Minggu pagi, Kiana tidak langsung menyentuh kanvas. Ia berdiri beberapa langkah dari lukisan Rinjani dengan cangkir di tangan, memandang bagian yang semalam masih membuatnya ingin menghapus banyak hal.
Cahaya yang berbeda mengubah kesan warna pada lereng. Ia memiringkan kepala, maju dua langkah, lalu mundur lagi.
Dari bawah terdengar seseorang memanggil nama penghuni kamar lain. Kiana menoleh sebentar sebelum kembali memusatkan perhatian. Ia tidak perlu membuat hari benar-benar sunyi untuk mulai bekerja.
Kuas pertama hanya menyentuh bagian kecil dekat bayangan. Sesudah itu ia membersihkannya, memilih kuas lain, dan mengerjakan pertemuan warna yang terlalu keras. Cat akrilik dalam perlengkapan yang digunakannya tidak memberinya waktu tak terbatas untuk ragu.
Ia sempat mengambil terlalu banyak warna terang. Ujung jari menahan pergelangan tangannya sendiri sebelum ia menyapukannya ke tempat yang salah.
'Pelan,' gumamnya.
Tidak ada yang menjawab. Ia justru tersenyum karena mendengar suara yang begitu sering digunakannya kepada orang lain kini harus diarahkan kepada diri sendiri.
Ketika hendak mengganti air, siku Kiana menyentuh kain di tepi meja. Wadah kecil bergeser dan sebagian airnya mengalir ke lantai. Ia mengangkat kotak perlengkapan lebih dahulu, lalu mengambil lap sebelum air mencapai kaki penyangga kanvas.
Selama beberapa menit ia hanya jongkok membereskan tumpahan. Ujung celananya basah, dan satu kuas yang terjatuh harus dicari di bawah kursi. Setelah semuanya aman, ia duduk sambil menertawakan dirinya sendiri. Rupanya menyelesaikan lukisan juga dapat berisi pekerjaan mengepel yang tidak menarik dipotret.
Ia memindahkan wadah ke tempat yang lebih jauh dari siku, membuka jendela sedikit agar lantai cepat kering, kemudian memeriksa kanvas. Tidak ada bagian yang terkena. Ia baru kembali bekerja setelah memastikan kakinya tidak akan menginjak air yang tersisa.
Menjelang siang, ia berhenti untuk makan. Kuas dibersihkan dan wadah ditutup agar tidak ditinggalkan berantakan. Ia turun dengan satu noda kecil yang luput dilihat di dekat siku.
Hannah menunjuk noda itu ketika mereka bertemu.
'Sudah selesai?'
'Hampir. Tapi kalau ditanya lagi, jawabannya bisa berubah.'
'Kalau begitu aku tanya sesudah makan.'
Kiana membantu memindahkan piring ke meja. Hannah sedang membagi beberapa pekerjaan paviliun dengan orang yang biasa membantunya agar ia mempunyai waktu mendatangi informasi perkuliahan yang ingin dipastikan. Belum ada kabar besar untuk diumumkan, hanya waktu yang akhirnya sengaja disediakan untuk dirinya sendiri.
Mereka makan sambil membicarakan hal biasa: seorang tamu meninggalkan pengisi daya, kunci yang ternyata berada dalam saku pemiliknya sendiri, serta persediaan yang harus dibeli sebelum habis. Kiana tertawa ketika Hannah menirukan wajah tamu yang menuduh meja menyembunyikan barangnya.
Sesudah makan, ia kembali ke lukisan. Ia menambahkan garis terakhir, lalu berhenti sebelum kebiasaan memperbaiki berubah menjadi merusak bagian yang sudah cukup.
Ada rasa asing ketika ia meletakkan kuas.
Bukan karena semua yang dilihatnya mendadak sempurna. Ia masih dapat menyebutkan tempat yang mungkin akan dikerjakan berbeda jika mengulang dari awal. Namun kanvas itu kini membawa Rinjani yang ia kenal dari hari-harinya sendiri, bukan gunung yang harus tampak seperti ingatan orang lain.
