Lamaran itu tidak terjadi di restoran, tidak di bawah lampu, tidak dengan lutut yang menyentuh lantai. Ia terjadi di bandara — tentu saja — di kafe sudut terminal, di sela layover dua jam, di antara dua penerbangan dan satu kehidupan yang harus terus berjalan.
Enam bulan setelah pemakaman, hidup sudah kembali ke jalurnya — rotasi, jam udara, warung yang kini dipegang ibu dengan tenaga yang perlahan pulih. Dan sore itu, di kafe bandara yang mereka jadikan markas tidak resmi, Dimas meletakkan sebuah map di meja. Bukan cincin. Map.
Tiara menatapnya. 'Laporan apa ini?'
'Baca,' kata Dimas, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuat tangan Tiara bergerak lebih cepat dari biasanya.
Isinya bukan laporan. Halaman pertamanya berjudul, dengan font resmi kantor keselamatan: PROPOSAL — dan di bawahnya, dalam format yang sempurna, lengkap dengan latar belakang, tujuan, dan metodologi: usulan pembentukan tim tetap dua orang, dengan masa kontrak seumur hidup, dengan pembagian tugas yang sudah ditulis — yang satu menjaga langit, yang satu menjaga daratan, dan keduanya saling menjaga pada semua titik temu. Halaman terakhirnya adalah satu baris, ditulis dengan tangan, di luar format, dengan huruf Dimas yang rapi: Tiara Anindhita, akan kau jadikan aku rumahmu, sebagaimana kau telah menjadi rumahku? — D.
Tiara membaca seluruhnya dua kali — karena ia sudah bersumpah tidak pernah lagi menandatangani apa pun tanpa membaca — dan ketika ia mengangkat wajah, matanya basah dan tertawa sekaligus. 'Ini lamaran paling aneh dalam sejarah.'
'Ini lamaran yang bisa direvisi bersama,' kata Dimas. 'Aku tidak akan melamar orang yang pekerjaannya membaca dokumen dengan puisi. Aku melamarnya dengan dokumen.'
Dan Tiara tidak menjawab langsung — karena ada satu hal yang harus ia katakan lebih dulu, satu hal yang sudah ia simpan sejak malam di teras kursi roda: 'Aku mau. Dengan seluruh hatiku, aku mau. Tapi dengar syaratku dulu, karena ini penting dan tidak bisa ditawar: aku tidak akan berhenti terbang. Bukan sekarang, bukan setelah menikah, bukan setelah apa pun. Pekerjaan ini bukan hal yang kulakukan sambil menunggu kehidupan yang sebenarnya, Dimas — pekerjaan ini bagian dari siapa aku. Kalau kamu menikahiku, kamu menikahi awak kabin: jadwalnya, layovernya, malam-malamnya. Aku tidak bisa menjadi istri yang selalu ada di rumah. Yang bisa kujanjikan adalah: aku akan selalu pulang. Selalu. Itu satu-satunya janji yang bisa kutulis dengan darah.'
Dimas mendengarkannya dengan wajah yang tidak berubah — dan ketika ia menjawab, jawabannya sudah siap, karena lelaki itu tidak pernah datang tanpa membaca dokumen lengkapnya: 'Aku tidak melamar pramugari supaya dia berhenti jadi pramugari. Aku melamar perempuan yang berdiri di lorong ketika semua orang jatuh — dan aku tidak punya hak, tidak akan pernah punya hak, memintanya duduk.' Ia membuka halaman terakhir map itu lagi, dan menambahkan satu baris dengan pulpen, di bawah tangannya sendiri: Diterima tanpa syarat tambahan. Terbanglah. Aku yang menjaga daratnya. — D.
Dan di kafe bandara itu, di antara pengumuman boarding dan troli-troli koper, Tiara menandatangani proposal itu dengan tanda tangan yang menumpang di atas nama mereka berdua — dan tidak ada materai, tidak ada saksi, hanya dua orang dan satu map dan seluruh masa depan yang akhirnya punya nomor penerbangan — dan seorang pramusaji kafe yang menyaksikan dari kejauhan dan mengira mereka baru saja menandatangani kontrak bisnis, yang dalam arti tertentu memang benar: kontrak untuk saling menjaga, tanpa tanggal kedaluwarsa, dengan klausul yang tidak bisa dibatalkan cuaca.
Kabar itu diumumkan dengan cara yang khas mereka berdua: tidak diumumkan. Ia berjalan dari orang ke orang seperti kabar baik selalu berjalan — Kinanti yang pertama, lewat telepon, dengan jeritan yang membuat rekan sekamar layovernya menggedor dinding; lalu ibu Tiara, yang mendengarnya dengan tenang dan hanya berkata, 'Ibu sudah tahu sejak dia menggoreng tempe. Laki-laki yang menggoreng tempe dengan mencatat waktu itu sudah menandatangani kontrak dengan dirinya sendiri. Tinggal kamunya yang lama menyadarinya.'; lalu Pak Bima, yang menerima kabar itu dengan komentar purser yang kering: 'Bagus. Sekarang ada dua orang yang memeriksa pekerjaanmu. Aku pensiun dari tugas mengawasimu.'; dan Yustika, yang membacanya dari wajah Tiara sebelum satu kata diucapkan, dan hanya mengangguk dan berkata, 'Pilihan yang benar. Orang darat yang mengerti orang udara itu spesies langka. Pelihara baik-baik.'
Malam itu, di kamar kosnya, Tiara meletakkan map proposal itu di meja — di samping map ikatan dinas yang lama — dan memandangi keduanya berdampingan: dua dokumen yang menentukan hidupnya. Yang pertama ia tandatangani tanpa membaca, oleh seorang gadis dua puluh dua tahun yang takut dan terburu-buru. Yang kedua ia baca dua kali, ia pertanyakan, ia perjuangkan syaratnya — oleh perempuan yang sudah belajar bahwa kertas apa pun yang ditandatangani dengan mata terbuka bukanlah rantai, melainkan perahu. Dan ia menulis di buku catatannya, di halaman yang bersih, satu baris untuk menutup musim yang panjang itu: Dulu aku menandatangani karena takut kehilangan kesempatan. Sekarang aku menandatangani karena tahu apa yang kupilih. Begitulah caranya seseorang dewasa: bukan ketika ia berhenti menandatangani, melainkan ketika ia mulai membaca. Dan malam ini, aku membaca masa depanku sendiri — dan menandatanganinya dengan tangan yang tidak gemetar.