Kabin ini sekarang kamu yang pegang.
Tidak ada upacara, tidak ada waktu untuk merasakan berat kalimat itu. Tiara mengambil alih sebagaimana seseorang mengambil alih kemudi dari tangan yang terluka: cepat, sepenuhnya, dan dengan doa agar layak.
Prioritasnya tersusun sendiri dalam kepalanya, dilatih oleh ratusan jam latihan dan tiga bulan terbang. Satu: komunikasi dengan kokpit. Dua: keadaan Pak Bima. Tiga: kesiapan pendaratan darurat — kabin, pintu, penumpang.
Interfon galley depan masih berfungsi. Ia mengangkatnya, dan untuk pertama kalinya suaranya yang bicara dengan kokpit — bukan suara Pak Bima. 'Cabin, forward. Ini Anindhita, crew junior zona belakang. Purser cedera, bahu dan kepala, sadar penuh, tidak bisa berdiri. Situasi kabin: dekompresi terkendali, masker terpasang, brace sudah. Ada kebakaran kecil di kompartemen baris empat belas, sudah dipadamkan Halon, masih kami awasi, kompartemen tidak dibuka. Mohon info waktu ke touchdown dan kondisi di luar.'
Jeda pendek. Lalu suara kapten — tenang, terukur, suara yang dilatih sama kerasnya dengan suara mereka: 'Bagus, cabin. Waktu ke touchdown sekitar delapan menit. Emergency services sudah siaga di darat. Kami akan berhenti di runway dan evakuasi di sana kalau perlu — siapkan evakuasi terkendali. Dan, cabin—' jeda sepersersekian detik, '—kerja bagus tetap di atas sana. Kami dengar semuanya dari belakang layar.'
Delapan menit. Tiara meletakkan interfon dan berbalik ke kabin yang menatapnya — ratusan mata di atas masker-masker kuning, mata yang mencari satu hal: apakah orang berseragam ini tahu apa yang harus dilakukan. Dan untuk sepersekian detik, di bawah pandangan semua mata itu, demamnya berdenyut, lututnya mengingatkan bahwa ia sudah berdiri sejak pukul tiga pagi, dan sebuah suara kecil di kepalanya bertanya apa haknya.
Lalu ia menutup suara itu dengan cara yang diajarkan rumah latihan: bukan dengan menyangkalnya, melainkan dengan bekerja.
'Ibu, Bapak, dengarkan saya.' Suaranya mengisi kabin lewat megafon — rendah, keras, mantap. 'Pesawat akan mendarat dalam beberapa menit. Pilot kita sudah menyiapkan segalanya, dan di darat sudah ada bantuan menunggu. Yang perlu kalian lakukan hanya tiga hal, dan kalian semua bisa melakukannya: tetap duduk, sabuk kencang, posisi brace seperti ini—' ia memperagakan, tangan yang tidak ragu, '—kepala menunduk, tangan melindungi kepala. Setelah berhenti, jangan berdiri sebelum saya perintahkan. Ikuti suara saya dan awak yang lain. Kami sudah berlatih untuk ini ratusan kali. Kalian cukup mengikuti kami satu kali ini.'
Ia tidak menjanjikan semuanya akan baik-baik saja. Ia belajar dari Yustika bahwa penumpang bisa mencium janji palsu, dan janji palsu lebih merusak daripada kabar buruk. Ia menjanjikan sesuatu yang bisa ia jamin: bahwa ada yang memegang kendali, dan kendali itu tidak akan dilepas.
Ia membagi kabin dengan isyarat kepada dua awak lain yang masih utuh di sektor depan — Rani dan Gilang, dua wajah pucat yang menegak ketika diberi tugas — mengunci kembali apa yang perlu dikunci, memeriksa baris demi baris. Resa ia tempatkan duduk di jump seat depan, bertugas sebagai mata — 'kamu lihat, kamu teriakkan, itu tugasmu, jangan bangun' — dan Pak Bima, dengan lengan yang sudah ia bidai darurat dengan selendang dan kompartemen empuk, ia dengarkan berbisik instruksi dari lantai galley: pintu mana yang dinilai aman, mana yang dekat sumber asap, urutan evakuasi kalau diperlukan.
Membidai lengan seorang purser dengan selendang awak adalah pekerjaan yang tidak ada di manual — tapi prinsipnya ada: gunakan yang tersedia, jangan tunggu yang sempurna. Tiara mengikatnya dengan gerakan yang ia pelajari di kelas P3K, di bawah napas Pak Bima yang tertahan sakit, dan purser itu bahkan di tengah kesakitan masih mengoreksinya: 'Simpulnya di sini. Kalau aku pingsan, kamu jangan buang waktu menggerakkan aku. Kabin dulu. Aku bisa pingsan nanti.' 'Bapak tidak akan pingsan,' jawab Tiara, mengencangkan simpul. 'Itu perintah.' Dan Pak Bima tertawa — satu hentakan kecil yang membuatnya meringis — dan berkata, 'Bagus. Kamu sudah mulai berani memerintah purser. Berarti kamu sudah pegang kabinnya betulan.' Di baris-baris, Rani dan Gilang bekerja dengan mata yang masih menyimpan ketakutan tapi tangan yang bergerak benar — sepasang lansia di baris delapan yang sabuknya longgar dikencangkan dengan lembut, seorang perempuan yang hiperventilasi dibimbing napasnya, masker-masker yang terlepas dikembalikan ke wajah-wajah. Ketakutan tidak hilang dari kabin itu; ketakutan hanya diatur, dibagi ke tangan-tangan yang masih bekerja, sampai setiap orang memikul sejumput yang bisa dipikul.
'Pintu depan kiri dan belakang kanan,' bisik Pak Bima. 'Sisi kanan depan dekat kompartemen itu. Jangan buka kalau nggak pasti. Ingat, Anindhita: lebih baik lambat dan benar daripada cepat dan salah. Kalau kami sudah berhenti, waktu berjalan lebih lambat dari rasanya. Hitung. Jangan dihitung.'
Delapan menit itu berjalan. Dan ketika suara mesin berubah nada dan pilot mengumumkan persiapan akhir, Tiara duduk di jump seat depan — kursi lipat yang bukan miliknya, di zona yang bukan zonanya — menarik sabuk empat titik, dan meneriakkan komando brace terakhir dengan suara yang tidak habis-habisnya, sambil dalam hati, untuk pertama kalinya sejak dentuman itu, ia membiarkan dirinya berpikir tentang ibunya. Satu detik saja. Hanya satu detik. Lalu ia menguncinya kembali, dan memandang kabinnya, dan menunggu tanah.