Gian mengingat ruang pamer itu lebih dahulu daripada pakaian yang dikenakannya. Ia datang ketika sedang menyelesaikan masa kuliah, dua belas tahun sebelum hari ketika ia duduk di depan Kiana sekarang.
Usianya dua puluh tiga. Kiana, yang baru berada pada tahun kedua pendidikan kedokteran, baru berusia dua puluh.
'Aku tidak datang khusus mencari kamu,' katanya. 'Aku bahkan belum tahu siapa yang melukisnya sebelum membaca keterangan karya.'
Kiana mendengarkan sambil menaruh lap yang sejak tadi dilipat tanpa tujuan. Di dekat mereka, lukisan Rinjani mulai mendapatkan tempatnya sendiri dalam ruangan.
Gian bercerita bahwa ia berhenti di depan satu kanvas lebih lama daripada yang lain. Judulnya sederhana, Untuk Ayah. Ia memandang susunan warna serta bagian yang sengaja dibiarkan lebih gelap, mencoba memahami mengapa gambar itu membuatnya menunda berjalan.
Ia tidak menemui pelukisnya. Ketika akhirnya bergerak meninggalkan tempat itu, Gian menuliskan satu komentar dalam buku tamu mengenai lukisan tersebut.
Kiana duduk lebih tegak.
'Kamu menulis apa?'
Gian mengusap telapak tangannya. Ia tidak yakin dapat mengulang kalimat yang sama persis setelah dua belas tahun. Namun ia mengingat maksud yang ingin disampaikan: seseorang dapat tetap melukis cahaya meskipun orang yang ditujunya belum mau melihat.
Kiana menutup mata sebentar.
Komentar itu pernah dibacanya berulang kali. Ia tidak mengenali nama atau wajah penulisnya, tidak pernah memperoleh kesempatan bertanya mengapa seseorang berhenti cukup lama untuk memperhatikan hal yang ingin disampaikannya melalui gambar.
'Aku ingat,' katanya pelan. 'Aku pikir tidak ada yang benar-benar melihat.'
'Aku melihat.'
Ia mengangguk, tetapi belum dapat meneruskan jawaban. Kertas buku tamu dan ruang pamer itu terasa begitu jauh sekaligus begitu dekat. Dulu ia pulang sambil membawa satu kalimat yang tidak mengubah keadaan di rumah, tetapi membuatnya tidak sepenuhnya merasa berbicara sendirian.
Gian menunggu sementara Kiana memandang lukisan, membiarkan kenangan itu memperoleh tempat sebelum percakapan mereka diteruskan.
Kiana mengusap sudut mata dengan tisu. Ia tertawa kecil karena tubuhnya selalu lebih dahulu memberikan jawaban ketika pikirannya masih sibuk menyusunnya.
'Jadi selama ini aku pernah membaca tulisanmu, tapi tidak tahu orangnya.'
'Dan aku tidak tahu kamu membaca sampai hari ini.'
Mereka terdiam sebentar. Gian tidak mengisi tahun-tahun sesudah pameran dengan cerita mengikuti setiap langkah Kiana. Ia kembali pada kuliah, pekerjaan, kehilangan, serta hidup yang tidak selalu dapat dipilih arahnya. Kiana pun melanjutkan pendidikan tanpa mengenal lelaki yang meninggalkan komentar itu.
Namun nama pelukisnya tersimpan dalam ingatan Gian. Ketika pemesanan kamar datang dengan nama lengkap yang sama, ia teringat kanvas yang dahulu diperhatikannya.
'Aku belum yakin wajahmu akan seperti yang kubayangkan,' katanya. 'Aku tidak mengenalmu waktu itu. Tapi namanya membuatku melihat kembali kamar itu.'
'Kamar lima?'
Gian mengangguk.
Kamar Anjani telah lama membawa kenangan yang tidak mudah disentuhnya. Ia membersihkan serta menyiapkannya sebelum Kiana tiba, setelah mengetahui nama orang yang akan menginap. Kedatangan Kiana kemudian memberi wajah pada seseorang yang semula hanya dikenalnya melalui karya.