Ia menuliskan nama pada sudut yang dipilih, dengan tangan lebih tenang daripada perkiraannya.
Kiana Lukis Jingga.
Sesudahnya ia merapikan tempat kerja, memastikan lukisan tidak berada di jalur orang lewat. Ia baru mengambil telepon untuk memotret ketika Gian muncul di dekat pintu yang terbuka.
'Boleh lihat?'
Kiana mengangkat wajah. 'Boleh. Tapi jangan memegang yang masih belum aman disentuh.'
'Aku bisa melihat tanpa memegang.'
'Kadang orang lupa.'
Gian masuk setelah ia memberi tempat. Lelaki itu berhenti di depan kanvas, lalu memandangnya cukup lama sehingga Kiana mulai menahan keinginan menjelaskan bagian-bagian yang belum disukainya.
Ia memilih diam.
Mata Gian bergerak mengikuti lereng sampai ke bagian langit. Ia tidak bertanya apakah warna tertentu seharusnya lebih mirip foto. Tangannya tetap berada di sisi tubuh, sementara wajahnya berubah seperti sedang mengenali sesuatu yang datang dari tempat lain.
'Gimana?' tanya Kiana akhirnya.
Gian belum langsung menjawab. Ia menatap nama pada sudut lukisan, kemudian kembali memandang Kiana.
'Kamu selalu menulis nama seperti ini?'
Kiana mengikuti arah pandangannya. 'Kalau untuk lukisan, iya. Kenapa?'
'Kiana Lukis Jingga.'
'Iya. Itu memang namaku.'
'Aku tahu.'
'Tapi kamu mengulangnya seperti baru tahu aku punya nama.'
Gian tertawa kecil, lalu meminta izin duduk. Kiana menunjukkan kursi yang tidak menghalangi kanvas, sementara dirinya mengambil tempat di dekat meja. Ia menduga lelaki itu hendak menceritakan sesuatu tentang gunung, tetapi Gian justru bertanya apakah ia pernah mengikuti pameran ketika masih kuliah.
Tangan Kiana berhenti saat merapikan tutup cat.
'Pernah,' jawabnya. 'Sudah lama.'
'Ada satu lukisan dengan judul untuk ayahmu?'
Kiana menatapnya. Kali ini ia tidak memiliki jawaban ringan yang siap dilontarkan.
Lukisan itu berasal dari bagian hidup yang jarang dibicarakannya kepada orang-orang baru. Ia mengingat ruang pamer, penantian di dekat kanvas, serta satu komentar dalam buku tamu dari pengunjung yang tidak pernah dikenalnya.
'Dari mana kamu tahu?'
Gian mengusap kedua telapak tangannya, tampak lebih gugup daripada ketika memasuki kamar beberapa menit sebelumnya.
'Aku pernah melihatnya.'
'Foto?'
'Langsung. Waktu pameran.'
Kiana menunggu, berusaha memahami bahwa pengunjung yang selama ini tidak memiliki wajah dalam ingatannya mungkin sedang duduk di depan mata. Dua belas tahun sudah berlalu, tetapi komentar yang pernah dibacanya sendirian di ruang pamer masih terasa dekat.
Gian tidak menuntutnya mengingat.
'Aku baru yakin setelah membaca namamu waktu pemesanan kamar,' katanya. 'Tadi melihat kamu menulisnya lagi membuatku teringat.'
Kiana menaruh tutup cat yang sejak tadi masih dipegang. Di luar, angin menggerakkan ujung kain yang dijemur di tempat lain. Ia memperhatikan bunyi kecil itu sejenak, kemudian kembali kepada Gian.
'Kamu ada di sana?'
Lelaki itu mengangguk.
Lukisan Rinjani berdiri di antara mereka dan cahaya siang. Kiana baru saja menyelesaikan satu gambar, tetapi pertanyaan yang dibukanya terasa datang dari kanvas lain yang telah lama ditinggalkan.