Pagi Senin, Bayu menemukan Kiana dan Gian di dekat tempat membeli kopi sebelum kegiatan mereka dimulai. Ia berhenti ketika melihat cara keduanya berbicara, lalu mengangkat gelasnya seolah baru saja mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang belum diajukan.
'Oke,' katanya.
Kiana menatapnya. 'Oke apa?'
'Oke. Aku beli kopi dulu.'
'Kamu sudah pegang kopi.'
Bayu melihat gelasnya sendiri, kemudian tertawa. Gian menahan senyum sampai Kiana ikut tertawa. Tidak ada orang yang perlu dipermalukan agar suasana pagi itu terasa ringan.
Mereka hanya duduk sebentar. Bayu harus kembali sesuai jadwalnya di klinik, Kiana akan menyusul, sementara Gian mempunyai kegiatan yayasan. Ia tidak mengubah pertemuan singkat menjadi alasan terlambat datang.
Sebelum berpisah, Bayu menunjuk wadah kopi Gian dan mengingatkan agar tidak menumpahkannya ke tas. Gian mengangkat wadah yang tertutup rapat, lalu mengatakan bahwa ia sudah cukup sering mendapat peringatan dari dokter.
'Dokternya lumayan cerewet,' kata Bayu.
'Dokternya masih berdiri di sini,' jawab Kiana.
Gian tertawa sambil menatap Kiana, dan Bayu menggeleng dengan ekspresi menyerah yang sengaja dibuat berlebihan. Mereka berangkat ke pekerjaan masing-masing setelah memastikan barang yang dibawa tidak tertinggal.
Hari di klinik berjalan dengan urusannya sendiri. Kiana membantu Ali membahas satu catatan setelah pasien selesai, lalu memeriksa kembali barang yang telah dijanjikan penjual. Ia tidak lebih pandai bekerja hanya karena kini mempunyai hubungan baru; ia tetap harus membaca dengan teliti dan bertanya ketika informasi belum lengkap.
Ketika sebuah kemasan dari penjual tiba, Kiana membantu Ali mencocokkannya dengan pesanan yang telah disetujui Bu Dyah. Mereka menemukan satu bagian yang belum dikirim dan segera menghubungi penjual, bukan menandatangani penerimaan lengkap hanya agar cepat selesai. Barang yang sudah sesuai dipisahkan untuk pemeriksaan berikutnya sebelum dipakai. Kiana mencatat bagian yang masih ditunggu pada salinan miliknya, lalu mengembalikan meja agar dapat digunakan lagi.
Ali hampir membawa kardus kosong ke tempat yang salah. Kiana memanggilnya dan menunjuk label tujuan penyimpanan, membuat keduanya tertawa karena tadi baru saja membicarakan pentingnya membaca.
Di sela waktu istirahat, pesan Suster Ratih, perawat yang mendampingi ayah di rumah sakit jiwa, masuk. Kiana telah menanyakan kapan ayahnya dapat diajak berbicara sesuai keadaan serta pendampingan yang tersedia. Suster Ratih menjawab bahwa ia akan memastikan waktu yang memungkinkan dan tidak menjanjikan ayah Kiana dapat menanggapi panjang.
Kiana menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Ia menyebut bahwa lukisan Rinjaninya selesai. Setelah Suster Ratih mengatakan bersedia menerimanya, Kiana mengirim foto yang diambil dengan cahaya lebih baik, disertai izin untuk memperlihatkannya kepada ayah pada waktu yang tepat.
Tidak ada kalimat yang meminta gambar itu membuat ayah sembuh.
Ia juga menghubungi Wiryo mengenai rencana perawatan yang dahulu dibicarakan. Kali ini percakapan tidak berisi pembelaan terhadap kabar hotel, melainkan pertanyaan mengenai pilihan yang masih tersedia dan apa yang perlu dibahas bersama keluarga serta pihak yang merawat ayah.
Kiana mencatat hal yang harus ditanyakan kemudian. Pemindahan belum terjadi hanya karena ia sudah kembali berani memikirkannya.
