Asap itu tipis, tapi asap di pesawat tidak pernah tipis dengan cara yang menenangkan. Asap di pesawat adalah kabar yang baru setengah disampaikan.
Tiara membuat keputusan dalam waktu yang tidak sempat diukur. Zona belakang sudah sementara tertata — masker terpasang, penumpang duduk, Mbak Resa diamankan di jump seat dengan sabuknya. Kabin belakang bisa bertahan beberapa menit tanpanya. Yang tidak bisa menunggu adalah benang abu-abu yang naik dari kompartemen di tengah kabin, dan Pak Bima yang tidak menjawab dari depan.
Sebelum bergerak, ia menyelesaikan satu pekerjaan kecil yang menentukan: memastikan belakang bisa berdiri sendiri. Ia menghentikan seorang lelaki paruh baya di baris dua puluh satu yang duduk dengan wajah paling tenang di antara yang panik — dan untungnya, ketika ditanya cepat, lelaki itu menjawab 'saya dokter' — dan menyerahkan satu tugas kepadanya: mengawasi Mbak Resa di jump seat, memastikannya tetap sadar, memanggil lewat megafon kalau perlu. Orang panik yang diberi tugas berhenti menjadi beban dan mulai menjadi kaki tangan; itu pelajaran dari insiden baris sebelas dulu, dan malam ini pelajaran itu bekerja lagi. Ia memeriksa dua baris terakhir dengan mata sekali jalan: seorang ibu dengan bayi, masker bayi ditempelkan terbalik oleh tangan yang panik, dan Tiara membetulkannya, lalu mengatupkan tangan ibu itu pada masker anaknya — 'tahan begini, Bu, jangan dilepas, napasnya pelan-pelan' — sebelum akhirnya berbalik ke arah depan. Belakangnya aman. Aman sementara. Sementara adalah satu-satunya bentuk aman yang ada di udara, dan malam ini ia belajar mencintai kata itu.
Ia meraih tabung oksigen portabel dari braketnya — gerakan yang ia lakukan tanpa berpikir, tangan yang sudah tahu sebelum kepala — memasang maskernya, dan mulai bergerak ke depan menyusuri lorong. Bukan berjalan tegak. Asap naik ke atas; udara yang bisa bernapas ada di bawah. Ia bergerak merunduk, satu tangan di sandaran kursi, satu tangan memegang tabung, mata menyipit di balik masker yang menempel ketat.
Lorong itu — yang biasanya ia lewati ratusan kali sehari sambil menyeimbangkan nampan — kini terasa seperti tempat lain. Masker oksigen berayun-ayun di kiri kanan, kuning, seperti buah yang menyeramkan. Kepala-kepala penumpang menunduk dalam posisi yang setengah benar setengah panik. Ada yang menangis, ada yang berdoa keras-keras, ada seorang anak kecil yang memandanginya lewat dengan mata besar, dan Tiara menepuk bahu anak itu sekilas saat lewat — satu sentuhan, tidak lebih, karena ia tidak punya lebih — dan anak itu menunduk kembali dengan lebih tenang. Aneh, pikirnya sekilas, betapa sedikit yang dibutuhkan manusia: hanya tanda bahwa ada yang masih bergerak dengan tahu arah.
Kompartemen di baris tengah itulah sumbernya. Tiara bisa melihatnya sekarang: asap mengepul pelan dari celah kompartemen overhead di atas baris empat belas, dan di bawahnya, penumpang sudah bergeser panik ke baris-baris sekitar. Bau plastik terbakar menyengat bahkan lewat masker. Dan di antara bau itu ada bunyi lain yang lebih halus dan lebih menakutkan: desis kecil yang terus-menerus, seperti sesuatu yang mendidih di balik pintu kompartemen — suara yang tidak ia kenal dari latihan mana pun, karena di ruang fire trainer api berbunyi jujur, sedangkan ini berbunyi seperti rahasia.
Pikirannya bekerja dengan kecepatan yang tidak ia kenali sebagai miliknya. Jangan buka kompartemen. Itu aturan pertama — Pak Hilmy di ruang fire trainer, api yang diberi udara segar akan menyambutnya. Api di ruang tertutup dijaga tetap tertutup. Ia menyentuh permukaan kompartemen dengan punggung tangan — panas, tapi belum menyala keluar. Belum. Ia punya waktu, tapi waktu yang dihitung detik.
Ia berbalik setengah berlari ke galley tengah, mencabut pemadam Halon dari braketnya — jenis yang benar, jangan air, jangan pernah air untuk api listrik di kabin, karena air menghantarkan dan kabin ini penuh kabel — dan kembali dengan langkah yang tidak berlari, karena awak yang berlari menulari kabin dengan panik. Ia mengarahkan nozzle ke celah kompartemen tanpa membukanya, menyemprotkan pendek-pendek ke dalam celah, membiarkan gas itu bekerja di ruang tertutup, lalu menunggu dengan jantung yang berdentum di telinga. Asap itu melambat. Belum berhenti, tapi melambat. Ia menyemprot lagi, pendek, terukur, sebagaimana dilatih: jangan habiskan pemadam dalam satu semburan panik.
'Kompartemennya jangan dibuka!' teriaknya kepada penumpang terdekat yang setengah berdiri hendak membantu. 'Duduk! Sabuk! Jauhkan wajah dari atas!' Perintah pendek, bisa dikerjakan, memotong panik. Lelaki itu duduk.
Asap berhenti menggelembung. Yang tersisa hanyalah sisa yang menyebar di kabin, diencerkan oleh sistem yang masih bekerja. Tiara berdiri di lorong dengan pemadam setengah kosong di tangan, napasnya berderu di dalam masker, dan menyadari tangannya gemetar — bukan karena api, melainkan karena kesadaran yang datang terlambat: barusan ia memadamkan api di dalam pesawat yang sedang terbang. Di ruang latihan hal itu sudah menakutkan. Di sini, di ketinggian yang sedang turun, hal itu baru saja berbatas tipis dengan hal yang tidak ingin ia beri nama. Ia menyandarkan bahunya sepersekian detik ke sandaran kursi terdekat — hanya sepersekian detik, hanya untuk memastikan kakinya masih memerintah — lalu menegakkan diri lagi. Tidak ada yang boleh melihat awak kehilangan kaki. Itu juga aturan yang tidak tertulis. Dan dari sudut matanya, ia menangkap beberapa penumpang memandanginya dengan wajah yang berubah — bukan lagi wajah orang yang menunggu diselamatkan, melainkan wajah orang yang baru menyaksikan sesuatu. Ia mengenali perubahan itu, dan memanfaatkannya: kepercayaan adalah sumber daya, dan malam ini setiap tetesnya berharga.
Tapi belum selesai. Asap adalah tanya yang sudah dijawab. Pak Bima adalah tanya yang belum.