Kehadiran Dimas di rumah duka itu awalnya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang disampaikan dalam bahasa kota kecil: tetangga yang bertanya pada ibu Tiara dengan senyum yang berarti, kerabat yang menilai dari cara lelaki itu menyalami para tetua. Dan Dimas menjawab semuanya tanpa tahu ia sedang dijawab — dengan cara kerjanya: ia mengangkat kursi, memasang terpal tambahan ketika hujan, mencatat sumbangan warga dengan rapi di buku yang ia sediakan sendiri, dan duduk di barisan belakang tahlil dengan khusyuk yang tidak dibuat-buat. Para tetangga mencatat semuanya dengan mata yang jeli: lelaki kota yang tidak jijik pada kerja kasar, yang tahu cara duduk di lantai, yang mengisi gelas tamu sebelum gelasnya sendiri. Di kota kecil, penilaian tidak dilakukan lewat kata-kata — penilaian dilakukan lewat pengamatan, dan pengamatan selama seminggu penuh itu menghasilkan vonis yang bulat: boleh.
Ibunya Tiara mengawasinya tiga hari — dengan mata yang Tiara kenali, mata yang dulu menilai setiap pemasok warung — dan pada malam ketiga, di dapur, ketika hanya mereka bertiga, ibu itu berkata langsung, sebagaimana ibu-ibu kota kecil: 'Kamu ini siapanya Tiara, sebenarnya?'
Dan Dimas, yang menghadapi pertanyaan itu sambil mencuci piring, menjawab dengan cara yang membuat Tiara — yang mendengar dari ruang tengah — menahan napas: 'Saya orang yang ingin menjadi keluarga Ibu, Bu. Belum resmi, dan saya tidak akan buru-buru — hari-hari ini bukan waktunya. Tapi saya datang bukan sebagai tamu. Saya datang sebagai orang yang berniat tinggal lama. Kalau Ibu berkenan menilai saya, nilailah dari cara saya bekerja di rumah ini seminggu ini. Itu satu-satunya referensi yang berani saya tawarkan.'
Ibunya diam sebentar. Lalu — dan Tiara mendengarnya dari ruang tengah dengan dada yang hangat — suara wajan mulai berbunyi lagi, dan ibunya berkata, 'Orang yang mencuci piring di rumah duka tanpa disuruh tidak perlu referensi lain. Besok kamu goreng tempe. Kita lihat apimu.'
Dan keesokan harinya Dimas menggoreng tempe dengan serius seorang analis — memperhatikan api, mencatat waktu, bertanya tentang tingkat kekeringan minyak — dan ibu Tiara menontonnya dengan ekspresi yang berangsur-angsur menjadi sesuatu yang Tiara kenali sebagai penerimaan. 'Kaku,' kata ibunya akhirnya. 'Tapi teliti. Seperti anakku. Kalian berdua memang sepasang orang yang akan membesar-besarkan prosedur menggoreng tempe.' Dan dapur itu tertawa, dan untuk beberapa menit, rumah duka itu berhenti menjadi rumah duka dan menjadi dapur yang biasa — dapur yang mengepul, yang berbunyi, yang hidup, yang bau bawangnya lebih kuat dari bau kemenyan — dan Tiara tahu, dengan kepastian yang tidak memerlukan pasal: inilah orangnya. Bukan karena ia datang. Karena ia tahu cara datang: tidak di depan, melainkan di dapur; tidak dengan kata-kata besar, melainkan dengan api yang dijaga kecil.
Malam terakhir sebelum mereka kembali ke kota, Dimas dan Tiara duduk di teras — teras kursi roda itu — dan Dimas berkata pelan, 'Aku tidak akan bilang aku mengerti kehilanganmu. Aku tidak mengerti, dan aku tidak akan pura-pura. Yang bisa kuberikan hanya ini: aku akan ada di sini, di sebelahmu, untuk waktu yang sangat lama. Bukan untuk menggantikan. Tidak ada yang bisa menggantikan. Hanya untuk memastikan bahwa kursi-kursi yang masih terisi di hidupmu tidak pernah kosong karena kelalaian.' Dan Tiara bersandar ke bahunya — untuk pertama kalinya, di teras itu, di depan kursi roda yang kosong — dan langit malam kota kecil itu penuh bintang yang tidak pernah terlihat dari kota besar, dan keduanya diam dalam waktu yang lama, dan keheningan itu adalah keheningan yang utuh.
Hari-hari terakhir Dimas di kampung itu juga menyelesaikan satu pekerjaan yang tidak terlihat siapa pun kecuali ibu Tiara: surat-surat. Karena duka itu ternyata datang dengan administrasi — warung atas nama bapaknya, rekening kecil yang harus diurus, surat-surat tanah rumah — dan ibu Tiara, perempuan tangguh yang tidak pernah gentar menghadapi apa pun di warung, menjadi kecil di depan meja birokrasi. Dimas mengerjakannya dengan sabar seorang analis dokumen: membuat daftar apa yang harus diurus, urut dari yang paling mendesak, mengantar ibu itu ke kantor-kantor, menerjemahkan bahasa formulir menjadi bahasa dapur. 'Kalau begini caranya,' kata ibu Tiara pada suatu malam, sambil memandangi map yang sudah rapi, 'pantes anakku jatuh hati. Bukan karena kamu ganteng — kamu biasa saja. Tapi kamu mengerjakan yang tidak terlihat. Laki-laki yang mengerjakan yang tidak terlihat itu langka, Nak Dimas. Yang terlihat itu semua orang bisa.' Dan Dimas menjawab dengan kalimat yang oleh Tiara — yang mendengar dari ambang pintu dengan kantong teh di tangan — disimpan di tempat yang paling dalam: 'Bapaknya Tiara juga begitu, Bu. Saya dengar cerita-cerita di tahlilan kemarin. Dia tidak pernah terlihat melakukan apa pun, dan kampung ini penuh orang yang diselamatkannya. Saya tidak sedang menjadi pahlawan. Saya sedang belajar menjadi seperti mertua yang tidak sempat saya temui dalam keadaan sehat — dan itu, Bu, adalah standar yang sangat tinggi untuk dikejar.' Ibunya tidak menjawab. Ia hanya menuang teh untuk Dimas dengan tangannya sendiri — dan di rumah itu, di minggu itu, teh yang dituang sendiri oleh tuan rumah adalah dokumen penerimaan yang paling resmi.