Kiana menggenggam tangan Gian seolah takut kabut akan membawanya pergi lagi. Ia masih menangis ketika lelaki itu menanyakan apakah ada bagian lain yang sakit. Pertanyaan sederhana itu justru membuat tangisnya semakin sulit dihentikan.
'Aku pikir kamu pergi,' katanya.
'Aku memang pergi. Tapi harusnya aku bilang.'
'Kamu belum boleh naik begini.'
'Kamu juga nggak seharusnya masuk sendiri.'
Kiana hendak membalas, lalu melihat balutan lengan kiri serta wajahnya yang masih pucat. Tidak ada kemenangan yang dapat diperoleh dengan membuktikan siapa lebih dulu membuat orang lain khawatir. Ia mengaku tidak menunggu tim dan memberi alasan yang tidak benar di pos.
Gian menatapnya dengan marah yang perlahan berubah menjadi lelah. Ia sendiri meninggalkan rumah untuk menghindari perhatian orang yang ingin membantu. Akibatnya seseorang yang juga takut kehilangan kini duduk terluka di depannya.
'Aku cuma mau menemukan kamu,' bisik Kiana.
'Aku tau.'
'Tapi sekarang mereka harus mencari aku juga.'
Gian mengangguk dan menunggu tangisnya cukup mereda agar ia dapat menjawab pertanyaan berikutnya. Ia menanyakan apa yang telah disampaikan melalui ponsel, lalu memastikan Erik menerima keadaan keduanya sebelum kembali menyimpan radio.
Kiana menunjuk kaki kanan dan mengatakan ia tidak mampu kembali seperti tadi. Gian menyampaikan kembali tanpa mencoba menetapkan cedera dari suara atau geraknya. Ketika ia sendiri mengubah posisi, rasa sakit pada lengan membuatnya berhenti dan duduk lebih baik.
'Jangan mencoba gendong,' kata Kiana.
'Aku sudah bilang aku nggak sanggup.'
Perempuan itu menatapnya. Jawaban tersebut lebih sulit didengar sekaligus lebih menenangkan daripada janji bahwa Gian dapat mengalahkan semua keadaan. Ia melepaskan genggaman sebentar agar tangan lelaki itu dapat beristirahat, kemudian menunggu bersama.
Suara pertama yang jelas datang dari arah jalur. Erik memanggil, menerima jawaban, lalu muncul bersama anggota serta orang yang membawa kebutuhan pertolongan. Ia berhenti ketika melihat Gian dan Kiana duduk berdekatan.
'Kalian berdua ingin membuat saya cepat tua?' keluhnya.
Kiana tertawa pendek di antara sisa tangis. Gian menunduk, tidak membalas dengan teguran tentang cara junior berbicara. Mereka memberikan keterangan yang diminta agar bantuan dapat disesuaikan dengan keadaan, bukan memaksa semua orang mengikuti cara yang mereka pilih sendiri.
Kiana dibantu menggunakan sarana evakuasi. Gian juga didampingi saat turun, dengan ransel dialihkan kepada anggota lain. Dua anggota bergantian mendampinginya pada bagian yang sulit. Gian berhenti ketika perlu, menyerahkan ransel tanpa berdebat siapa yang lebih kuat membawanya.
Perjalanan terasa lambat bagi Kiana. Ia ingin mengatakan dirinya baik agar semua orang tidak terlalu lelah, tetapi setiap gerakan mengingatkan bahwa mereka memang perlu mengatur langkah. Ia menjawab pertanyaan dengan jujur dan membiarkan orang yang terbiasa menangani jalur menentukan bagian yang aman dilewati.
Gian beberapa kali meminta berhenti ketika perlu menunggu rasa tidak nyaman mereda. Mengatakannya di depan anggota membuat wajahnya panas. Namun Erik hanya memberi tahu orang lain agar tidak menambah jarak, lalu menanyakan apakah ia perlu bantuan lain.
