Sabtu pagi, Kiana membaca pemberitahuan masuk ketika sedang menunggu air mendidih. Ia hampir melewatkannya karena mengira itu salah satu pesan lanjutan yang dapat dibaca setelah sarapan.
Lalu ia melihat nama pihak yang dihubunginya dua hari sebelumnya.
Koreksi telah diterbitkan.
Ia membuka tautan, membaca judul, kemudian kembali ke bagian awal karena matanya bergerak terlalu cepat. Tulisan itu menjelaskan bagian pemberitaan yang tidak terverifikasi dan telah merugikannya. Tujuan pertemuan di hotel diperbaiki berdasarkan konfirmasi pihak terkait, tanpa membuka rincian kesehatan ayahnya.
Di bagian lain, keterlibatan Gala dalam penyampaian tuduhan disebut sesuai pengakuan yang telah diperiksa. Pihak penerbit juga menautkan koreksi pada pemberitaan sebelumnya agar pembaca tidak hanya menemukan cerita lama.
Kiana meletakkan telepon, lalu mengambilnya kembali.
Air mendidih sampai Hannah yang lewat mengingatkannya untuk mematikan pemanas.
'Ada apa?'
Kiana menyodorkan layar. Hannah membaca sambil berdiri, kemudian menarik kursi ketika menyadari Kiana belum sanggup menjelaskan dengan satu kalimat.
'Mereka sudah memeriksa ke Karin dan Gala?' tanyanya.
'Juga menghubungi Pak Wiryo. Kemarin masih ada yang perlu dicocokkan.'
Hannah mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya kini kembali seperti semula. Ada orang yang mungkin tidak pernah membaca koreksi itu, sementara ingatan tentang beberapa bulan terakhir tidak akan menghilang dari tubuh Kiana hanya karena tulisan baru terbit.
Namun ia menuangkan air ke cangkir Kiana, kemudian duduk menemaninya sampai minuman itu cukup dingin untuk disentuh.
Kiana memotret layar dan mengirimkannya kepada Omar. Mereka sudah berbicara pada malam sesudah pertemuan dengan Gala. Omar menawarkan membantu menghubungkan bahan koreksi kepada pihak yang dahulu terlibat dalam penghentian penampilannya, jika Kiana menyetujuinya.
Kini ia membalas bahwa langkah itu boleh dilakukan, dengan pemberitahuan kepadanya mengenai siapa yang dihubungi. Pembicaraan mengenai program televisi tetap memerlukan penilaian serta keputusan pihak yang mengelolanya. Tidak ada pesan yang menyuruhnya segera membeli tiket untuk kembali menjadi pembawa acara pada Senin pagi.
Ia masih memiliki pekerjaan di sini.
Menjelang siang, setelah kewajiban yang sudah dijadwalkan selesai, Kiana kembali ke kanvas Rinjani. Ia memindahkan kursi sedikit agar cahaya tidak jatuh langsung ke matanya, lalu membuka cat akrilik yang dibutuhkan.
Beberapa bagian sudah disukainya. Yang lain membuatnya ingin mengulang dari awal setiap kali dilihat terlalu lama.
Ia memilih mengerjakan satu lereng, bukan menutupi seluruh permukaan karena kesal pada diri sendiri. Warna yang dicampur pertama terlalu kelabu. Ia menambahkan sedikit warna lain, mencobanya pada tempat yang tidak mengganggu lukisan, lalu menunggu sebelum memutuskan.
Ketika Bayu datang ke paviliun sesudah pekerjaannya, Kiana masih memegang kuas. Ia mengetuk bagian pintu yang terbuka dan bertanya apakah boleh masuk.
'Jangan menyenggol yang itu,' kata Kiana sambil menunjuk wadah air.
Bayu melangkah memutar dengan sangat berhati-hati sampai ia hampir menyenggol kursi lain. Kiana tertawa dan menyuruhnya berhenti berusaha tampak tidak mengganggu.
'Aku cuma mau bilang sudah baca beritanya,' katanya.
Kiana meletakkan kuas. 'Terima kasih.'
