Balasan Wiryo datang ketika Karin sedang memasukkan kembali telepon ke tas. Beliau memiliki waktu berbicara beberapa menit. Kiana membalas dengan menjelaskan siapa yang bersamanya dan menanyakan apakah percakapan boleh didengar bersama.
Setelah izin diberikan, ia menelepon dan mengaktifkan pengeras suara dengan volume secukupnya.
Wiryo mengenali pertemuan yang disebut Kiana. Mereka dahulu bertemu untuk membahas kemungkinan penanganan serta pemindahan ayahnya ke tempat perawatan di Bogor. Ia menerangkan sebatas tujuan pertemuan dan perannya dalam pembicaraan itu, tanpa membacakan keadaan medis atau dokumen pribadi siapa pun.
Kiana meminta izin agar pihak yang memeriksa pemberitaan dapat menghubunginya untuk memastikan keterangan tersebut.
'Boleh. Beri tahu saya dulu siapa yang akan menghubungi,' jawab Wiryo.
Ia menyetujui cara itu, mengucapkan terima kasih, kemudian mengakhiri panggilan. Tidak ada pertanyaan yang mengharuskan ayahnya menjadi tontonan agar namanya sendiri dapat dibersihkan.
Untuk beberapa saat, Gala hanya menatap meja.
'Aku tidak tahu itu tentang ayahmu,' katanya.
'Kamu tidak bertanya.'
'Aku tahu.'
Kiana menggeleng. 'Kamu memakai sesuatu yang belum kamu tahu untuk menutupi hal yang kamu tahu benar.'
Karin menunduk. Ia merapikan tali tas berkali-kali sebelum menyebut bahwa ia bersedia memberikan keterangan kepada pihak pemberita. Gala ikut menyatakan kesediaannya. Kiana meminta mereka menyampaikannya secara tertulis, dengan nama dan jalur yang dapat dihubungi, karena ia tidak ingin harus mengejar janji mereka lagi setelah berpisah.
Gala mengetik lebih dahulu. Kali ini ia tidak menanyakan apakah permintaan maaf seharusnya sudah cukup. Karin menyusul, lalu memastikan Kiana menerima pesan yang dikirim.
Gian melihat bahu Kiana bergerak ketika ia menarik napas. Ia bertanya apakah percakapan sudah dapat diakhiri.
'Satu hal lagi,' jawab Kiana.
Ia memandang Gala, mengingat permintaan mengenai uang yang pernah dibawa lelaki itu ke hadapannya. Pengembalian biaya pernikahan tidak akan dipindahkan kepadanya. Pembayaran dahulu berasal dari Kiana, dan pengembalian yang sudah diterima mengikuti pembayaran tersebut.
Gala mengangguk tanpa kembali menghitung cicilan apartemennya sebagai alasan.
'Aku tidak akan meminta uang itu lagi.'
'Jangan meminta lewat orang lain juga.'
'Iya.'
Kiana menaruh telepon di dalam tas. Ia tidak menawarkan pelukan atau mengatakan akan hadir dalam pernikahan mereka. Ia juga belum dapat memberi maaf yang begitu mudah disebut orang ketika tidak harus menanggung akibatnya.
'Aku ingin kalian berhenti menambah cerita tentang aku,' katanya. 'Kalau ada yang meminta keterangan, jawab tentang tindakan kalian sendiri.'
Karin mengangguk. Saat berdiri ia perlu waktu menyesuaikan pegangan tas, dan Gala membantu tanpa membuat Kiana ikut mengurus mereka. Gian membuka pintu. Keduanya keluar setelah berpamitan, lalu berjalan menuju kendaraan yang membawa mereka ke klinik.
Kiana tidak mengikuti sampai halaman. Ia tetap berdiri di dekat kursi, menatap gelas yang tinggal sedikit isinya.
'Sudah,' katanya.
Gian belum tahu apakah kata itu ditujukan kepada dirinya atau kepada ruangan yang akhirnya sepi. Ia menawarkan mengantarkan Kiana mencari udara, tetapi perempuan itu justru duduk kembali.
'Aku gemetar dari tadi.'
