Kamis siang itu, Kiana masih berada di ruang pemeriksaan ketika Ali mengetuk pintu. Ia menunggu sampai pembicaraan dengan pasien selesai sebelum mengatakan bahwa ada dua orang mencarinya.
'Yang satu bilang namanya Karin.'
Tangan Kiana berhenti di atas berkas. Ia meminta Ali memastikan pasien berikutnya tetap mendapatkan pelayanan, kemudian menuntaskan catatannya sebelum keluar.
Bayu berdiri dekat meja depan. Ia baru selesai membantu pekerjaan yang menjadi bagiannya, tetapi belum meninggalkan klinik. Dari arah pintu masuk, Gala bangkit seolah dapat menyambut Kiana dengan kebiasaan lama.
Kiana tidak mengulurkan tangan.
'Kalian datang untuk apa?'
Karin duduk di samping Gala. Kehamilannya terlihat, tetapi Kiana tidak menebak keadaan maupun usia kandungan hanya dari tubuh yang dilihat. Ia mempertahankan jarak dan menunggu jawaban.
'Ada yang perlu aku jelaskan,' kata Karin.
'Lewat pesan juga bisa.'
'Aku tahu kamu mungkin tidak ingin bertemu.'
'Kalau tahu, seharusnya kamu bertanya dulu.'
Karin menunduk. Gala hendak menyela, tetapi Kiana mengangkat tangan. Ia tidak ingin ruang tunggu klinik berubah menjadi tempat mereka berbicara keras sementara orang lain membutuhkan pertolongan.
Bu Dyah keluar setelah menerima kabar dari Ali. Kiana menerangkan singkat bahwa mereka adalah kenalan lama dengan urusan pribadi, lalu meminta izin memakai tempat yang tidak mengganggu pemeriksaan bila waktunya memungkinkan. Bu Dyah memeriksa pembagian pekerjaan lebih dahulu.
'Pasien yang masih menjadi bagianmu diselesaikan dulu. Sesudah itu kita bisa atur,' katanya.
Kiana mengangguk. Ia kembali bekerja, meninggalkan Gala dan Karin dengan pilihan menunggu atau pulang. Tidak ada yang diberi hak memotong antrean karena membawa persoalan masa lalunya.
Di ruangan lain, Gian sedang mendampingi dua petugas lapangan baru yang menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti kegiatan bersama yayasan. Ia tidak datang untuk diperiksa menggantikan mereka, dan tidak masuk ke pembicaraan medis yang bukan miliknya.
Salah seorang petugas keluar sambil mencari map yang tertinggal. Gian mengambilnya dari bangku, lalu menyerahkan kepada pemiliknya. Dari tempat itu ia melihat Gala, kemudian Kiana yang kembali melintasi lorong dengan wajah terlalu tenang.
Ia mengenali perubahan itu.
Namun Gian tetap menunggu sampai urusan kedua petugas selesai. Ia memastikan mereka memahami jadwal berikutnya dan kendaraan pulang telah tersedia sebelum mencari kesempatan berbicara dengan Kiana.
Bayu lebih dahulu mendekatinya.
'Ada tamu dari Jakarta,' katanya pelan.
'Aku lihat.'
'Kiana masih menyelesaikan pasien.'
Gian mengangguk. Ia tidak meminta Bayu meninggalkan pekerjaan atau ikut mengerubungi tamu. Mereka berdiri sebentar, lalu Bayu kembali ke tempat yang masih membutuhkannya.
Ketika akhirnya Kiana keluar, ia menarik napas panjang sebelum melihat Gian.
'Kamu ada waktu sesudah urusanmu selesai?'
'Sudah selesai. Kamu ingin aku menunggu atau ikut?'
Kiana menatap pintu ruang tunggu. 'Ikut. Tapi kalau aku minta berhenti, kita berhenti.'
Gian mengangguk. Tidak ada janji akan memukul siapa pun untuk membuatnya merasa dilindungi. Ia hanya mengambilkan air yang ditunjuk Kiana, lalu menunggu sementara perempuan itu berbicara kepada Bu Dyah.
