Air di gelas Kiana sudah berkurang ketika Gian memulai kalimat yang sejak tadi tampak sulit dicarinya.
'Aku tidak ingin kamu mengingat pertemuan lama itu sebagai alasan harus memilihku.'
Kiana menoleh dari lukisan. 'Aku juga belum bilang aku akan memilihmu karena pameran.'
'Aku tahu.'
'Kamu yakin? Wajahmu seperti orang yang sedang mengantisipasi pertanyaan ujian.'
Gian tertawa, lalu menunduk ke gelasnya sendiri. Ia tidak sedang menghadapi soal yang memiliki satu jawaban untuk semua orang. Kiana duduk cukup dekat untuk melihat gerakan tangannya, tetapi tidak membantu menyelesaikan kalimat sebelum ia siap.
'Aku suka sama kamu,' katanya akhirnya.
Kiana diam.
Suara dari bawah masih terdengar, disusul seseorang tertawa di halaman. Gian tetap memandangnya, tidak menarik ucapan itu kembali menjadi lelucon ketika Kiana belum menjawab.
'Aku tidak selalu tahu cara menunjukkannya dengan benar,' lanjutnya. 'Kadang aku justru menyuruhmu pergi karena takut kamu pergi sesudah tahu lebih banyak.'
Kiana menaruh gelas ke meja. Ia mengingat pintu, nada suara, serta hari ketika dirinya berdiri dengan niat baik dan pulang sambil merasa tempatnya tidak jelas. Perasaan Gian tidak membuat kejadian itu menyenangkan untuk dikenang.
'Aku tidak mau disuruh pergi setiap kali kamu takut,' katanya.
'Aku mengerti.'
'Kamu pernah bilang begitu dengan cara yang lumayan menyakitkan.'
Gian mengangguk. Ia tidak memakai kehilangan Anjani atau keadaan telinganya untuk meminta Kiana melupakan kata-kata tersebut. Ia meminta maaf karena telah menjadikan ketakutannya sebagai alasan menentukan apa yang seharusnya dilakukan Kiana.
Kiana menarik napas. Ada bagian dirinya yang ingin segera tertawa agar percakapan tidak terlalu berat. Namun ia sudah cukup sering menutupi kesungguhan dengan kalimat yang membuat orang lain nyaman.
'Aku suka kamu juga,' katanya.
Gian mengangkat wajah. Pada saat yang tidak tepat itu, ia hampir menyenggol gelas di dekat siku. Kiana menangkapnya lebih dahulu, lalu keduanya tertawa karena tubuh Gian tampaknya terlambat menerima berita yang sudah didengar telinganya.
'Pelan-pelan,' kata Kiana.
'Gelasnya?'
'Kita.'
Gian mengangguk sambil membantu mengembalikan gelas ke tempat yang lebih aman.
Kiana belum ingin membuat janji panjang yang hanya terdengar indah di dalam kamar dengan lukisan yang baru selesai. Ia masih mempunyai ayah yang perlu ditemui, pekerjaan yang akan kembali menuntut keputusan, serta hidup di luar Lombok yang belum seluruhnya dapat disusun.
Gian pun tidak dapat menjanjikan semua rasa takutnya hilang setelah satu pengakuan. Ia akan tetap menjalani penanganan dan belajar mengatakan kebutuhannya sebelum marah kepada orang yang berada paling dekat.
'Aku akan pulang setelah program selesai,' kata Kiana. 'Bukan besok. Tapi itu akan datang.'
'Aku tahu.'
'Aku ingin kita membicarakannya waktu sudah perlu. Jangan pura-pura enam bulan ini selamanya.'
Gian menatap lukisan Rinjani sebentar, lalu kembali kepadanya. 'Aku ingin mencoba tetap ada sesudah itu. Kalau kamu juga mau.'
Kiana mengangguk. Ia tidak meminta Gian berhenti mempunyai kehidupan sendiri supaya jarak nanti terasa lebih mudah. Mereka hanya menyepakati untuk tidak menyembunyikan keputusan yang akan memengaruhi keduanya.
