Lebih dari delapan minggu berlalu sejak percakapan Gian dengan Huda di paviliun. Pada Jumat pagi, lelaki itu berdiri di depan cermin sambil memperhatikan kemeja yang baru dipakainya. Tidak ada seragam lapangan yang perlu dirapikan hari itu.
Ia memasukkan kembali kemeja ke celana, menariknya keluar sedikit, lalu mengulang gerakan pertama.
Dari pintu yang terbuka, Hannah mengangkat satu alis. 'Mau rapat atau difoto buat kalender?'
'Kancingnya tidak sejajar.'
'Kancingnya benar. Kamu yang dari tadi menarik sebelah.'
Gian berhenti mengutak-atik pakaian. Hannah menyodorkan map yang semalam diletakkan di meja, kemudian memeriksa apakah bekal makan siang sudah masuk tas. Ia menyiapkannya karena Gian mengaku belum tahu apakah kegiatan pertamanya akan selesai sebelum tengah hari.
Kemarin, Gian telah menyelesaikan serah terima tugas dan perlengkapan kerja yang masih menjadi tanggung jawabnya. Huda hadir dalam pertemuan itu. Keputusan mengenai berakhirnya penugasan Gian telah melalui pihak instansi yang berwenang, setelah pembicaraan, penilaian kondisi, dan pengurusan yang berlangsung selama beberapa pekan.
Rama tidak menandatangani keputusan tersebut. Sahabatnya baru dapat menuntaskan penerimaan kerja di yayasan setelah Gian memperoleh kepastian dari tempat kerja lamanya.
Saat mengembalikan perlengkapan, Gian sempat menahan tangan di atas meja. Ada barang yang berkali-kali dibawanya masuk hutan, diperbaiki, kemudian dibawa lagi. Petugas penerima menunggu sementara ia memeriksa daftar terakhir.
Huda tidak memintanya berpidato. Ia menyalami Gian dan berpesan agar nomor teleponnya jangan ikut dikembalikan bersama perlengkapan.
Gian tertawa, tetapi baru menjawab sesudah tenggorokannya terasa lebih longgar.
Hari ini, sisa perasaan itu masih mengikuti sampai ke mobil. Pelindung yang digunakannya sudah menjadi bagian pembicaraan dengan tenaga yang merawat. Ia menjalani penyesuaian secara bertahap, mencatat kesulitan yang nyata, dan kembali untuk tindak lanjut sesuai kebutuhan. Suara tajam tetap dapat mengganggunya. Tidur pun belum selalu mudah, meskipun malam yang lebih baik sudah lebih sering datang.
Ia berhenti ketika mendengar langkah di tangga.
Kiana turun dengan rambut yang belum sepenuhnya kering. Di tangan kirinya ada tas kerja, sementara tangan kanan menahan wadah sarapan agar tidak miring.
'Wah,' katanya. 'Ternyata kamu punya baju yang tidak kelihatan siap menangkap orang.'
'Aku pernah memakai kemeja.'
'Aku belum pernah melihat kamu segugup ini memakainya.'
Gian membuka pintu mobil, tetapi Kiana hanya menitipkan wadah ke bangku kosong. Kendaraan yang akan mengantarnya ke klinik sudah dijadwalkan. Mereka tidak akan berangkat ke tujuan yang sama pagi itu.
'Ini buat dibagi,' katanya. 'Jangan bilang kamu yang bikin.'
Gian membuka sedikit tutupnya. Potongan roti berjejal dengan bentuk yang tidak seragam.
'Kalau aku mengaku, orang langsung tahu bohongnya.'
Kiana menepuk lengannya yang sehat. 'Semoga hari pertamamu menyenangkan, Pak Koordinator.'
Sebutan itu membuat Gian menggeleng, tetapi ia menyimpan wadah dengan hati-hati.
Di Yayasan Puncak Rimba, Rama sudah menunggu bersama dua orang yang akan bekerja dengannya. Gian menyelesaikan penandatanganan penerimaan kerja setelah membaca tanggung jawab yang disepakati. Ia akan mengoordinasikan kegiatan konservasi dan edukasi, dengan pembagian pekerjaan yang mempertimbangkan kemampuan serta kebutuhan yayasan.