Sore itu Gian menjemput setelah kegiatan yayasan serta pekerjaan klinik selesai. Ia membawa dua benda yang dibungkus rapi di kendaraan, dan Kiana lebih dahulu bertanya apakah itu akan membuatnya harus mengeluarkan barang dari kamar.
'Satu penyangga lipat tambahan,' jawab Gian. 'Dan kanvas kosong. Kalau kamu mau mengajariku.'
'Kamu membeli kanvas sebelum tahu aku mau?'
'Aku bisa tetap mencoba. Tapi hasilnya mungkin harus disimpan terbalik.'
Kiana tertawa. Mereka membawa barang itu ke tempat penyimpanan yang disepakati, bukan langsung memenuhi kamar tanpa bertanya. Penyangga lama milik Kiana masih dapat dipakai bersama yang baru ketika nanti mereka mempunyai waktu.
Gian kemudian membicarakan rencana berjalan pada Minggu mendatang. Ia ingin mengajak Kiana melihat bagian jalur yang memungkinkan bagi keduanya, dengan pendampingan dan pengaturan yang diperlukan.
Kiana tidak menyetujuinya hanya karena rencana itu terdengar romantis. Mereka membicarakan keadaan kaki, respons Gian terhadap kegiatan yang dijalani, serta perlunya memastikan penilaian yang sesuai sebelum memilih jalur. Gian akan mencocokkan jadwal dengan pihak yang menangani kegiatan dan tidak memakai hubungan lama untuk masuk diam-diam.
'Minggu,' ulang Kiana. 'Bukan besok pagi tiba-tiba kamu mengetuk sambil bawa sepatu.'
'Minggu. Kamu tetap kerja besok.'
'Bagus. Ternyata sudah mulai ingat.'
Gian mengangkat tangan menyerah. Ia memasukkan pengingat ke telepon sementara Kiana memilih waktu untuk memeriksa perlengkapan yang perlu dibawa.
Di paviliun, Hannah baru selesai menerima penjelasan mengenai pilihan perkuliahan. Ia sudah memiliki gambaran jadwal serta biaya, tetapi masih akan memastikan pembagian tugas sebelum mendaftar. Gian mendengarkan ketika ia menerangkan bagian yang ingin dibantu, bukan mengambil alih keputusan dengan menawarkan membayar semuanya.
Kiana berpamitan ke kamar setelah menyapa. Hannah sendiri yang kemudian meminta Gian duduk sebentar.
Pembicaraan yang diminta semalam akhirnya memperoleh waktu tanpa pekerjaan yang terus memotong. Gian mengatakan dengan jelas bahwa ia dan Kiana memilih mencoba hubungan. Hannah mendengarkan, lalu menatap halaman beberapa saat sebelum menjawab.
'Aku sudah menduga,' katanya. 'Tapi menduga tidak selalu membuat mendengar langsung jadi gampang.'
Gian mengangguk. Ia berterima kasih atas kejujuran itu tanpa meminta Hannah segera ikut senang.
Hannah mengingatkan bahwa ia masih mempunyai pekerjaan yang sudah disepakati, kehidupan sendiri, dan rencana belajar yang ingin dijalani. Tidak semuanya harus dibicarakan sebagai akibat kedekatan Gian dengan orang lain.
'Aku tahu. Aku tidak ingin menganggap kamu akan selalu bisa mengambil semua bagian yang kulepas,' jawabnya.
Hannah memandangnya, kemudian mengangguk kecil. Mereka kembali membahas giliran pekerjaan yang konkret sampai satu urusan benar-benar mendapat penanggung jawab baru.
Malamnya, Kiana menerima pesan Suster Ratih bahwa waktu panggilan dengan ayah akan diatur bersama pendamping yang sesuai. Ia membalas terima kasih dan menyimpan telepon setelah mencatatnya.
Dari jendela, ia melihat Gian selesai membantu Hannah memindahkan barang sebelum masing-masing beranjak. Kiana tidak memanggilnya hanya untuk memastikan hari yang baru mereka mulai masih milik berdua.
Ia membuka buku gambar, menarik satu garis, dan membiarkan ruang di sebelahnya belum terisi. Minggu depan ada rencana berjalan. Setelah itu masih akan ada hari-hari biasa yang harus mereka jalani dengan sungguh-sungguh.