Minggu kedua adalah minggu hafalan. Tiara mulai memahami bahwa pelatihan kru kabin sebagian besar adalah perang melawan lupa. Ada terlalu banyak hal yang harus diingat persis, dalam urutan persis, dengan kata-kata persis, sampai jadi refleks yang tidak butuh otak — karena saat ia benar-benar membutuhkannya, otaknya mungkin sedang penuh ketakutan dan tidak bisa dipakai berpikir.
Mereka menghafal lokasi setiap peralatan darurat di kabin. Pemadam api ada di sini dan di sini. Tabung oksigen portabel ada di kompartemen ini. Kapak ada di sini — ya, ada kapak di pesawat, dan Tiara sempat tertawa kecil sampai Pak Hilmy menjelaskan untuk apa, dan ia berhenti tertawa. Megafon, kotak P3K, kit medis yang lebih lengkap dan hanya boleh dibuka jika ada tenaga medis di pesawat, pelampung di bawah setiap kursi, masker oksigen yang akan jatuh dari atas jika tekanan kabin hilang. Ia menggambar peta kabin di buku catatannya, menutup mata, dan menunjuk dengan jari ke udara. Galley depan. Galley belakang. Pintu satu kiri, pintu satu kanan.
Dan ada safety demonstration — peragaan keselamatan yang penumpang lihat di awal penerbangan, yang sebagian besar penumpang abaikan sambil menunduk ke ponsel. Tiara dulu salah satu dari penumpang itu, dulu sekali, di satu-satunya penerbangan yang pernah ia naiki sebelum hidupnya berubah. Sekarang ia harus melakukannya, dan ia menyadari betapa rumitnya gerakan yang tampak sepele itu. Sabuk pengaman dipasang dan dilepas dengan gerakan tangan yang harus searah, halus, terlihat dari belakang kabin. Masker oksigen ditarik, ditempelkan ke hidung dan mulut, tali dikencangkan — dan penekanan pada satu kalimat yang Pak Hilmy ulang berkali-kali: pasang punya kalian dulu sebelum membantu orang lain. Pelampung di bawah kursi, cara mengembangkannya, peringatan untuk tidak mengembangkannya di dalam kabin.
"Gerakan kalian adalah bahasa," kata Pak Hilmy. "Penumpang yang tidak mendengar harus tetap mengerti hanya dari tangan kalian. Maka tangan kalian tidak boleh ragu. Tangan yang ragu mengajarkan keraguan."
Penilaian pertama datang di hari Kamis. Mereka harus melakukan seluruh peragaan, sendiri, di depan Pak Hilmy dan seorang instruktur kedua, sementara rekaman suara berjalan dan mereka harus sinkron dengan rekaman itu. Tiara berdiri di lorong mock-up, jantungnya berdebar tidak karena sulit, melainkan karena diperhatikan. Ia paling kuat saat tidak ada yang melihat. Diperhatikan membuat tangannya tiba-tiba terasa milik orang lain.
Rekaman mulai. Ia memasang sabuk — benar. Masker — ia menarik masker, menempelkannya, dan saat hendak mengencangkan tali, jarinya tersangkut di rambut yang ia ikat kurang rapi pagi itu. Sepersekian detik. Gerakannya tersendat. Rekaman terus berjalan dan ia tertinggal setengah kalimat. Ia merasa darahnya turun ke kaki. Pak Hilmy mengangkat pena.
Dan saat itulah Kinanti, yang berdiri di lorong seberang melakukan peragaan yang sama secara bersamaan, sengaja menjatuhkan kartu petunjuk keselamatannya ke lantai dengan suara tepukan kecil. Mata Pak Hilmy bergeser sepersekian detik ke arah suara itu — cukup lama untuk melewatkan tersendatnya Tiara, dan saat ia kembali menatap, Tiara sudah pulih, sudah kembali sinkron dengan rekaman, tangannya kembali menjadi miliknya. Ia menyelesaikan peragaan tanpa kesalahan lain.
"Cukup," kata Pak Hilmy di akhir. Ia menulis sesuatu. "Anindhita, rambut. Ikat lebih tinggi dan lebih kencang. Apa pun yang bisa menyangkut, akan menyangkut, di saat paling buruk. Itu hukum." Lalu ke Kinanti: "Putri, kartu jangan dijatuhkan." Nada suaranya datar, tapi ada jeda kecil sesudahnya, dan Tiara tahu — Pak Hilmy tahu. Ia melihat semuanya. Ia hanya memilih untuk tidak menuliskannya.
Di kantin siang itu, Tiara duduk di seberang Kinanti dengan nampan nasi yang sama murahnya. "Kamu sengaja," kata Tiara, pelan.
Kinanti mengangkat bahu, mengunyah. Ia perempuan dari Surabaya dengan logat yang tidak ia sembunyikan dan tawa yang keras, kebalikan dari Tiara dalam hampir segala hal. "Aku lihat tanganmu nyangkut. Aku pikir, sayang banget kalau kamu gugur cuma gara-gara rambut. Kamu yang paling rajin di sini, tahu. Aku sering nyontek peta kabinmu."
Tiara tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak terbiasa ditolong. Ia terbiasa menanggung sendiri, dan ada bagian kecil dirinya yang merasa berutang sekarang, dan berutang membuatnya tidak nyaman. "Terima kasih," katanya akhirnya, kaku.
"Santai," kata Kinanti. "Lain kali kamu yang jatuhin kartu buat aku." Ia tertawa, dan tawanya yang keras membuat beberapa kepala menoleh, dan Tiara mendapati dirinya tersenyum — senyum betulan, bukan senyum gigi atas yang ia latih di cermin.
Mereka belajar bersama setelah itu. Kinanti hafal cepat tapi ceroboh; Tiara teliti tapi lambat panas. Mereka saling menambal. Malam-malam di asrama pelatihan diisi suara dua perempuan menggumamkan urutan membuka pintu darurat seperti mantra. Pintu satu kiri, periksa luar, tarik tuas, putar. Lagi. Lagi. Sampai tangan tidak butuh otak. Persahabatan itu tumbuh canggung di antara kelelahan, tidak dengan kata-kata besar, hanya dengan berbagi peta kabin dan menjatuhkan kartu di saat yang tepat. Tiara mencatat dalam hati bahwa di tempat di mana setiap orang adalah pesaing untuk kursi yang terbatas, satu orang memilih untuk tidak menjadi pesaingnya. Itu hal langka. Ia akan mengingatnya.