Penerbangan berjalan biasa selama lebih dari satu jam, dan kebiasaan itulah yang membuat Tiara hampir lupa pada demamnya. Service flow pertama selesai. Penumpang sebagian tertidur, sebagian menonton layar ponsel, lampu kabin diredupkan untuk segmen tengah penerbangan di atas laut. Tiara berada di zona belakang, di galley, mengamankan troli setelah putaran minuman, dengan Mbak Resa sebagai rekan zonanya dan Pak Bima di depan sebagai purser. Demamnya berdenyut samar, tertekan obat, dan ia membiarkan dirinya percaya bahwa ia akan melewati hari ini.
Lalu terdengar dentuman.
Bukan ledakan dramatis, melainkan dentuman tumpul yang dalam, terasa di tulang lebih dari di telinga, disusul perubahan tekanan yang Tiara rasakan di gendang telinganya seperti tangan menekan dari dalam. Sepersekian detik kemudian, dengan suara mendesis keras yang persis seperti di ruang latihan tapi seribu kali lebih nyata, masker oksigen jatuh dari kompartemen di langit-langit di sebagian kabin — berayun-ayun di selangnya, benda kuning yang menari di atas kepala penumpang yang terjaga dengan jeritan.
Tubuh Tiara bergerak sebelum otaknya selesai takut. Pelatihan mengambil alih di tempat ketakutan biasanya berdiri. Pasang punya sendiri dulu. Ia meraih masker awak terdekat di galley belakang, menempelkannya, menarik untuk mengaktifkan, bernapas — oksigen masuk, dingin dan menyelamatkan, dan untuk satu detik kepalanya yang berkabut demam menjadi tajam. Hanya setelah maskernya terpasang ia menoleh ke kabin.
Yang ia lihat adalah kepanikan yang mulai mengalir. Penumpang menggapai-gapai masker dengan cara yang salah, ada yang berdiri, ada yang berebut ke lorong — naluri buta untuk lari ke suatu tempat di ruang di mana tidak ada tempat untuk lari. Mbak Resa, yang berdiri lebih dekat ke lorong saat dentuman terjadi, terhuyung dan membentur sudut galley; ia memegang kepalanya, masih sadar tapi pening, berusaha meraih masker dengan tangan gemetar. Dan dari depan, lewat celah lorong yang Tiara tidak bisa lihat ujungnya, tidak ada komando. Interfon diam. Pak Bima diam.
Lalu lampu sabuk menyala dan suara dari kokpit terdengar — tegas, memerintahkan awak dan penumpang tetap di kursi, oksigen, brace untuk turun cepat. Pilot mulai menurunkan pesawat ke ketinggian di mana udara cukup untuk bernapas tanpa masker; Tiara merasakan lantai miring turun, perutnya naik, telinga menjerit. Itu prosedur, ia tahu, itu benar, descent darurat. Tapi prosedur dari kokpit tidak menenangkan kabin yang panik. Itu tugas awak. Itu tugasnya.
Ia melihat ke depan sekali lagi mencari Pak Bima dan tidak menemukannya berdiri di mana seharusnya. Mbak Resa pening dan menempel di galley. Di zona belakang, di ujung lorong tempat penumpang tidak pernah benar-benar melihatnya, Tiara menyadari dengan kejernihan dingin yang aneh — mungkin demam, mungkin oksigen, mungkin pelatihan — bahwa ia adalah satu-satunya awak yang masih berdiri tegak di zonanya. Orang terakhir yang berdiri.
Ia tidak punya waktu untuk takut pada kenyataan itu. Ia hanya punya checklist di kepalanya, ditulis ulang oleh Pak Hilmy ratusan kali sampai jadi refleks, dan ia mulai menjalankannya dari kursi lipat di ujung lorong.
Suaranya keluar lebih kuat dari yang ia kira mampu, dipenuhi otoritas yang ia tidak tahu ia punya, komando yang diteriakkan jelas dan berulang seperti diajarkan: pasang masker, tarik ke arah Anda, tutupi hidung dan mulut, bernapas normal. Ia tidak menjelaskan, tidak menenangkan dengan kata-kata lembut yang tidak ada gunanya saat panik — ia memberi perintah pendek dan dapat dikerjakan, karena perintah yang bisa dikerjakan memotong panik lebih baik dari penghiburan. Ia menunjuk dengan tangan yang tidak boleh ragu — Pak Hilmy: tangan yang ragu mengajarkan keraguan — menunjuk ke penumpang yang berdiri, memerintahkannya duduk, sabuk, sekarang. Suaranya tidak meninggi menjadi jeritan; ia rendah dan keras dan mantap, suara yang membuat orang patuh karena ia terdengar seperti orang yang tahu apa yang ia lakukan, dan keajaibannya adalah dengan bersuara seperti itu, ia menjadi orang yang tahu apa yang ia lakukan.
Seorang lelaki besar di lorong tidak mau duduk, panik memuncak menjadi amukan, mendorong ke depan hendak entah ke mana. Tiara menghadangnya — tubuh kecilnya di tengah lorong sempit, satu tangan berpegang sandaran, suaranya memotong panik lelaki itu dengan namanya sendiri yang ia baca dari boarding pass yang tergeletak: "Pak, lihat saya. Duduk. Anak Bapak butuh Bapak duduk dan tenang. Sekarang." Memberi lelaki itu peran, bukan sekadar larangan. Lelaki itu, dengan mata liar, menemukan secercah akal di kata 'anak Bapak', dan jatuh kembali ke kursinya. Tiara menahan amukan dengan kalimat, bukan tenaga, karena tenaga bukan miliknya tapi kalimat adalah.
Ia membantu Mbak Resa memasang masker, mendudukkannya di jump seat, mengamankannya. Ia memerintahkan baris-baris untuk brace, memperagakan posisi dengan tangannya — kepala menunduk, tangan di belakang kepala — bahasa tangan yang penumpang tuli ketakutan tetap bisa baca. Descent terus, telinga menjerit, masker menari di seluruh kabin. Dan di tengah semua itu, demamnya berdenyut di balik oksigen, dan Tiara berdiri tegak di kursi lipat di ujung lorong, menjalankan checklist darurat dari kepalanya satu langkah demi satu langkah, menjadi persis seperti yang Pak Hilmy katakan di hari pertama — orang yang masih bisa berpikir saat semua orang sudah tidak bisa.
Lalu hidungnya menangkapnya. Tipis, samar, tapi tidak salah lagi di antara bau oksigen dan ketakutan: asap. Merayap dari salah satu kompartemen overhead di tengah kabin, benang abu-abu yang naik pelan, dan jantung Tiara — yang sudah berpacu karena demam dan descent — menemukan gigi yang lebih tinggi lagi. Asap di udara, di pesawat yang sedang turun cepat, dengan purser yang tak terlihat di depan. Ia tahu di mana pemadam terdekat. Ia tahu jenis apa untuk api di kompartemen. Tangannya sudah bergerak ke arah itu, refleks yang dilatih ribuan kali, ketika matanya menyusuri lorong ke depan — ke arah galley depan dan pintu yang dari kursi lipatnya di ujung lorong ini tidak pernah, tidak sekali pun, bisa ia lihat ujungnya. Pak Bima ada di sana. Sumber asap, mungkin, ada di sana. Dan jawaban atas apakah ini akan menjadi penerbangan terakhirnya — dalam segala arti yang mungkin — ada di balik lorong panjang berasap yang harus ia tembus, sendirian, dengan demam di tubuh dan checklist di kepala, sebelum ia sempat tahu seberapa parah keadaan yang menunggu di depan.