Sesudah percakapan itu, ada jeda yang membuat mereka sama-sama tersenyum tanpa tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan masing-masing.
Gian mengulurkan telapak tangan sedikit, lalu berhenti.
'Boleh?'
Kiana meletakkan tangannya di sana. Jemari Gian menutup dengan hati-hati. Tidak ada orang yang perlu ditarik ke dalam pelukan agar jawaban tadi dianggap sungguh-sungguh.
'Jadi sekarang aku boleh protes kalau kamu tidak makan?' tanya Kiana.
'Bukannya dari dulu sudah?'
'Iya. Berarti tidak banyak berubah.'
'Ada yang berubah.'
'Apa?'
Gian memandang tangan mereka. Kiana mengikuti arah pandangnya, kemudian tersenyum sambil merasakan pipinya menghangat.
Ketika langkah terdengar mendekat di koridor, mereka tidak perlu menyembunyikan diri. Hannah muncul di pintu yang tetap terbuka, membawa kabar bahwa ada panggilan untuk urusan paviliun yang perlu dijawab Gian.
Tatapannya turun sebentar ke tangan mereka.
Kiana hendak menarik tangan karena mendadak canggung, tetapi Gian melepasnya dengan wajar sebelum berdiri. Ia berterima kasih kepada Hannah dan mengatakan akan turun sebentar untuk menjawab.
Hannah mengangguk, lalu beranjak lebih dahulu. Tidak ada pengumuman restu yang harus diberikan di ambang pintu itu. Kiana menatap tempat Hannah tadi berdiri dan memahami bahwa perasaan orang lain juga memerlukan ruang yang tidak selalu dapat ia lihat.
Gian kembali setelah urusan telepon selesai. Ia mengetuk bagian pintu, meskipun tadi sudah duduk cukup lama di dalam.
'Aku perlu memberi tahu Hannah dengan jelas,' katanya. 'Nanti setelah urusannya selesai. Bukan membiarkan dia menebak dari tadi.'
Kiana mengangguk. 'Iya.'
Mereka membicarakan waktu makan, lalu merapikan tempat sebelum turun. Kiana memastikan cat tertutup, sementara Gian memindahkan kursi setelah bertanya di mana sebaiknya diletakkan.
Di tangga, ia berjalan di sisi Kiana tanpa memeganginya seperti pasien yang tidak mampu turun sendiri. Pergelangan Kiana sudah jauh membaik, tetapi ia tetap memilih langkah yang nyaman.
Di bawah, Hannah sedang menutup buku pekerjaan. Gian menunggu sampai ia selesai, lalu meminta waktu berbicara setelah makan. Hannah menatap keduanya, menarik napas kecil, dan mengatakan bahwa ia masih ingin menyelesaikan satu urusan lebih dahulu.
Mereka tidak mengejarnya.
Sambil menunggu, Kiana melihat pesan Ali tentang kegiatan klinik esok hari. Ia membalas bagian yang perlu dijawab, lalu menyimpan telepon. Gian menanyakan apakah ia harus berangkat lebih pagi. Ketika Kiana mengatakan jamnya tetap, lelaki itu menawarkan membantu membawa kotak yang akan dititipkan ke kendaraan.
Kiana menunjuk benda yang dimaksud di dekat tangga. Gian mengambilnya dan nyaris menumpuk map lain di atas sebelum Kiana mengingatkan isi kotak mudah penyok. Ia memindahkan map ke bawah lengan sendiri, mengantar kotak ke tempat yang disepakati, lalu kembali tanpa menjadikannya pekerjaan yang perlu dipuji.
Kiana mengambil piring, lalu menemukan Gian berdiri kebingungan di depan dua wadah lauk. Ia menunjuk yang tidak terlalu pedas sambil tersenyum.
'Kamu sudah dapat pengalaman kemarin.'
Gian memilih wadah yang ditunjuk. Untuk malam itu, mereka tidak perlu menjadikan setiap keputusan sebagai sesuatu yang besar. Ada makanan yang harus dimakan selagi hangat, dan sebuah hubungan yang baru mulai belajar berjalan.