Dari radio terdengar laporan mengenai tim pada jalur keluar yang berbeda. Orang yang dicari sejak pelarian Sabtu telah diamankan setelah pemeriksaan berdasarkan ciri serta keterangan yang diteruskan. Barang yang dibawanya dan catatan terkait pengangkutan akan diserahkan melalui petugas yang menangani perkara.
Erik menerima kabar itu sambil tetap memperhatikan evakuasi. Ia tidak memanggil Gian untuk turun mengambil alih. Ketika komandannya menanyakan, ia mengatakan tim lain yang melanjutkan pekerjaan dari arah yang telah dilaporkan.
'Kerja bagus,' jawab Gian.
Ia mengatakan kalimat itu dengan napas tersengal dan suara lelah. Ia memandang anggota yang membuka jalan dan orang yang membantu Kiana, lalu kembali menjawab Erik. Pekerjaan yang masih menunggu tidak hilang, tetapi ia mendengar sendiri bahwa orang lain mampu menjaga bagian yang tidak dapat dijangkaunya.
Di bawah, Hannah menunggu bersama petugas dan kendaraan pertolongan. Ia mendekati Kiana lebih dahulu, memegang tepi sarana yang berhenti sebelum diminta memberi ruang kepada tim medis. Matanya merah, tetapi pertanyaan pertamanya bukan mengenai hubungan dengan Gian.
'Kamu masih bisa dengar aku? Kamu sakit di mana?'
Kiana menjawab, lalu meminta maaf. Hannah mengangguk tanpa mengatakan tidak ada masalah. Ia sudah terlalu takut untuk membuat semua kejadian terdengar sebagai petualangan yang lucu.
Gian juga diterima untuk pemeriksaan ulang setelah kegiatan yang bertentangan dengan kebutuhan pemulihannya. Ia menerangkan sakit yang bertambah dan sempat melepas peredam, tidak menyembunyikannya karena Kiana sudah ditemukan. Informasi tentang benturan Sabtu turut diberikan agar penanganan tidak dimulai seolah ia hanya kelelahan berjalan.
Kiana menjalani penilaian cedera kaki serta keadaan umum. Ia tidak mengambil peralatan untuk memeriksa diri lalu memutuskan boleh pulang sendiri. Ketika ditanya apa yang terjadi, ia menjelaskan jatuh serta pergerakan yang dilakukan setelahnya, termasuk ketidakmampuannya melanjutkan perjalanan.
Huda menerima keterangan mengenai akses jalur yang diberikan berdasarkan alasan tidak benar. Ia meminta petugas menuliskan urutan yang sesungguhnya dan membahas kekeliruan verifikasi yang membuka jalan bagi kejadian ini. Identitas dokter tidak dijadikan izin tanpa batas pada jalur yang ditutup.
Bu Dyah menghubungi setelah memastikan siapa yang menerima Kiana. Perempuan itu mengatakan tugas klinik sementara akan diatur berdasarkan hasil penilaian kondisi, lalu meminta Kiana bersedia membicarakan pilihannya setelah keadaan memungkinkan.
'Saya sudah membuat orang lain kerepotan,' kata Kiana.
'Kita bicarakan dengan jujur. Sekarang ikuti pemeriksaannya dulu.'
Malam itu kebutuhan perawatan dan tindak lanjut disusun oleh tim yang menangani. Hannah membantu menghubungi orang yang diperlukan, sementara Erik menyelesaikan penyerahan keterangan dari jalur. Gian serta Kiana tidak pulang hanya karena ingin segera lepas dari pertanyaan.
Ketika sempat duduk pada jarak yang memungkinkan, Kiana menatap Gian dan mengatakan ia masih takut ditinggalkan. Gian menjawab ia juga takut, lalu mengakui bahwa pergi diam-diam justru membuat rasa takut itu menimpa orang lain.
Mereka tidak membuat janji bahwa tidak akan pernah ada kehilangan lagi. Gian hanya menyebut satu hal yang dapat dilakukannya: memberi kabar dan menerima bantuan ketika dibutuhkan. Kiana mengangguk, lalu meletakkan tangan di sisinya sendiri sambil menunggu dipanggil kembali oleh petugas.