Karin meminta waktu untuk mencari bagian percakapan yang dimaksud. Kiana menunggu tanpa mengulurkan tangan ke teleponnya. Ketika layar dibalik ke arahnya, ia lebih dahulu bertanya apakah Karin bersedia bagian yang berkaitan dengan dirinya diperiksa bersama.
'Bersedia,' jawab Karin. 'Yang lain jangan dibaca. Ada urusan keluarga yang tidak ada hubungannya.'
Kiana mengangguk. Ia meminta Karin tetap memegang telepon dan membuka rangkaian pesan sebelum serta sesudah bagian yang ditunjuk. Ia tidak ingin mengambil satu tangkapan layar lalu mengulang cara orang menghakimi dirinya.
Gala duduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Nama kontak pada layar tidak cukup membuktikan siapa pengirimnya, sehingga Kiana meminta ia ikut memeriksa nomor dan mengakui pesannya sendiri.
'Itu nomorku,' katanya.
Karin menggulir perlahan. Ada pertengkaran mengenai kehamilan, ketakutan kabar itu diketahui orang, serta pembicaraan tentang berita yang lebih dahulu menyeret Kiana. Tidak semuanya direncanakan dalam satu malam. Beberapa pesan menunjukkan bagaimana kebohongan kecil mereka dirawat sampai menghasilkan alasan untuk kebohongan berikutnya.
Kiana berhenti pada bagian yang menyebut pertemuannya di hotel.
'Kamu tahu aku akan ada di sana?'
Gala menelan ludah. 'Aku tahu ada pertemuan.'
'Dan kamu menyebutnya perselingkuhan?'
'Aku tidak mengira akan sebesar itu.'
Gian menggeser duduknya, tetapi tetap diam. Kiana sendiri yang meminta Gala menjawab pertanyaan yang diajukan, bukan menjelaskan ukuran akibat yang dahulu diperkirakannya.
'Iya,' jawab Gala akhirnya. 'Aku memakai cerita itu untuk mengalihkan perhatian.'
Karin menatap layar. Di sana ada pesan Gala yang menyuruhnya tidak membahas kehamilan ketika kabar mengenai Kiana mulai ramai. Ada pula balasan Karin yang menyetujui diam, kemudian pertanyaan tentang bagaimana jika Kiana membantah.
Kiana membaca bagian itu dua kali.
Ia mengingat ruang yang terasa terlalu dingin, kalimat yang tidak pernah selesai didengar orang, dan wajah orang-orang yang merasa mengenal seluruh hidupnya dari potongan berita. Ia pernah berusaha membela diri di tengah kelelahan, lalu akhirnya pergi karena setiap jawaban tampak hanya menyediakan bahan baru.
'Kalian membicarakan bagaimana kalau aku membantah,' katanya pelan. 'Bukan bagaimana kalau aku hancur.'
Karin mengusap pipi. 'Iya.'
Gala membuka mulut, tetapi tidak jadi bicara.
Kiana meminta mereka berhenti menggulir sejenak. Ia menaruh kedua kaki di lantai, memegang gelas, dan mendengar suara Gian menanyakan apakah ia ingin keluar sebentar.
'Belum,' jawabnya. 'Aku ingin menyelesaikan yang ini.'
Ia memandang Gala. 'Waktu aku tanya tentang hubungan kalian, kamu punya kesempatan menjawab. Kamu justru membuatku merasa harus menjelaskan sesuatu yang tidak kulakukan.'
'Aku takut kehilangan semuanya.'
'Jadi kamu membiarkan aku kehilangan milikku.'
Tidak ada jawaban yang dapat membuat kalimat itu terasa lebih ringan. Gala menunduk, dan untuk beberapa saat bunyi dari lorong menjadi lebih jelas daripada suara mereka di dalam ruangan.
Karin menawarkan mengirim seluruh percakapan. Kiana menolak mengambil bagian pribadi yang tidak berkaitan. Mereka memilih pesan yang relevan bersama, dengan konteks sebelum serta sesudahnya agar artinya tidak dipotong. Karin menyetujui penyimpanan bagian itu untuk pemeriksaan dan koreksi pemberitaan, termasuk kesempatan pihak yang memeriksa melihat percakapan asli melalui dirinya.