Mereka menggunakan ruang yang sudah tidak dipakai untuk pemeriksaan pada waktu tersebut. Ali mengetahui di mana Kiana berada dan tetap dapat memanggil bila ada kebutuhan klinik. Bayu memiliki tugas lain dan tidak ikut masuk, meskipun sorot matanya menunjukkan ia ingin memastikan Kiana tidak ditinggalkan sendirian.
Gala memperhatikan Gian ketika mereka duduk.
'Ini siapa?'
'Orang yang aku minta menemani,' jawab Kiana.
'Aku cuma ingin bicara dengan kamu.'
'Kalau itu syaratmu, kita tidak perlu bicara.'
Gala terdiam. Karin menyentuh lengannya dan meminta ia berhenti mempermasalahkan tempat duduk. Gian mengambil kursi di sisi Kiana tanpa menaruh diri di tengah percakapan.
Beberapa detik pertama diisi bunyi kipas dan langkah orang di luar. Kiana memegang gelas, menunggu sampai tangannya tidak lagi ingin meremas benda itu.
Karin membuka tas, lalu mengeluarkan telepon. Ia belum menyerahkan apa pun ketika Kiana bertanya apakah pembicaraan ini akan kembali menyalahkannya atas berita yang beredar.
'Tidak,' jawab Karin. 'Aku datang karena aku ikut membuatnya terjadi.'
Gala menoleh kepadanya. Karin menghindari tatapan itu, tetapi meneruskan dengan suara yang lebih jelas.
'Waktu aku datang ke tempatmu dulu, aku tahu soal kehamilan ini. Aku juga tahu hubungan kami tidak seharusnya disembunyikan dengan menyakiti kamu.'
Kiana menelan ludah. Pengakuan itu tidak memberinya kabar baru tentang perselingkuhan. Ia telah mengetahui kehamilan Karin sebelum meninggalkan kehidupan yang dibangun bersama Gala. Yang membuat dadanya sesak adalah mendengar seseorang akhirnya menyebut pilihan mereka tanpa memintanya ikut bertanggung jawab.
'Kamu masih ingat hadiah yang kamu bawa?' tanyanya.
Karin memejamkan mata sebentar. 'Ingat.'
'Kamu tahu apa yang kamu lakukan waktu menyerahkannya?'
'Iya.'
Gala menggeser tubuh. 'Kita tidak perlu mengulang semuanya,'
'Kalian yang datang,' potong Kiana. 'Aku yang menentukan apa yang perlu aku tanyakan.'
Gian tidak menyentuhnya tanpa diminta. Namun ketika Kiana menaruh gelas terlalu dekat tepi meja, ia menggesernya sedikit agar tidak jatuh. Gerakan kecil itu memberinya waktu mengatur napas.
Karin mengangguk dan membiarkan pertanyaan tersebut tinggal di antara mereka. Permintaan maafnya keluar tersendat, tanpa mengatakan bahwa rasa takut membuat semua tindakannya dapat dimaklumi.
'Aku tidak minta kamu menerima sekarang,' katanya.
'Aku bahkan belum tahu apakah aku ingin menerimanya nanti.'
'Aku mengerti.'
Kiana belum percaya bahwa Karin benar-benar mengerti. Ia juga tidak wajib memutuskan perasaannya sebelum percakapan berakhir. Ia hanya tahu bahwa kali ini tidak ada panggung atau pembawa acara yang akan memotong jawabannya demi iklan.
Gala menunduk ketika Karin meletakkan telepon di atas meja.
'Ada pesan yang perlu kamu lihat,' kata Karin. 'Bukan cuma ceritaku tentang pesan itu. Kalau kamu bersedia, aku buka percakapannya di sini.'
Kiana memandang layar yang masih gelap, lalu mengalihkan perhatian kepada Gala.
'Kalau aku bertanya, kamu menjawab sendiri. Jangan sembunyi di belakang Karin lagi.'
Lelaki itu mengangguk setelah melirik telepon Karin. Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, ia tampak kehabisan kalimat yang biasa dipakai untuk mengendalikan arah pembicaraan.