Ruangan di lantai tiga gedung pelatihan itu berbau karpet baru dan kopi instan. Tiara Anindhita berdiri di garis kuning yang ditempel di lantai, punggung lurus, dagu sejajar tanah, persis seperti yang diperintahkan perempuan berseragam tadi. Di sampingnya, sembilan pelamar lain berdiri dengan postur yang sama-sama dipaksakan. Mereka semua sudah lolos tiga tahap sebelumnya. Pagi ini tinggal satu hal yang tersisa: pengukuran, dan tanda tangan.
"Lepas sepatu. Berdiri tegak ke dinding," kata perempuan itu sambil menempelkan penggaris logam ke kepala Tiara. Logamnya dingin di kulit kepala. "Seratus enam puluh empat. Lulus."
Tiara menahan napas yang baru ia sadari sudah ia tahan sejak masuk. Tinggi badan. Dua tahun lalu ia gagal di tahap ini di seleksi maskapai lain karena kurang satu sentimeter, dan sejak itu ia belajar berdiri dengan cara yang benar — menarik tulang belakang ke atas seolah ada tali menggantungnya dari ubun-ubun. Trik kecil yang ia baca di forum. Hari ini trik itu menyelamatkannya satu sentimeter.
Mereka digiring ke kolam di basement. Air kolamnya dingin dan berbau kaporit pekat. Tiara tidak pandai berenang. Ia bisa, sekadar tidak tenggelam, tapi tidak pandai. Tesnya sederhana di atas kertas: berenang lima puluh meter, lalu mengapung tanpa bergerak selama tiga menit. Yang membuat tenggorokannya kering bukan jaraknya, melainkan tiga menit mengapung itu — diam, percaya pada air, tidak panik.
Ia masuk. Dingin menampar kulitnya. Ia berenang dengan gaya yang tidak indah tapi efisien, dan saat tiba di ujung ia berbalik telentang dan membiarkan tubuhnya naik. Langit-langit kolam berkeringat di atasnya. Tiga menit terasa seperti pengakuan dosa. Ia mendengar detak jantungnya sendiri, terdengar suara air masuk-keluar telinga, dan ia memaksa dirinya untuk tidak menggerakkan apa pun kecuali dada yang naik turun pelan. Saat peluit berbunyi, jari-jarinya sudah keriput dan ia masih hidup, masih mengapung.
"Naik," kata instruktur kolam. Tidak ada selamat. Hanya naik.
Setelah berganti pakaian dan rambut masih basah diikat rapi, mereka dipanggil satu per satu ke ruang wawancara terakhir. Saat namanya disebut, Tiara berdiri dan menyadari kaos kakinya masih sedikit lembap di dalam sepatu. Ia masuk dengan senyum yang sudah ia latih di cermin kos selama berhari-hari — senyum yang menunjukkan gigi atas, tidak berlebihan, ramah tapi tidak genit. Senyum yang katanya disukai maskapai.
Di dalam ada tiga orang di balik meja panjang. Dua perempuan dan satu lelaki paruh baya berkemeja putih lengan panjang. Mereka menanyakan hal-hal yang sudah ia duga. Mengapa pramugari. Apa yang akan ia lakukan jika penumpang marah. Apakah ia bersedia ditempatkan di basis mana pun. Apakah ia bersedia bekerja di hari libur, di malam tahun baru, di Lebaran.
"Bersedia, Pak," jawab Tiara, dan ia berkata jujur. Ia memang bersedia. Ia bersedia bekerja kapan saja asal pekerjaan itu nyata dan dibayar.
Lelaki itu melihat berkasnya. "Anak sulung. Dari luar kota. Orang tua..." Ia membaca tanpa menyelesaikan kalimat, lalu mengangkat wajah. "Ibu kamu masih kerja?"
"Warung kecil, Pak. Bapak sakit, sudah lama tidak kerja."
