Pernikahan itu dilangsungkan di kota kecil Tiara — keputusan yang tidak perlu diperdebatkan, karena warung tidak bisa pindah ke kota, dan karena Tiara ingin bapaknya hadir dengan cara satu-satunya yang mungkin: sebagai kursi kosong yang disiapkan di barisan keluarga, dengan foto yang dipegang ibu sepanjang akad.
Akadnya diadakan di balai desa, sederhana, dengan penghulu dari kantor urusan agama setempat dan saksi-saksi yang datang dari dua dunia: keluarga Dimas dari kota — teratur, sopan, agak kaku di antara kursi-kursi plastik — dan seluruh kampung Tiara, yang datang dengan gaya kampung: ramai, membawa panci, dan menganggap pernikahan ini milik bersama. Kinanti menjadi pendamping pengantin perempuan — satu-satunya posisi yang ia terima dengan serius seumur hidupnya — dan menghabiskan pagi hari mengatur segalanya dengan otoritas seorang purser: mengatur barisan, mengatur tamu, mengatur ibu Tiara yang berkali-kali hampir menangis sebelum waktunya.
Pagi sebelum akad itu sendiri adalah pagi yang oleh Tiara disimpan di tempat paling rapi dalam ingatannya. Subuh, di dapur rumahnya, ibunya memasak untuk hajatan dengan tangan yang bergerak cepat — dan berhenti hanya sekali, ketika Tiara masuk dengan pakaian biasa, rambut tergerai, mata bengkak karena semalaman tidak tidur. Ibunya memandanginya lama, lalu berkata, 'Duduk. Makan dulu. Pengantin tidak boleh akad dengan perut kosong.' Dan mereka makan berdua di dapur itu, ibu dan anak, di antara asap dan bunyi wajan, dengan percakapan yang tidak penting — tentang bumbu, tentang tetangga, tentang apa pun selain hari besar itu — sampai ibunya, sambil membelakangi, berkata pelan: 'Bapakmu dulu melamar Ibu di dapur ini. Di dapur ini, Nak. Dia tidak bisa berkata-kata, jadi dia memperbaiki pompa air Ibu yang rusak, tiga hari berturut-turut, sampai kakekmu bertanya kapan maksudnya diucapkan.' Ia berbalik, dan matanya basah, dan tangannya kembali ke wajan. 'Laki-laki yang baik datang dengan pompa air, bukan dengan kata-kata. Dimas itu menggoreng tempe. Sudah benar pilihanmu. Sudah benar.' Tiara memeluk ibunya dari belakang, di tengah dapur yang mengepul, dan untuk beberapa menit hajatan itu menunggu — karena ada hal-hal yang harus didahulukan dari segala hajatan: dapur, ibu, dan pagi yang tidak tergesa.
Ijab kabul itu sendiri berjalan dalam bahasa yang Tiara dengarkan dengan seluruh tubuhnya. Dimas mengucapkannya dengan satu tarikan napas — lelaki yang menyiapkan segalanya, yang berlatih di kamar hotel malam sebelumnya dengan buku catatan terbuka — dan ketika penghulu mengucapkan 'sah', balai desa itu meledak dengan cara kampung: doa, tangis, dan seseorang di barisan belakang yang berteriak 'akhirnya!' sebelum ditenangkan. Tiara menatap suaminya — suaminya — dan Dimas menatapnya balik dengan senyum yang tidak pernah ia lihat di ruang arsip: senyum yang tidak dihitung.
Resepsinya diadakan di halaman balai desa, dan kampung itu mengeluarkan segalanya. Tetangga-tetangga memasak dua hari. Anak-anak SD tempat Tiara dulu menjadi tamu inspirasi datang dengan surat-surat kecil yang mereka tulis sendiri — 'selamat menikah Kak Tiara, aku mau jadi pramugari juga' — dan seorang ibu menyematkan satu surat ke tangan Tiara dengan bisikan: anakku yang dulu kau semangati di warung itu, sekarang juara kelas. Tiara membacanya di sela resepsi dengan mata yang panas, dan menyimpan surat-surat itu di tas yang sama dengan gantungan kunci baris dua puluh dua: jangkar-jangkar kecilnya bertambah.
Tamu-tamu dari udara datang dengan gaya masing-masing. Pak Bima datang dengan bahu yang sudah sembuh dan pidato pendek yang membuat semua orang tertawa: 'Saya mengenal pengantin perempuan sebagai awak yang paling sulit dijatuhkan keadaan. Dan saya mengenal pengantin lelaki sebagai orang yang membaca seluruh dokumen sebelum menandatanganinya. Maka pernikahan ini adalah penerbangan yang paling aman yang pernah saya saksikan — karena pilotnya membaca checklist.' Yustika datang dengan kado yang isinya membuat Tiara tertawa lama: sebuah buku tulis kosong bergambar pesawat, dengan catatan — untuk daftar-daftar barumu. Yang lama sudah penuh pelajaran. Yang ini untuk kehidupan. Dan Resa datang dengan seluruh grup 'Yang Turun Bersama', yang mengambil satu foto di depan pelaminan dengan gaya yang membuat fotografer menyerah.
Malamnya, ketika tamu terakhir pulang dan halaman tinggal kursi-kursi, Tiara dan Dimas duduk di teras rumah — teras kursi roda itu — dengan pakaian pengantin yang sudah lelah, dan ibu Tiara mengeluarkan satu benda dari dalam: kardus sepatu bapaknya. 'Bapakmu menitipkan ini sebelum pergi,' katanya. 'Dia tidak bisa menulis banyak. Tapi dia menyiapkan ini untuk hari ini.' Di dalam kardus itu, di atas semua rapor dan potongan koran, ada satu amplop dengan tulisan tangan yang gemetar, huruf-huruf yang dipaksakan lurus oleh tangan yang sudah tidak kuat: Untuk hari kamu menikah. Dan di dalamnya, satu lembar, satu kalimat: Nak, kamu sudah tidak perlu menunggu restuku. Kamu sudah lama melampauinya. Teruslah tinggi. — Bapak.
Tiara membaca kalimat itu di teras, di malam pernikahannya, dengan suami di sampingnya dan langit kota kecil di atasnya — dan ia tidak menangis dengan sedih. Ia menangis dengan cara yang baru ia pelajari malam itu: menangis karena lengkap. Karena semua yang harus hadir telah hadir — yang di kursi, yang di foto, yang di kardus sepatu — dan tidak ada satu pun yang benar-benar absen.