi. Mereka duduk di kursi mock-up, dan tanpa peringatan lampu berubah, terdengar suara mendesis keras yang mengejutkan, dan masker oksigen jatuh dari kompartemen di atas, berayun-ayun di selangnya seperti benda mati yang hidup. Tiara terlonjak. Selama beberapa detik kabin dipenuhi suara siswa lain yang juga terlonjak, ada yang menjerit kecil. Latihannya adalah segera meraih masker, menariknya — menariknya cukup keras karena tarikan itulah yang mengaktifkan aliran oksigen, hal yang penumpang tidak tahu — menempelkan ke wajah, lalu, hanya setelah punya sendiri terpasang, membantu orang di sebelah.
Tiara menarik masker. Tangannya gemetar tapi gerakannya benar. Pasang sendiri dulu. Tarik untuk mengaktifkan. Tempelkan. Bernapas normal meski instingnya ingin menahan napas. Lalu ia menoleh ke kursi kosong di sebelahnya — yang seharusnya penumpang — dan melakukan gerakan membantu. Pak Hilmy lewat, melihat, dan tidak berkata apa-apa.
Penilaian diumumkan sore itu. Tiara lulus. Tipis, kata catatannya — ada keterangan 'sempat membeku di asap, pulih mandiri'. Ia melihat kata 'pulih mandiri' itu dan memahami bahwa itulah yang menyelamatkannya. Bukan karena ia tidak takut. Karena ia takut, lalu tetap bergerak.
"Kalian pikir hari ini yang paling sulit," kata Pak Hilmy menutup hari. "Tidak. Hari ini saya bisa berhenti kapan saja. Saya bisa nyalakan lampu, matikan asap, suruh kalian keluar. Di udara nanti tidak ada yang bisa berhenti. Tidak ada saya. Hanya kalian dan kursi lipat di ujung lorong. Lulus dari sini bukan akhir. Ini baru izin untuk mulai takut betulan." Tiara membawa kalimat itu pulang. Malam itu ia mandi dua kali dan masih mencium bau hangus di rambutnya. Ia tidak bisa membersihkannya. Mungkin memang tidak akan pernah bisa.