Senin pagi pukul tujuh, dua puluh dua siswa sudah berbaris di depan pintu ruang pelatihan, dan Pak Hilmy datang pukul tujuh kurang satu menit. Ia tidak menyapa. Ia berdiri di depan dan menunggu jam dinding menyentuh angka tujuh tepat, lalu berkata, "Yang masuk setelah menit ini, pulang." Tidak ada yang masuk setelah menit itu. Tiara sudah berada di sana sejak setengah enam.
Pak Hilmy berusia mungkin lima puluhan, rambutnya rapi disisir ke belakang, dan ia berbicara dengan suara datar yang tidak pernah meninggi karena tidak perlu. "Saya tidak melatih kalian untuk tersenyum," katanya di menit pertama. "Pramugari yang hanya bisa tersenyum bisa diganti mesin. Saya melatih kalian untuk menjadi orang yang masih bisa berpikir saat semua orang di sekitar kalian sudah tidak bisa. Itu pekerjaan kalian. Sisanya — minuman, selimut, senyum — itu bonus."
Mereka digiring ke ruang sebelah, dan di situlah Tiara pertama kali melihatnya: mock-up kabin. Sebuah potongan badan pesawat yang dibangun di dalam gedung, lengkap dengan kursi penumpang tiga-tiga, kompartemen bagasi di atas, lorong sempit di tengah, dan dua pintu darurat yang berat. Lampunya bisa diatur, bisa terang, bisa dibikin gelap dan berasap. Di ujung kabin ada galley dengan troli dan oven, dan di dekat tiap pintu ada kursi lipat yang menempel di dinding — jump seat, kata Pak Hilmy. Kursi awak. Tempat mereka duduk saat lepas landas dan mendarat, menghadap ke arah penumpang, menjadi orang yang dilihat penumpang saat semuanya genting.
"Kalian akan menghabiskan hidup kalian di kursi lipat itu," kata Pak Hilmy. "Penumpang tidak pernah benar-benar melihatnya. Mereka melihat kalian berdiri di lorong menuang teh. Tapi pekerjaan kalian yang sebenarnya terjadi saat kalian duduk di situ, terikat sabuk empat titik, menghadap mereka, menghafal hal-hal yang kalian harap tidak akan pernah kalian butuhkan."
Pagi itu mereka belajar membuka pintu darurat. Terdengar sederhana sampai Tiara mencobanya. Pintu kabin tidak seperti pintu rumah. Ada tuas yang harus diputar dengan urutan tertentu, ada bobot yang berat, ada langkah memeriksa ke luar jendela apakah aman membuka, apakah ada api di sisi itu, apakah seluncuran akan mengembang ke air atau ke beton. Pak Hilmy memintanya mengulang lima kali. Pada kali ketiga ia salah urutan dan Pak Hilmy hanya berkata, "Mati. Kalau ini sungguhan, sebelas orang di belakangmu mati karena kamu lupa satu langkah. Ulang." Tiara mengulang. Tangannya gemetar di kali keempat, tapi kali kelima ia melakukannya benar, dan Pak Hilmy melanjutkan ke siswa berikutnya tanpa komentar. Ia belajar bahwa tidak ada komentar berarti ia benar, dan itu adalah pujian tertinggi yang akan ia terima.
Siang harinya mereka pindah ke kolam. Bukan kolam tes yang dulu, tapi kolam evakuasi yang lebih besar, dengan seluncuran karet kuning besar yang terjulur dari mock-up pintu di tepi kolam. Mereka harus melompat ke seluncuran, meluncur, lalu masuk ke air, membalikkan rakit penyelamat yang sengaja diturunkan terbalik, dan menaikinya. Berkelompok. Berisik. Air masuk ke hidung. Seseorang menjerit kecil setiap kali ada yang jatuh canggung.
Di sinilah hari pertama memakan korbannya. Seorang siswa lelaki, namanya Reno, panik saat masuk air. Ia bisa berenang — ia lolos tes renang seperti mereka semua — tapi seluncuran yang curam dan air yang tiba-tiba membuatnya kehilangan arah, dan ia menggapai-gapai, menelan air, dan harus ditarik keluar oleh dua instruktur. Ia tidak apa-apa secara fisik. Tapi ia gemetar di tepi kolam dengan handuk di bahu, dan Pak Hilmy berjongkok di depannya dan berbicara pelan, terlalu pelan untuk didengar yang lain. Reno mengangguk. Sore itu Reno tidak ada lagi di angkatan. Tidak ada pengumuman. Hanya satu kursi yang kosong keesokan harinya.
Korban kedua lebih halus. Seorang siswa perempuan, Mega, dengan rambut paling rapi dan senyum paling lebar di antara mereka semua, ternyata tidak bisa membalik rakit. Bukan karena tidak kuat — rakit itu memang berat dan butuh teknik, bukan tenaga — tapi karena setiap kali gagal ia tertawa kecil dan berkata "aduh, maaf" dengan nada manja yang di ruang lain mungkin menggemaskan tapi di kolam itu terdengar salah. Pak Hilmy memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. Tiara melihat catatan kecil yang ditulis instruktur di papan dada. Beberapa hari kemudian Mega juga tidak ada.
Tiara membalik rakit di percobaan kedua. Ia menemukan teknik itu — bukan mengangkat, tapi memanjat ke salah satu sisi dan menggunakan berat badannya sendiri sebagai tuas, lalu jatuh ke belakang sambil menarik tali. Rakit itu terbalik ke posisi benar dengan suara berdebum di air. Ia naik, basah kuyup, dada naik turun, kaporit di mata. Pak Hilmy lewat dan tidak berkata apa-apa.
Malam itu di kos, Tiara berbaring di kasur tipis dengan tubuh yang pegal di tempat-tempat yang ia tidak tahu bisa pegal. Bahunya nyeri karena seluncuran. Tenggorokannya perih karena kaporit. Ia membuka ponsel dan ada pesan dari ibunya, foto bapaknya yang sedang duduk di kursi roda di teras, tersenyum, dengan tulisan 'bapak nanyain kamu terus'. Ia menatap foto itu lama. Lalu ia menutup mata. Besok pukul tujuh kurang satu menit. Ia memasang dua alarm. Ia tidak akan menjadi kursi kosong.