Lebih dari sebulan setelah rencana berjalan itu dibicarakan, Kiana menata dua penyangga di tempat yang memperoleh cahaya pagi. Hari Minggu kembali datang, tetapi kini ia hanya memiliki dua pekan sebelum programnya selesai.
Perjalanan pada Minggu yang mereka pilih sesudah percakapan tentang perlengkapan benar-benar telah dilakukan. Gian memastikan penilaian kemampuan serta pengaturannya terlebih dahulu, dan mereka berjalan dengan pendamping yang mengetahui kebutuhan keduanya. Kiana menunjukkan izin dan perlengkapan yang diminta sebelum mereka memasuki jalur yang telah dipilih.
Mereka memilih bagian yang dapat dijalani tanpa memaksa tubuh mengejar cerita keberanian. Ketika perlu beristirahat, mereka berhenti. Foto yang dibawa pulang memperlihatkan sepatu berdebu, rambut berantakan, dan dua wajah yang sama-sama tampak lega ketika akhirnya duduk.
Kini foto itu menjadi salah satu bahan yang diletakkan Kiana di dekat kanvas.
Gian membawa penyangga tambahan yang dahulu dibelinya. Kiana menunjukkan cara membuka kaki penyangga sampai cukup stabil, lalu memintanya mencoba sendiri sebelum kanvas dipasang.
'Kalau jatuh, lukisannya bisa langsung jadi abstrak,' katanya.
'Aku kira semua yang kubuat nanti memang begitu.'
'Jangan mencari pembelaan sebelum mulai.'
Mereka tertawa. Kiana menyediakan dua wadah air yang berbeda dan menjelaskan mana yang boleh dipakai, lalu memindahkan minuman ke meja lain agar tidak tertukar. Gian mengamati susunan tersebut dengan kesungguhan yang membuatnya tampak akan menghadapi pemeriksaan.
Kiana meminta ia memilih bagian pemandangan yang ingin dilukis. Tidak perlu langsung memenuhi seluruh kanvas dengan gunung, awan, serta pohon yang paling sulit.
Gian membuat garis pertama terlalu kuat. Ia mengangkat kuas, menatapnya, lalu mencari wajah Kiana.
'Belum perlu minta tolong,' katanya. 'Lihat dulu mau kamu apakan.'
Ia menunggu. Gian menambahkan warna lain di samping garis itu. Hasilnya belum menyerupai apa yang ia bayangkan, tetapi kali ini ia mencoba lagi sebelum mengatakan tidak bisa.
Di sebelahnya, Kiana mengerjakan kanvas sendiri. Sesekali ia menjawab pertanyaan, lalu kembali kepada garisnya agar Gian mempunyai kesempatan membuat keputusan tanpa terus diawasi.
Menjelang siang, lengan baju Gian mendapat noda. Ia menatap noda itu dengan pasrah, sementara Kiana tertawa karena untuk sekali ini ada orang lain yang harus memeriksa pakaian sebelum turun makan.
Dua kanvas mereka tidak tampak seperti dibuat oleh orang yang sama. Justru itu yang membuat Kiana senang ketika mereka berhenti dan melihatnya dari jarak beberapa langkah.
'Punyaku seperti gunung yang kesal,' kata Gian.
'Mungkin dia baru disuruh tersenyum untuk foto.'
Gian menoleh. Kiana tidak berhasil menahan tawa. Ia mengizinkan lelaki itu memotret lukisannya, lalu mengambil foto keduanya berdiri di dekat karya masing-masing dengan bantuan Hannah yang kebetulan datang setelah urusannya selesai.
Hannah meminta mereka bergeser agar tidak menutupi kanvas. Sesudah memotret, ia memeriksa hasil dan menyerahkan telepon kembali kepada Kiana.
'Yang ini paling tidak buram. Kalian terlalu banyak tertawa.'
Setelah makan, mereka membersihkan kuas bersama. Gian menemukan bahwa warna pada sela jarinya tidak langsung hilang hanya dengan sekali dibilas. Kiana menyodorkan kain yang memang dipakai untuk pekerjaan itu, lalu memisahkan kuas yang masih perlu dibersihkan lagi. Mereka memindahkan wadah air sebelum merapikan penyangga, sehingga tidak mengulang tumpahan yang pernah membuat Kiana sibuk mengepel. Kanvas diletakkan aman tanpa ditumpuk dengan barang lain.