'Kenapa tidak bilang waktu aku baru datang?'
'Aku sudah menyiapkannya sebelum kamu tiba. Yang sulit justru menceritakan kenapa kamar itu begitu penting bagiku.'
Kiana mengangguk pelan. Ia mengingat kalimat Hannah pada hari kedatangannya, hal yang dahulu hanya dianggap keterangan mengenai tempat tinggal. Kini urutan itu terasa memiliki arti yang sebelumnya tidak dikenalnya.
'Aku tetap salah membuka kotakmu,' katanya.
'Aku tahu.'
'Waktu itu aku membuat cerita sendiri dari foto yang kulihat.'
'Kamu kira aku sudah punya istri.'
Kiana meringis. 'Dan anak. Aku lumayan cepat kalau sedang salah.'
Gian tertawa. Kotak itu telah ditutupnya sendiri setelah Kiana mengembalikan pigura kepadanya. Foto Anjani serta Ara tetap bagian keluarganya, tidak berubah mengikuti dugaan seseorang yang melihat sepintas.
Kiana memandang lukisan yang baru selesai. Ia membayangkan dirinya dua belas tahun lalu, belum tahu akan berada di sebuah paviliun di kaki gunung bersama orang yang pernah berhenti di depan karyanya.
'Terus waktu tahu aku orang televisi, kamu tidak mau bilang?'
'Aku lebih sering tidak tahu harus mulai dari mana.'
'Itu menjelaskan banyak percakapan kita.'
Gian mengusap wajah. 'Sebagian mungkin karena aku memang menyebalkan.'
'Sebagian?'
Kali ini mereka tertawa bersama. Gian membiarkan ejekan kecil itu tinggal, lalu menatap Kiana dengan lebih serius.
'Aku senang kamu melukis lagi.'
Kiana tidak menjawab secepat biasanya. Ada orang yang meminta ia kembali menjadi sosok yang mereka kenal di layar. Gian justru sedang melihat sesuatu yang sudah ada sebelum berita, sebelum pertunangan, bahkan sebelum mereka mempunyai alasan untuk saling marah.
'Aku juga,' katanya akhirnya.
Ia mengambil telepon dan mencari foto lama karya yang masih disimpannya. Gian tidak meminta ia membuktikan seluruh cerita dengan menemukan buku tamu yang entah berada di mana. Satu gambar lukisan cukup membuat mereka berhenti pada bagian yang dahulu menarik perhatiannya.
Kiana memperbesar gambar, lalu menaruh telepon di meja.
Ia menunjuk satu bagian yang kini mungkin akan dikerjakannya dengan warna berbeda. Gian memandangnya, kemudian mengatakan bahwa ia tidak perlu memperbaiki lukisan lama agar perasaannya saat membuat karya itu pantas didengar. Kiana menatap layar lagi sebelum mematikan gambar. Ia tidak jadi mencari kesalahan berikutnya.
Di depan mereka, lukisan Rinjani menerima cahaya yang perlahan berubah. Kiana merapikan letaknya agar tidak tertutup bayangan kursi. Kali ini Gian membantu menggeser kursi setelah ditunjukkan tempatnya, lalu menunggu sampai ia kembali duduk. Sesudah itu Kiana meminta Gian mengambilkan dua gelas air dari bawah, sambil mengingatkan agar tidak memilih wadah yang dipakai merendam kuas.
Gian bangkit dan turun setelah memastikan letaknya. Kiana menatap pintu sebentar, kemudian kembali kepada lukisan Rinjani.
Ketika lelaki itu kembali, ia membawa gelas yang benar, tetapi mengaku hampir memilih satu wadah yang ternyata memang dipakai membersihkan kuas.
'Untung kamu membaca keadaan,' kata Kiana.
'Aku sedang belajar.'
Ia memberikan air kepada Kiana dan duduk lagi. Satu komentar lama sudah menemukan penulisnya. Yang belum mereka ucapkan sekarang justru terasa lebih dekat, menunggu keberanian yang tidak dapat dipinjam dari kenangan.