Ia memeriksa kompartemen itu sekali lagi sebelum meninggalkannya — punggung tangan ke permukaan, suhu turun, tidak ada pijar di celah. Api kecil, mungkin dari power bank yang terbakar di dalam tas seseorang, pikirnya; penyebab paling biasa dari kejadian paling tidak biasa. Ia menandai kompartemen itu dalam kepalanya — baris empat belas, atas — untuk dilaporkan, untuk diawasi, untuk tidak dibuka sampai di darat.
Lalu ia bergerak ke depan, dan kali ini lorong itu harus ia tembus sampai ujung.
Tapi sebelum itu, ada pekerjaan dua menit yang tidak boleh dilewati: mengamankan bekas kebakaran. Kompartemen itu masih panas, dan di dalamnya ada tas yang masih menyimpan bara. Membukanya berbahaya, meninggalkannya tanpa pengawasan sama bahayanya. Tiara melakukan apa yang diajarkan manual untuk api yang sudah padam tapi belum dingin: ia memindahkan manusia, bukan barang. Tiga baris di sekitar kompartemen itu ia kosongkan — penumpangnya ia geser ke baris-baris belakang yang longgar, dengan perintah pendek dan tangan yang menuntun, tidak ada yang diberi waktu untuk bertanya. Seorang pemuda pemilik tas itu — mahasiswa, dari ransel dan wajahnya — berdiri membeku memandangi kompartemen dengan wajah yang lebih putih dari masker: 'Itu tas saya. Power bank saya. Saya—saya tidak tahu, Mbak, saya tidak tahu bisa begini—' Suaranya mulai naik ke nada kehancuran, dan Tiara menangkapnya dengan satu kalimat yang harus tepat: 'Dengar saya. Anda lapor sekarang, itu yang benar. Nanti di darat Anda ceritakan semuanya ke petugas, jujur, itu membantu semua orang. Sekarang duduk di baris yang saya tunjuk, dan tarik napas. Kejadian ini bukan salah niat Anda. Tapi mulai malam ini Anda akan bercerita ke semua kenalan Anda: power bank tidak pernah masuk bagasi. Itu tugas Anda. Kerjakan.' Pemuda itu mengangguk-angguk dan duduk, dan Tiara menandai wajahnya dalam ingatan — saksi, pemilik barang, orang yang akan menjelaskan penyebab. Ia meletakkan satu pemadam cadangan di kursi baris kosong terdekat, dalam jangkauan, untuk siapa pun yang harus mengambilnya cepat. Lalu ia mencoba interfon galley tengah — tombol kokpit — dan tidak mendapat jawaban; mereka sedang sibuk menerbangkan pesawat yang turun, dan itu benar, itu prioritas yang benar. Maka ia membuat keputusan kedua malam itu: kabin membutuhkan mata di depan, dan Pak Bima membutuhkan ditemukan.
Di tengah jalan, satu tangan menangkap lengannya. Mbak Resa — pening, pucat, dengan bekas benturan memerah di pelipis — berdiri dengan sempoyongan, tabung oksigen portabel di tangan satunya. 'Aku ikut,' katanya, dan suaranya bergetar tapi kata-katanya tidak.
'Resa, kamu kebentur—'
'Aku ikut,' ulangnya. 'Dua awak lebih baik dari satu. Kamu sendiri yang ngajarin aku itu kalau latihan.' Ia tersenyum miring, senyum orang yang sedang menahan mual. 'Lagipula kamu demam. Aku lihat dari tadi pagi. Kamu kira aku buta?'
Tidak ada waktu untuk kaget bahwa rahasianya terbaca, tidak ada waktu untuk apa pun selain menerima. 'Kalau peningmu makin parah, kamu duduk. Itu perintah.'
'Deal,' kata Resa, dengan sisa gurauan yang terakhir. 'Dan kamu juga — kalau demammu makin jelek, kamu bilang. Jangan jadi pahlawan sendirian. Itu juga perintah. Aku seniormu di zona belakang, ingat itu.'
Mereka bergerak berdua menyusuri sisa lorong — dua seragam di antara masker yang berayun, satu merunduk dengan pemadam, satu dengan tabung oksigen, dan Tiara merasakan perubahan kecil tapi menentukan: ia tidak lagi sendirian. Keberanian, pikirnya sekilas, ternyata bukan benda yang dimiliki orang. Keberanian adalah benda yang berpindah-pindah, dari orang yang masih berdiri ke orang yang hampir jatuh, dan kembali lagi. Resa bangkit karena melihatnya berdiri. Dan ia, menyadari itu, berdiri lebih tegak lagi — karena sekarang ada yang menopang dirinya dengan cara menopang.
Di sektor depan, keadaannya lebih kacau. Di sinilah dentuman itu paling terasa, di sinilah barang-barang terlempar dari kompartemen yang terbuka — dan di sinilah, di galley depan, Tiara menemukan jawaban atas diamnya Pak Bima.
Purser itu terbaring setengah duduk di lantai galley, punggung ke panel oven, tangannya memegangi lengan kirinya yang menggantung dengan sudut yang salah. Wajahnya pucat, pelipisnya basah keringat, tapi matanya — matanya masih mata Pak Bima: menyala, menghitung, memerintah bahkan sebelum suaranya keluar.
'Bahu sama kepala,' katanya, ringkas, faktual, persis laporan yang ia banggakan dari anak buahnya. 'Aku kelempar waktu dentuman. Kepala kena panel. Aku sadar, tapi aku nggak bisa berdiri dulu. Laporan.'
Dan Tiara, di tengah asap yang menipis dan masker yang menari, melapor kepada pursernya yang terbaring seperti melapor dalam latihan — ringkas, faktual, tidak panik: 'Dekompresi terkendali, descent sedang berjalan. Kabin belakang aman, masker terpasang, brace sudah diperintahkan. Ada api kecil di kompartemen atas baris empat belas — power bank, kemungkinan — sudah saya padamkan dengan Halon, belum dibuka, masih perlu diawasi. Awak: Resa cedera kepala ringan tapi bertugas, sisanya di posisi. Saya baru dari belakang.'
Pak Bima mendengarkan dengan mata menyipit menahan sakit, dan di akhir laporan itu ia mengangguk — sekali, perlahan — dan berkata sesuatu yang akan Tiara ingat selama sisa hidupnya: 'Mulai sekarang kamu yang jalan. Aku yang mikir dari lantai. Ambil posisi. Kabin ini sekarang kamu yang pegang, Anindhita.'