Lelaki itu mengangguk pelan, dan untuk sesaat ada sesuatu di matanya yang bukan penilaian, melainkan pengenalan. Seperti ia pernah melihat banyak Tiara sebelumnya, duduk di kursi yang sama, dengan kaos kaki yang sama lembap. Lalu ekspresi itu hilang dan ia kembali profesional. "Kalau kamu lolos, kamu akan tahu pekerjaan ini tidak seperti yang ada di foto-foto. Kamu siap dengan itu?"
"Siap, Pak," jawab Tiara. Ia belum tahu apa arti kalimat itu. Tapi ia tahu jawaban yang benar.
Mereka diminta menunggu di lorong. Dua jam. Lorong itu sempit dengan deretan kursi besi yang dingin, dan di ujungnya — Tiara baru menyadarinya kemudian — ada sebuah kursi lipat yang menempel ke dinding, jenis yang bisa diturunkan dan dinaikkan, untuk petugas kebersihan mungkin. Ia memandanginya tanpa makna apa-apa. Hanya kursi lipat di ujung lorong. Ia belum tahu bahwa seluruh masa depannya akan berbentuk seperti itu.
Saat namanya kembali dipanggil, kakinya mati rasa karena terlalu lama duduk. Perempuan berseragam menyodorkan map. "Selamat. Anda diterima sebagai siswa kru kabin. Ini perjanjian ikatan dinas. Baca, lalu tanda tangan di halaman terakhir, bermaterai."
Tiara membuka map itu. Halamannya banyak, hurufnya kecil dan rapat, kalimatnya panjang-panjang dengan kata-kata seperti 'pihak pertama' dan 'pihak kedua' dan 'kewajiban pengembalian biaya pendidikan'. Ada angka di salah satu pasal, angka dengan banyak nol, jumlah yang harus ia kembalikan jika ia berhenti sebelum masa ikatan dinas selesai. Matanya menyentuh angka itu lalu memantul darinya, seperti tangan menyentuh wajan panas. Ia tidak benar-benar membacanya. Ia tidak mau membacanya. Kalau ia membacanya, ia takut tangannya akan gemetar saat menandatangani, dan ia tidak boleh gemetar. Bukan sekarang. Bukan setelah kolam, setelah penggaris logam, setelah dua tahun.
Ia membalik ke halaman terakhir. Menempelkan materai dari dompetnya — ia sudah membawanya, sudah tahu akan butuh, sudah membaca di forum. Ia menulis namanya dengan huruf yang ia paksa rapi. Tiara Anindhita. Tanggal. Tanda tangan menumpang setengah di atas materai, seperti diajarkan.
"Selamat datang," kata perempuan itu, dan kali ini ada senyum tipis, senyum yang sudah lelah tapi tulus. "Pelatihan mulai Senin. Jangan terlambat. Instruktur kami tidak suka yang terlambat."
Tiara keluar gedung saat sore mulai turun. Ia berdiri di trotoar dengan map di pelukan, dan menelepon ibunya. Suara di seberang serak karena sinyal dan karena haru. Ibunya menangis. Ia mendengar suara televisi warung di latar, suara orang membeli rokok sebatang. Ia membayangkan ibunya menyeka mata dengan ujung kerudung di balik etalase kaca. "Sudah, Bu, jangan nangis," katanya, tapi suaranya sendiri pecah di kata terakhir.
Ia menutup telepon. Di tangannya ada map dengan angka yang tidak ia baca. Di depannya jalan ramai kota yang asing, klakson, asap, dan langit jingga yang ia tidak punya waktu untuk memandanginya. Ia bukan anak kecil yang menatap pesawat lewat dan bermimpi. Ia perempuan dua puluh dua tahun yang baru saja menandatangani sesuatu yang tidak ia mengerti sepenuhnya, demi keluar dari kesempitan yang ia mengerti terlalu baik. Ia membetulkan tali tas di bahunya dan mulai berjalan ke halte. Senin masih jauh, dan ia sudah merasa lelah.