Sore harinya, Kiana menuntaskan pesan untuk Bu Dyah mengenai barang sumbangan yang sudah diterima dan diperiksa. Bagian terakhir pengiriman akhirnya tiba pada pekan sebelumnya. Catatan penerimaan serta penataannya sudah dicocokkan, sehingga tidak ada pesanan yang dibiarkan menggantung ketika dirinya pulang nanti.
Omar juga mengirim kabar mengenai pembicaraan dengan pihak televisi. Bahan koreksi telah diterima untuk peninjauan, tetapi pembahasan kegiatan berikutnya akan dilakukan setelah Kiana kembali dan bersedia. Ia menyetujui waktu berbicara tanpa menjanjikan akan mengambil semua tawaran.
Menjelang malam, Suster Ratih menelepon pada waktu yang telah disepakati. Kiana duduk di tempat yang lebih tenang setelah mengatakan kepada Gian bahwa ia ingin berbicara dengan keluarga.
Suster Ratih lebih dahulu menanyakan apakah foto lukisan boleh diperlihatkan lagi. Kiana mengiyakan. Ia mendengar gerakan di ujung sana, kemudian suara Suster Ratih yang lebih pelan saat mengajak ayah Kiana melihat gambar.
Kiana menggenggam telepon dengan kedua tangan.
'Bapak ingin berbicara sebentar,' kata Suster Ratih. 'Saya mendampingi di sini.'
Ada jeda ketika telepon benar-benar berpindah tangan. Kiana menunggu tanpa mengulang panggilan berkali-kali, sampai suara yang lama dirindukannya terdengar lebih dekat.
'Kiana?'
'Iya, Yah. Kiana di sini.'
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ada napas dan suara kecil yang tidak dapat ia tafsirkan dari jauh. Kiana membiarkan waktu berjalan tanpa memintanya segera menjadi percakapan seperti dahulu.
'Langitnya,' kata ayah akhirnya. 'Di lukisanmu itu... seperti yang Sekar suka.'
Kiana menutup mulut dengan satu tangan. Nama ibunya membuat bagian dalam dadanya terasa bergerak, tetapi ia tetap mendengarkan.
'Bagus,' lanjut ayahnya, dengan kalimat yang pendek. 'Kamu masih melukis.'
'Iya, Yah.'
Ia tidak berhasil menyembunyikan air mata. Kiana mengusap pipi, menarik napas, kemudian mengatakan bahwa ia ingin memperlihatkan lukisannya secara langsung ketika sudah memungkinkan.
Ayahnya terdiam cukup lama sebelum mengucapkan maaf. Kata-katanya tidak tersusun menjadi penjelasan lengkap tentang tahun-tahun yang hilang. Kiana juga tidak mengubah satu percakapan menjadi bukti bahwa semua kesulitan mereka selesai.
Namun ia menjawab bahwa ia mendengar.
'Aku ingin ketemu Ayah,' katanya. 'Nanti kita atur dengan Suster Ratih, ya.'
Ketika suara ayah mulai lelah, Suster Ratih membantu mengambil kembali telepon dengan sepengetahuannya. Kiana berbicara sebentar mengenai keadaan saat itu, lalu mereka menyelesaikan panggilan tanpa memaksa ayah menambah kalimat yang belum sanggup diucapkan.
Sesudah layar gelap, Kiana tetap duduk. Gian datang setelah ia mengirim pesan memintanya menemani. Ia tidak langsung menanyakan isi seluruh percakapan.
Kiana yang memilih menceritakan bagian tentang langit dan Sekar.
Gian duduk di sisinya. Ketika Kiana menyandarkan kepala setelah meminta ruang lebih dekat, ia membiarkan perempuan itu menangis sampai napasnya perlahan teratur.
Di dekat pintu, dua kanvas menunggu cukup kering untuk dipindahkan. Malam itu Kiana tidak membutuhkan lukisan baru. Ia hanya ingin menyimpan suara ayahnya tanpa terburu-buru menjadikannya apa-apa selain sesuatu yang akhirnya sampai.