Dua pekan kemudian, pada Minggu pagi kepulangannya, Kiana menutup satu koper dan menemukan masih ada gulungan kain hijau di atas kursi. Ia mengangkatnya sambil menggeleng kepada dirinya sendiri.
Barang yang sudah dianggap siap ternyata masih dapat mengeluarkan satu urusan terakhir.
Kain pemberian Gian itu dilipatnya dengan hati-hati, lalu diletakkan pada bagian yang tidak akan tertekan barang berat. Kiana memeriksa kamar tanpa membuka laci yang bukan miliknya. Buku, perlengkapan gambar, serta dokumen pribadi sudah berada di tempat yang benar.
Kewajiban program dua puluh enam pekannya telah dituntaskan. Serah terima pekerjaan klinik dilakukan sebelumnya bersama Bu Dyah dan Ali, termasuk keterangan yang memang perlu diteruskan kepada tenaga yang mengambil bagian berikutnya. Ia tidak membawa catatan pasien sebagai kenang-kenangan atau meninggalkan pertanyaan penting untuk dijawab setelah terbang.
Pagi itu ia hanya menunggu kendaraan pada waktu yang disepakati, sambil menyelesaikan beberapa hal yang tidak ingin dikerjakan terburu-buru di perjalanan.
Panggilan dengan Suster Ratih sudah dijadwalkan. Ketika telepon tersambung, mereka membicarakan rencana kunjungan setelah Kiana tiba dan memperoleh kepastian waktu dari pihak yang mendampingi ayah. Bukan janji akan langsung menjemput ayah keluar dari perawatan hari itu juga.
Ayah ikut berbicara sebentar mengenai waktu yang direncanakan. Kiana mendengarkan jawabannya, lalu meminta izin memperkenalkan seseorang yang sedang bersamanya.
'Namanya Gian, Yah.'
Gian mendekat setelah dipanggil. Ia mengucapkan salam dan memperkenalkan diri tanpa menyusun pidato yang akan membuat semua orang harus menunggu ia selesai.
Ayah membalas singkat. Suster Ratih membantu ketika perlu, kemudian mereka memastikan kembali siapa yang akan mengabari jadwal kunjungan. Kiana menyebut akan datang setelah berkoordinasi, agar ayahnya serta petugas tidak menunggu kedatangan mendadak yang mungkin tidak dapat dilayani.
Percakapan selesai dengan kabar perjalanan dan pesan agar ia berhati-hati. Kiana menyimpan telepon setelah berterima kasih. Ada hal yang terasa lebih biasa daripada dua pekan lalu, dan justru kebiasaan kecil itulah yang ingin ia rawat.
Gian tidak menanyakan apakah perkenalan singkat tadi berarti semua keputusan mengenai mereka sudah memperoleh jawaban. Ia mengambil koper yang telah ditutup setelah Kiana mengizinkannya, lalu meletakkannya dekat pintu agar tidak menghalangi jalan.
Sebelum turun, ia meminta waktu untuk mengambil sesuatu dari barang miliknya sendiri.
Kotak yang dahulu ditutupnya sendiri setelah menerima kembali pigura dari Kiana kini dibukanya dengan tangan yang lebih tenang. Ia mengeluarkan foto Anjani dan Ara, kemudian menunjukkan bingkai yang telah disiapkannya setelah membicarakan tempatnya dengan Hannah. Foto itu akan ditempatkan pada bagian yang disepakati, bukan kembali disembunyikan karena kehadiran orang baru dianggap menggantikan keluarganya.
Kiana menunggu di dekat meja. Ia tidak mengambil alih susunan kotak atau memeriksa barang lain.
'Boleh aku bantu pegang bingkainya?' tanyanya.
Gian mengiyakan. Kiana menahan bingkai sementara ia memasukkan foto dan memastikan penutup belakang terpasang. Sesudah selesai, Gian sendiri yang membawanya ke tempat yang sudah dibicarakan.
Ia berdiri sejenak di depannya. Tidak ada kalimat yang membuat Ara berhenti mempunyai hidup bersama ayahnya di Denpasar atau menjadikan Anjani seseorang yang harus dilupakan agar Gian dapat mencintai orang lain.
Kiana hanya menyentuh lengan Gian ketika ia kembali mendekat.