Gala diminta mengirim pengakuan dari nomornya sendiri mengenai pesan yang telah dibaca dan keterlibatannya dalam tuduhan tersebut. Ia mengetik di depan mereka, membacanya kembali ketika Kiana menunjukkan satu kalimat yang masih menyalahkan keadaan, lalu memperbaikinya.
'Bukan terbawa situasi,' kata Kiana. 'Kamu memilih mengatakan itu.'
Gala menghapus bagian tersebut. Pesan yang kemudian diterima Kiana menyebut tindakannya dengan lebih jelas. Ia menyimpan pesan itu tanpa mengatakan semua sudah selesai.
'Aku tidak akan langsung menaruh ini di internet,' katanya. 'Aku ingin pihak yang menulis berita memeriksa dan memperbaikinya.'
Karin mengangguk. Gala menanyakan apakah hal itu masih diperlukan jika mereka sudah meminta maaf secara pribadi.
Kiana menatapnya sampai ia mengalihkan pandangan.
'Yang membaca tuduhanmu tidak duduk di ruangan ini,' jawabnya.
Gian menyerahkan tisu ketika Kiana mencarinya. Ia menggunakan satu lembar untuk mengeringkan telapak tangan yang berkeringat, bukan karena ia ingin menangis di depan mereka. Perasaannya belum mempunyai bentuk yang mudah dikenali.
Ada bagian dirinya yang ingin mereka segera pergi. Bagian lain takut kehilangan kesempatan memperoleh jawaban yang dahulu tidak pernah diberikan. Ia memilih satu pertanyaan lagi.
'Apa kalian tahu siapa orang yang menemuiku di hotel?'
Karin menggeleng. Gala mengatakan ia hanya mengetahui adanya pertemuan, kemudian memakai dugaan yang menguntungkan dirinya tanpa memastikan maksudnya.
Kiana menarik napas. Ia sudah lelah membuktikan hidupnya kepada orang yang pernah paling dekat, tetapi ia ingin nama orang lain tidak terus diseret menjadi tokoh rekaan dalam berita tentang dirinya.
'Namanya Pak Wiryo,' katanya. 'Kalau aku meminta beliau mengonfirmasi tujuan pertemuan, itu karena aku ingin keterangannya datang dari orang yang benar-benar hadir. Bukan supaya kalian boleh memeriksa urusan keluarga atau kesehatan siapa pun.'
Karin mengangguk lebih dahulu. Gala menyusul setelah Kiana menunggu jawabannya.
Karin meraih tas ketika teleponnya hampir terjatuh dari pangkuan. Gala bergerak membantu, tetapi ia mengembalikan sendiri benda itu ke meja. Kiana memperhatikan gerakan yang dahulu mungkin akan membuatnya memalingkan wajah. Kini ia hanya meminta keduanya memastikan pesan yang disepakati sudah terkirim. Ia memeriksa penerimaan berkas pada teleponnya, lalu menyebut bagian yang belum masuk. Karin mengirim ulang satu gambar yang gagal terunggah sebelum percakapan diteruskan.
Kiana mencari nomor Wiryo pada teleponnya sendiri. Ia mengirim pertanyaan apakah beliau memiliki waktu berbicara singkat dan menjelaskan bahwa ia ingin meminta izin mengenai keterangan pertemuan mereka dahulu. Ia tidak menelepon berulang atau menyuruh orang itu membuktikan sesuatu tanpa tahu alasannya.
Sambil menunggu balasan, ia mematikan layar.
Gian bertanya apakah airnya perlu ditambah. Pertanyaan biasa itu membuat bahunya sedikit turun. Ia menggeleng, kemudian meminta pintu dibuka sebentar agar udara dari lorong masuk.
Di luar, pekerjaan klinik tetap berjalan. Kiana mendengar Ali menyapa seseorang, lalu memanggil nama pasien berikutnya. Ia memandang celah pintu itu sebelum kembali kepada kedua tamunya. Hidupnya sudah bergerak lebih jauh daripada hari yang terus mereka pakai untuk menjelaskannya.