Masa percobaan punya hitungan mundur yang tidak terlihat tapi selalu terasa. Setiap awak baru tahu tanggalnya, tanggal ketika maskapai memutuskan apakah ia tetap atau pulang, dan tahu pula bahwa keputusan itu dibangun dari catatan-catatan kecil yang dikumpulkan sepanjang jalan — pujian samar, teguran kecil, hal-hal yang masuk ke berkas yang tidak pernah ia lihat tapi selalu ada.
Teguran Tiara datang di penerbangan pagi ke Medan, dan itu bukan kesalahan besar. Justru karena kecil maka menyakitkan. Saat boarding, dalam keramaian penumpang yang menyumbat lorong, ia membantu seorang penumpang menaikkan koper berat ke kompartemen — koper yang sebenarnya melebihi batas ukuran kabin, yang seharusnya ia tolak dan minta dititipkan ke bagasi. Tapi penumpang itu terburu-buru, lorong penuh, di belakangnya antrean panjang, dan Tiara, lelah dan ingin lorong tetap mengalir, membiarkannya. Koper itu masuk, kompartemen ditutup dengan sedikit dipaksa. Tidak ada yang terjadi. Penerbangan mulus.
Tapi Yustika melihatnya. Dan Yustika, yang adil sampai ke titik yang menyakitkan, melaporkannya — bukan karena benci, tapi karena itu memang pelanggaran prosedur, dan prosedur ada karena koper yang dipaksa masuk bisa jatuh menimpa kepala penumpang saat turbulensi, atau menyumbat jalur evakuasi. "Kamu tahu itu over," kata Yustika setelahnya, suaranya tidak marah, justru itu yang membuatnya lebih berat. "Kamu biarin karena capek dan nggak mau ribut. Aku ngerti. Tapi 'nggak mau ribut' itu yang bikin orang celaka. Aku catat. Kamu masih percobaan, jadi aku harus catat. Kalau kamu udah tetap, mungkin cukup kuingatkan. Sekarang aku nggak boleh ambil risiko itu buat kamu."
Tiara mengerti. Itu yang membuatnya tidak bisa marah. Yustika benar. Ia melanggar prosedur karena lelah, dan lelah bukan alasan yang diterima dunia ini, karena lelah adalah keadaan default pekerjaan ini, dan jika lelah jadi alasan maka tidak ada prosedur yang akan selamat. Tapi mengerti tidak mengurangi takutnya. Catatan itu masuk berkas. Satu lagi, dan masa percobaannya bisa berakhir dengan kata 'tidak diperpanjang', dan di balik kata itu menjulang angka ikatan dinas yang tidak pernah ia baca — utang yang harus ia tebus jika hubungan kerja putus karena kesalahannya, jumlah yang akan menghancurkan keluarganya lebih dari sekadar kehilangan pekerjaan.
Ia menghitung lagi di buku catatannya malam itu, kali ini bukan gaji, tapi waktu. Berapa minggu tersisa masa percobaan. Berapa penerbangan. Dan ia memutuskan, dengan logika lelah yang keliru, bahwa ia tidak boleh kehilangan satu jam dinas pun. Setiap penerbangan adalah jam udara, adalah penilaian, adalah kesempatan menebus catatan itu dengan kinerja bersih. Mundur sekarang, sakit sekarang, lapor tidak fit sekarang — semua terasa seperti kemewahan yang tidak ia mampu.
Maka ketika demam datang, ia menyembunyikannya.
Demam itu mulai sebagai nyeri di belakang mata dan rasa dingin yang aneh di kamar yang tidak dingin. Ia tahu tubuhnya. Ia tahu ini bukan kelelahan biasa. Tenggorokannya mulai gatal, persendiannya nyeri. Aturan jelas: awak yang tidak fit tidak boleh terbang, harus lapor, harus istirahat — bukan demi kenyamanan, tapi karena awak demam adalah awak yang lambat berpikir, dan di kursi lipat, berpikir lambat bisa berarti nyawa. Tiara tahu aturan itu. Ia mengajarkannya pada dirinya sendiri sambil menelan dua butir obat penurun panas dan obat pilek yang membuat kepala sedikit ringan dan demam turun samar di permukaan.
Ia menatap wajahnya di cermin kos pukul tiga pagi. Pucat di balik riasan yang ia tebalkan sedikit. Mata yang terlalu berkilau karena demam, yang ia samarkan dengan tetes mata. Ia tahu ia melakukan hal yang salah. Setiap sel di otaknya yang dilatih Pak Hilmy berkata salah. Tapi di seberang otak itu ada catatan di berkas, ada angka ikatan dinas, ada bapak di kursi roda memegang dadanya, ada ibu menangis bahagia di telepon. Dan beban-beban itu, yang masing-masing masuk akal, bertumpuk menjadi keputusan yang tidak masuk akal: ia akan terbang.
Ia tidak melakukannya dengan heroik. Ia melakukannya dengan takut. Tidak ada perasaan pahlawan saat ia menelan obat dan mengikat rambut tinggi dan kencang seperti yang diajarkan, supaya tidak ada yang menyangkut di saat paling buruk. Hanya perhitungan keliru seorang perempuan lelah yang terlalu banyak ditumpangi tanggungan. Ia mengirim pesan ke Kinanti — 'aku agak nggak enak badan tapi masih kuat, doain ya' — dan Kinanti membalas cepat, 'TIARA jangan sok kuat, lapor aja, ada aturannya', dan Tiara menatap pesan itu lama, lalu mengetik 'nanti kalau parah aku lapor', lalu mematikan ponsel sebelum Kinanti membalas lagi, karena ia tahu Kinanti benar dan ia tidak ingin dibenarkan.
Di ruang briefing pagi itu, Pak Bima membaca informasi penerbangan: rute melintasi laut, perkiraan cuaca berawan tebal di sektor menjelang tujuan, ketinggian jelajah biasa. Ia mengajukan pertanyaan keselamatan acak, dan kali ini tidak ke Tiara. Tiara duduk dengan punggung tegak, demam berdenyut samar di balik obat, dan menjawab dalam hati setiap pertanyaan yang dilempar ke orang lain — karena mengulang prosedur dalam hati adalah satu-satunya cara ia meyakinkan dirinya bahwa otaknya masih bekerja. Pemadam di sini. Tabung oksigen di sana. Pasang punya sendiri dulu. Brace, brace, kepala ke bawah, tangan di belakang kepala. Ia mengulangnya seperti doa. Ia tidak tahu, saat melangkah ke pesawat dengan demam yang ia sembunyikan, bahwa hari ini ia akan membutuhkan setiap kata dari doa itu, dan lebih dari yang ia kira.