Lukisan Rinjani serta dua kanvas yang dikerjakan bersama juga telah memperoleh tempat atas persetujuan pemilik ruang. Gian membantu memasang yang belum terpasang sebelum hari kepulangan, setelah catnya aman dan letaknya dipilih bersama. Kini Kiana memandang karya mereka berdampingan, masih dapat mengenali garis yang dahulu membuat Gian mengeluh gunungnya tampak kesal.
'Jangan diam-diam diperbaiki,' kata Gian.
'Aku justru mau pakai itu untuk mengingatkan kalau kamu mulai sombong.'
'Aku baru bisa mencampur beberapa warna.'
'Berarti masih banyak alasan untuk latihan.'
Gian tersenyum. Mereka sudah membicarakan hubungan setelah kepulangan: waktu yang dapat dipakai berbicara, pekerjaan yang tidak selalu memungkinkan balasan cepat, serta kunjungan yang harus disusun dengan sungguh-sungguh. Kiana tidak meminta Gian meninggalkan pekerjaan barunya untuk membuktikan keseriusan. Gian juga tidak menuntutnya kembali ke Lombok sebelum mengetahui apa yang diperlukan keluarganya.
Mereka akan merindukan satu sama lain. Tidak ada jadwal yang dapat membuat bagian itu sepenuhnya mudah.
Di bawah, Hannah sedang memastikan bawaan tidak tertukar dengan barang penghuni lain. Ia menyerahkan satu kantong yang sudah ditandai dan memperingatkan Kiana agar tidak meletakkannya di bawah koper.
'Kalau remuk, jangan salahkan yang membuat,' katanya.
Kiana memeluknya setelah meminta izin. Hannah membalas, kemudian melepaskan lebih dahulu sambil mengingatkan waktu kendaraan.
Bayu menyampaikan salam ketika sempat datang sebelum urusannya sendiri. Ia tidak menghilang sebagai teman hanya karena hubungan mereka menemukan bentuk berbeda. Kiana berterima kasih, termasuk untuk bantuan yang dahulu sering diselingi terlalu banyak lelucon.
'Itu memang bagian pelayanan,' jawabnya.
Bu Dyah serta Ali sudah berpamitan setelah penutupan kegiatan sebelumnya. Pesan mereka dibawa Kiana bersama ingatan tentang pasien, jalan menuju klinik, dan hari-hari ketika ia belajar bekerja tanpa menyembunyikan seluruh dirinya di balik senyum yang harus tampak baik-baik saja.
Ketika kendaraan siap, Gian memeriksa bahwa koper masuk dengan aman. Ia kemudian kembali berdiri di depan Kiana, menunggu sampai perempuan itu menyelesaikan urusan terakhir dengan Hannah.
'Kabari kalau sudah sampai,' katanya.
'Aku akan kabari sebelum kamu mengirim pertanyaan yang sama tiga kali.'
'Aku belum pernah tiga kali.'
'Jangan mulai hari ini.'
Gian tertawa. Kiana meraih tangannya, lalu memeluknya setelah keduanya mendekat. Pelukan itu tidak menahan keberangkatan. Setelah beberapa saat mereka melepaskan satu sama lain, dan Gian membuka pintu penumpang. Ia akan mengemudikan mobil untuk mengantar Kiana ke bandara, sesuai rencana mereka.
Kiana duduk, memastikan barang kecil berada di dekatnya, lalu menurunkan kaca untuk salam terakhir. Sesudah Gian duduk di belakang kemudi dan keduanya siap, mobil bergerak meninggalkan paviliun menuju bandara. Kiana memandang tangan Gian pada kemudi, menyimpan waktu bersama yang masih tersedia sebelum mereka berpisah di sana.
Rinjani masih terlihat ketika ia menoleh. Ada bagian hidup yang menunggunya di tempat lain, ada orang yang kini ingin ditemuinya kembali di sini. Ia tidak perlu menghapus salah satunya.
Di tempat yang telah mereka pilih, dua lukisan tinggal berdampingan. Yang satu dibuat Kiana, yang lain dibuat Gian. Keduanya menyimpan gunung yang sama, dengan cara memandang yang akhirnya berani mereka bagi.
TAMAT