'Kelihatan sedikit.'
'Sedikit?'
'Aku tidak menghitung.'
Kiana tertawa pendek, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Gian duduk di kursi sebelah. Ketika Kiana menurunkan tangan dan menyentuh lengannya, ia membiarkan sentuhan itu tinggal tanpa segera mengubahnya menjadi sesuatu yang lain.
Setelah cukup tenang, Kiana menemui Bu Dyah untuk mengembalikan ruangan seperti semula. Ali membantu memindahkan gelas, dan Kiana menanyakan apakah masih ada pekerjaan yang memerlukan dirinya. Ia menyelesaikan bagian yang tersisa sebelum urusan pribadi lain dibicarakan.
Menjelang selesai kegiatan klinik, ia meminta waktu kepada Bu Dyah. Kali ini bukan mengenai tamu.
Ia ingin menggunakan sebagian uang pengembalian biaya pernikahan untuk kebutuhan klinik. Keinginan itu sudah dipikirkannya, tetapi ia tidak ingin membeli barang yang ternyata hanya memenuhi lemari atau menambah pekerjaan orang lain.
Bu Dyah memintanya melihat daftar kebutuhan yang memang sedang disusun. Mereka membicarakan barang yang paling sering dipakai serta peralatan yang perlu diganti. Ali dipanggil untuk memastikan keadaan barang yang ada, sebab ia lebih sering memeriksa persediaan pada giliran tertentu.
Satu alat masih dapat diperbaiki. Yang lain memang sudah beberapa kali mengganggu pelayanan. Kiana mengubah pilihannya setelah mendengar keterangan itu.
'Aku tadi hampir membeli yang tampak paling bagus di foto,' akunya.
'Untung belum dibeli,' jawab Ali. 'Yang itu bisa lebih sering dipandangi daripada dipakai.'
Bu Dyah tertawa dan meminta mereka mengecek kembali kebutuhan sebelum memesan. Kiana menyepakati jumlah sumbangan yang dipilihnya, lalu melakukan transfer melalui jalur penerimaan yang ditunjukkan setelah disetujui. Bu Dyah memeriksa penerimaan dana dan memberikan bukti, sementara pengadaan disiapkan berdasarkan kebutuhan yang telah mereka cocokkan.
Barangnya belum mendadak memenuhi ruang pemeriksaan sore itu. Kiana menyimpan bukti penerimaan bersama catatan barang yang akan dipesan, lalu meminta kabar ketika pesanan tiba agar ia dapat membantu menatanya di luar jam pelayanan.
Dalam perjalanan pulang, Gian menanyakan apakah ia ingin mampir membeli makanan. Kiana baru menyadari betapa laparnya dirinya.
'Apa saja yang tidak perlu diperdebatkan,' katanya.
Gian berhenti di tempat yang memungkinkan mereka memilih makanan tanpa terburu-buru. Ketika Kiana menginginkan dua lauk sekaligus, ia tidak berkomentar tentang perubahan keputusan.
Di meja kecil itu, Kiana mengirim bahan yang telah disetujuinya kepada pihak pemberita yang akan dimintai koreksi, disertai jalur konfirmasi dari orang-orang terkait. Ia menulis bahwa keterangan Wiryo harus tetap dibatasi pada tujuan pertemuan, kemudian mengirim pesan kepada Omar mengenai langkah yang ditempuhnya.
Balasan Omar masuk beberapa saat kemudian, meminta izin menghubunginya setelah ia sempat beristirahat. Kiana menyetujui waktu malam dan menyebut bahwa ia belum ingin memberikan wawancara baru. Urusan koreksi yang dimintanya tidak harus dibayar dengan kembali tersenyum di depan kamera.
Setelah itu ia meletakkan telepon dengan layar menghadap ke bawah.
Gian menyodorkan piringnya karena salah satu lauk ternyata lebih pedas dari perkiraan. Kiana mencicipi, terbatuk kecil, lalu menuduhnya sengaja mencari teman kesulitan.
Untuk pertama kalinya hari itu, mereka tertawa tanpa harus menunggu orang lain selesai menjelaskan masa lalu.