'Yang mengirim ke aku lumayan banyak. Sepertinya semua merasa perlu memastikan aku tahu.'
'Kamu tidak wajib membalas semuanya.'
'Iya. Aku baru sadar setelah membalas beberapa dengan kalimat yang sama.'
Mereka tertawa sebentar, lalu Bayu menanyakan apakah Kiana akan segera kembali ke televisi. Ia menggeleng. Belum ada keputusan, dan dirinya pun belum ingin menjawab hanya karena orang lain mengharapkan jawaban cepat.
Bayu melihat lukisan itu sebelum meminta izin duduk. Kiana menggeser benda di atas kursi, kemudian membiarkannya memilih kata sendiri.
'Aku dulu suka sama Kakak sebelum tahu siapa Kakak,' katanya akhirnya.
'Aku ingat kamu cukup berisik waktu pertama bertemu.'
'Itu cara aku gugup.'
Kiana tersenyum. Bayu mengusap tengkuk dan mengaku sempat bingung membedakan ketertarikan, keinginan menolong, serta keinginan dianggap sebagai orang yang sanggup menyelamatkan keadaan. Ia tidak menyangkal perasaannya yang pernah nyata. Tetapi setelah lebih mengenal kehidupan masing-masing, ia juga mengerti bahwa dirinya belum siap menjanjikan hubungan yang tidak sungguh dapat dijalaninya.
'Aku senang pernah kenal Kakak di sini,' katanya. 'Aku tidak menyesal. Cuma kadang malu mengingat beberapa omonganku.'
'Kalau semua omonganmu harus disesali, kamu sibuk sekali.'
Bayu tertawa keras, lalu segera menutup mulut ketika mengingat ada orang lain di paviliun.
Kiana mengatakan bahwa ia menghargai bantuan yang benar-benar diberikan Bayu, termasuk pada hari-hari ketika ia sendiri sulit diajak bicara. Ia tidak mengubahnya menjadi janji tentang sesuatu yang lebih jauh.
Ketika Bayu menanyakan Gian, Kiana menatap kuas di tangannya.
'Kami masih belajar saling mengenal.'
'Jawaban yang aman.'
'Jawaban yang benar.'
Bayu mengangguk. Sesudah itu ia membantu mengangkat kursi yang tadi hampir disandungnya, dengan izin Kiana, lalu berpamitan karena masih memiliki urusan di rumah. Ibunya meminta ia tidak datang hanya untuk menitipkan cucian dan menghilang lagi.
Kiana kembali melukis setelah ia pergi. Ada sesuatu yang lebih ringan pada percakapan yang tidak menuntut seseorang menang agar yang lain dapat pergi tanpa malu.
Sore itu Gian datang dan menemukan bekas warna di jari Kiana. Ia tidak langsung masuk, hanya menanyakan dari ambang apakah ia sedang dapat diganggu.
'Sedikit,' jawab Kiana.
Gian menunjuk pipinya sendiri. Kiana mengusap sisi wajah yang salah, membuatnya tersenyum.
'Sebelah satunya.'
Kiana mengambil kain bersih dan meminta Gian tidak tertawa jika ia ternyata sudah berjalan ke bawah dengan wajah seperti itu. Lelaki itu berjanji berusaha, dengan nada yang membuatnya tidak sepenuhnya dapat dipercaya.
Lukisan Rinjani belum selesai ketika cahaya mulai berkurang. Kiana membersihkan kuas dan menutup cat, lalu membiarkan kanvas tetap berada di tempat yang aman. Besok ia ingin kembali melihatnya sebelum menambahkan apa pun.
Sebelum turun makan, ia memeriksa pesan Bu Dyah mengenai pesanan barang klinik. Satu barang masih menunggu pengiriman, sedangkan yang lain sudah mendapat kepastian dari penjual. Kiana menyimpan kabar itu bersama bukti yang diterimanya. Ada pekerjaan kecil yang dapat dilanjutkan tanpa harus membuat pengumuman tentang dirinya.
Untuk sekali ini, ia tidak merasa perlu menyelesaikan seluruh hidupnya pada hari namanya diperbaiki.