Rama menutup map, lalu menunjuk tumpukan bahan di samping lemari.
'Nah. Sekarang bagian yang tidak ada di foto sambutan.'
Sekotak alat peraga tersangkut di bawah kotak lain. Ketika ditarik, beberapa kartu bergambar tumbuhan berhamburan. Gian jongkok memungutnya, sedangkan Rama menahan kotak yang hampir jatuh.
'Kamu sengaja menunggu aku masuk untuk membereskan ini?'
'Kalau aku bilang tidak, kamu percaya?'
Mereka tertawa. Gian meletakkan kartu yang tercampur ke meja, lalu mulai memisahkan gambar berdasarkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada satu kartu, nama tumbuhan tertutup bekas selotip sehingga seorang pendamping salah membacanya. Ia mengganti penanda itu sebelum bahan dibawa ke kelompok pengunjung.
Kegiatan pertamanya bukan pidato besar. Sekelompok pengunjung sedang mengikuti pembahasan mengenai perjalanan yang bertanggung jawab dan kerusakan jalur. Gian berdiri di dekat meja contoh, memperhatikan seorang peserta hendak memindahkan benda yang dipakai sebagai penanda.
'Kalau ini diambil buat dibawa pulang, rombongan berikutnya mengikuti apa?' tanyanya.
Peserta itu berhenti, kemudian mengembalikan benda tersebut sambil tertawa malu.
Gian tidak meneruskan dengan bentakan. Ia meminta mereka menyusun kembali petunjuk yang sengaja dicampur, lalu membandingkan keputusan masing-masing. Beberapa orang memilih arah berbeda. Perdebatan kecil membuat mereka melihat betapa mudahnya rombongan terpisah ketika setiap orang merasa paling tahu.
Sesudah kegiatan, Gian duduk di ruang yang lebih tenang. Rama masuk membawa air dan bertanya bagian mana yang perlu diubah untuk pertemuan berikutnya.
'Jangan tempatkan meja tepat di samping pengeras suara,' jawab Gian.
Rama mengangguk dan memindahkan catatan susunan ruangan. Mereka membicarakan durasi kegiatan serta orang yang dapat mengambil alih jika Gian perlu berhenti. Gian menuliskan sendiri perubahan itu, lalu mengecek jadwal bersama pendamping yang tadi membantunya mengumpulkan kartu. Mereka sepakat datang lebih awal untuk menyiapkan meja sehingga pengunjung tidak harus menunggu. Setelah itu, roti Kiana dibuka. Rama mengambil potongan paling besar sebelum Gian sempat menjelaskan bahwa itu seharusnya dibagi rata.
Sore harinya, Gian pulang dan menemukan Hannah sedang menghitung biaya bahan untuk paviliun. Di samping buku pengeluaran ada informasi kuliah jarak jauh yang beberapa kali dibacanya.
'Aku belum daftar,' katanya ketika melihat arah pandang Gian. 'Masih mau tanya jadwal dan biayanya. Kerjaan di sini juga harus dibagi kalau jadi.'
'Aku bisa bantu mencari orang untuk beberapa giliran.'
'Bantu cari. Jangan langsung menjanjikan semua bisa kamu kerjakan sendiri.'
Gian menerima koreksi itu dengan anggukan. Hannah menatapnya sejenak, lalu menanyakan hari pertama tanpa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Malamnya, Kiana menunjukkan sketsa yang sempat dikerjakannya di sela waktu luang. Lukisan Rinjani yang lebih besar masih belum selesai. Ia memiringkan kertas agar Gian dapat melihat garis pada wajah yang belum lengkap.
'Ini aku?'
'Belum tentu.'
'Hidungnya sudah dituduh sebagai hidungku.'
Kiana tertawa. Gian duduk setelah dipersilakan, masih mengenakan kemeja yang kini kusut. Hari pertamanya tidak menghapus hutan dari hidupnya. Namun malam itu ia mempunyai cerita baru, dan seseorang yang ingin mendengarnya sampai selesai.