Kehidupan pernikahan mereka dimulai dengan sebuah apartemen kecil satu kamar di dekat bandara — dipilih bukan karena romantis, melainkan karena koordinatnya optimal untuk dua jadwal yang berbeda orbit — dan dengan sistem yang mereka rancang bersama seperti merancang prosedur: dua kalender besar di dinding dapur, satu untuk rotasi Tiara, satu untuk jadwal Dimas, dengan warna-warna yang menandai hari-hari bersama.
Hari-hari bersama itu lebih jarang dari yang mereka kira. Tiara terbang empat-lima hari seminggu; Dimas berkantor lima hari dengan lembur insidental. Ada minggu-minggu ketika mereka berpapasan di pintu seperti dua awak yang berganti jaga — satu pulang, satu berangkat — dan komunikasi berpindah ke kertas-kertas kecil yang ditempel di pintu kulkas: 'ada sop di panci, jangan masak mi instan', 'besok aku pulang pagi, jangan bangun', 'selamat ulang bulan kedua pernikahan kita yang kita rayakan lewat kulkas'.
Mereka belajar, dengan cara yang kadang lucu dan kadang perih, bahwa menikahi orang penerbangan berarti menikahi absensi. Dimas makan malam sendirian di hari-hari tertentu; Tiara tidur di hotel-hotel layover pada malam-malam yang seharusnya malam bersama. Dan mereka belajar pula bahwa cinta dalam keadaan seperti itu tidak bisa hidup dari kehadiran — ia harus hidup dari kepastian. Kepastian bahwa yang pergi akan pulang. Kepastian bahwa yang menunggu tidak menghitung dengan timbangan.
'Mereka bilang pernikahan itu rumah,' kata Dimas suatu malam, ketika mereka akhirnya sama-sama di rumah setelah sembilan hari, makan mi rebus tengah malam berdua di dapur kecil. 'Tapi pernikahan kita lebih mirip bandara. Ada yang datang, ada yang pergi, ada jadwal, ada delay. Dan yang penting bukan bandaranya — yang penting adalah kita selalu tahu penerbangan berikutnya satu sama lain.'
Dan Tiara, yang menyeruput kuah minya, menjawab dengan apa yang ia rasakan sebagai kebenaran rumah tangga mereka: 'Aku tidak butuh kamu selalu di rumah. Aku butuh kamu selalu bisa kuhubungi, selalu jujur, dan selalu ada di ujung pendaratan. Itu saja. Kehadiran itu bisa dicicil. Kepercayaan tidak.'
Mereka menguji filosofi itu pada musim pertama yang sesungguhnya: Lebaran pertama sebagai suami-istri. Dua keluarga, dua kota, satu hari raya — dan jadwal maskapai yang tidak peduli pada kalender siapa pun, karena Lebaran adalah musim tersibuk penerbangan, musim ketika seluruh negeri bergerak pulang dan awak kabin adalah orang-orang yang mengantarkannya. Tiara mendapat jatah terbang tepat di hari-H; dan Dimas, tanpa diminta, mengatur sesuatu yang membuat Tiara memandanginya lama di meja makan: ia mengatur cutinya mengikuti jadwal terbang istrinya, sehingga mereka merayakan Lebaran di kota layover — bukan di kampung siapa pun — dan keluarga kedua belah pihak dikunjungi bergantian setelahnya, dengan adil yang dihitung seperti menghitung rute. Ibunya Tiara, di telepon, tertawa mendengar skema itu: 'Kalian ini. Lebaran saja pakai rotasi.' 'Itulah kami, Bu,' jawab Tiara. 'Dua orang yang menikah dengan kalender.' Dan di malam takbir itu, di kamar hotel layover yang asing, mereka berdua menyalakan video call dengan dua keluarga sekaligus — dua layar, dua kampung halaman, dua meja makan — dan Tiara mendengarkan takbir dari dua kota sekaligus, dan berpikir bahwa rumah ternyata bukan tempat. Rumah adalah orang-orang yang menunggumu di layar, di dua kota, di dua dapur yang sama-sama mengepul.
Ada malam-malam sulit juga, tentu — malam ketika Tiara pulang dengan tubuh remuk dan Dimas sedang dikejar laporan, dan keduanya terlalu lelah untuk menjadi pasangan yang baik, dan hal-hal kecil menjadi besar di udara yang tipis: cucian yang menumpuk, janji makan yang batal, kata yang keluar lebih tajam dari maksudnya. Mereka bertengkar untuk pertama kalinya di bulan keempat — tentang sesuatu yang sangat kecil, jadwal mencuci piring — dan bertengkar dengan cara dua orang yang bekerja dengan prosedur: dingin, runtut, mengerikan. Lalu Dimas berhenti di tengah, menatap dapur mereka, dan tertawa — tertawa sungguhan — dan berkata, 'Kita sedang bertengkar tentang piring dengan gaya rapat evaluasi insiden. Dengar kita. Kita butuh liburan, bukan mediator.' Dan mereka berakhir tertawa berdua di lantai dapur, dan piring itu dicuci berdua, dan peraturan pertama rumah tangga mereka lahir malam itu, ditulis di kertas dan ditempel di pintu kulkas di antara dua kalender: Tidak ada pertengkaran yang dibawa tidur melewati jam dua belas malam. Semua insiden dievaluasi di tempat kejadian, ditutup sebelum fajar.
Di luar peraturan itu, mereka membangun ritual-ritual kecil yang menjadi tulang punggung rumah tangga dua jadwal. Ritual pertama: panggilan sebelum tidur, bagaimanapun pendeknya — lima menit, dua menit, tiga puluh detik — tidak pernah dilewati, karena mereka sama-sama tahu bahwa yang merusak hubungan jarak jauh bukan jaraknya, melainkan hari-hari yang tidak tercatat. Ritual kedua: hari pertama pulang adalah hari suci — tidak boleh ada urusan lain, tidak boleh ada tamu; hari itu milik berdua, biasanya diisi dengan tidur bersama sampai siang dan makan yang aneh-aneh, dan tidak ada kemewahan di dunia ini yang menandinginya. Ritual ketiga, yang diciptakan Dimas dan menjadi favorit Tiara: laporan cuaca. Setiap malam, apa pun keadaannya, mereka saling mengirim 'laporan cuaca' — satu kalimat tentang keadaan hati masing-masing, dalam istilah penerbangan: 'cerah berawan', 'turbulensi ringan di sektor pekerjaan', 'badai tapi bandara tujuan terlihat'. Kalimat-kalimat itu, ditulis buru-buru di antara kesibukan, menjadi peta emosi yang mereka baca setiap hari — dan di tahun-tahun berikutnya, ketika badai-badai yang sesungguhnya datang, peta itulah yang membuat mereka tidak pernah tersesat terlalu jauh dari satu sama lain. Karena pasangan yang saling melaporkan cuacanya, pikir Tiara suatu malam, tidak akan pernah kehilangan kontak menara — bahkan ketika jarak memisahkan mereka ribuan kilometer, bahkan ketika salah satu sedang berada di langit yang paling jauh.