Gian sudah duduk cukup lama di dekat batu besar ketika menyadari kabut membuat jalur pulang lebih sulit dilihat. Ia tidak sedang bertugas. Tidak ada anggota yang menunggu perintahnya atau mengetahui persis tempat yang dipilihnya untuk bersembunyi dari pertanyaan orang.
Ia datang karena mengenal tempat itu dari hari-hari bersama Anjani. Ingatan yang dicari bukan pemandangan yang harus selalu tampak dari batu tersebut, melainkan suara kakaknya mengeluh ketika ia terlalu cepat berjalan. Dulu ia menertawakan keluhan itu. Sekarang ia sendiri harus berhenti beberapa kali karena tubuh belum sanggup mengikuti keinginannya.
Rasa tertarik pada lengan membuatnya membetulkan posisi. Ia tidak dapat terus berpura-pura luka yang dibalut hanya gangguan kecil. Ketika menunduk, kepalanya ikut terasa tidak nyaman, mengingatkan tempat perawatan yang baru ditinggalkannya.
'Harusnya aku bilang dulu,' gumamnya.
Ia meraih ponsel. Beberapa pemberitahuan belum masuk dengan utuh, dan panggilan yang dicobanya tidak tersambung. Gian menatap layar, lalu mengambil radio dari ransel. Perangkat itu ikut dibawa pulang bersama barangnya, tetapi selama di rumah lebih sering dibiarkan daripada didengar.
Sebuah suara memanggil namanya. Ia membetulkan posisi perangkat, memastikan yang didengar bukan potongan pesan lama.
'Gian, kalau menerima, sebutkan posisi. Ini Erik.'
Ia menjawab. Suara Erik terdengar lagi, kali ini dengan ketegangan yang tidak dapat dianggap sekadar gangguan perjalanan.
'Komandan di mana? Dokter Kiana masuk menyusul. Dia belum kembali. Petugas baru mengonfirmasi kedatangannya tidak dikoordinasikan dengan tim.'
Gian menggenggam radio lebih erat.
'Kiana masuk?'
'Iya. Ada panggilan yang putus dan pesan yang baru masuk sebagian. Dia menyebut jatuh dan kakinya sakit. Kami sedang menyisir berdasarkan catatan terakhir di pos.'
Gian berdiri terlalu cepat. Rasa tidak nyaman di kepala memaksanya memegang batu dan menunggu sebelum melangkah. Erik kembali memanggil, meminta posisi, bukan membiarkannya berlari mencari tanpa seorang pun mengetahui arah.
Gian menyebut bagian jalur serta tempat kenangan yang diketahuinya. Ia mengakui berjalan sendiri sejak pagi dan belum menghubungi siapa pun. Kalimat itu terasa pahit ketika harus diucapkan kepada junior yang tiga hari lalu menyelamatkannya.
'Tetap bisa dihubungi, Ndan. Kami mendekat. Kalau melihat Kiana, kabari dulu. Jangan memaksakan membawa orang sendiri.'
Gian hampir membalas dengan perintah agar mereka lebih cepat. Ia menelan kalimat itu. Ia tidak lagi memimpin tugas lapangan, dan badan yang membuatnya ditarik sementara belum berubah hanya karena kini Kiana membutuhkan bantuan.
Ia bergerak pendek kembali ke bagian jalur yang lebih mudah dikenali, lalu berhenti. Dari tempat itu ia memanggil nama Kiana, menunggu jawaban dan mencoba membedakan bunyi orang dari gerakan daun. Tidak ada yang langsung menjawab.
Pikirannya mengisi keheningan dengan kemungkinan yang tidak ingin dilihat. Kiana sudah pernah terluka di gunung ini. Ia tahu perempuan itu belum menguasai jalur, dan ia sendiri yang mengajarkan betapa mudah orang keliru ketika berjalan dengan pikiran penuh.
'Kiana!'
Gian menyentuh peredam di telinga kiri. Selama beberapa saat ia ragu, lalu melepasnya mengikuti kebiasaan ketika ingin mendengar lebih jelas. Bunyi sekitar segera terasa terlalu dekat. Nyeri serta dengung naik, membuat lututnya melemah sebelum ia dapat memutuskan apakah suara kecil tadi berasal dari seseorang.
Ia duduk, memasang kembali perangkat dan berhenti bergerak. Tidak ada alasan menjadikan tubuhnya korban berikutnya agar ia tampak sanggup menolong. Ia melaporkan keluhan serta bunyi yang belum dapat dipastikannya kepada Erik, meminta tim memeriksa sisi yang disebut sambil tetap menjangkau tempatnya.
Erik mengulang keterangan tersebut. 'Kami terima. Komandan jangan memutus komunikasi.'
Erik sudah menyampaikan posisi itu kepada anggota yang membawa kebutuhan evakuasi. Keterangan dari pos, pesan Kiana yang masuk terputus, dan jawaban Gian kini memberi arah yang lebih sempit daripada menyisir semua tempat sekaligus. Ia memastikan petugas medis mengetahui dua orang mungkin perlu dibantu, bukan hanya satu pendaki yang terkilir.
Pada jalur keluar lain, tim yang melanjutkan perkara kayu menerima pengamatan warga tentang orang yang berusaha membawa barang dari arah lokasi Sabtu. Ciri yang disebut sesuai catatan pelarian, sehingga pemeriksaan dilanjutkan oleh anggota yang memang menangani bagian itu. Erik menerima kabarnya melalui markas, lalu meneruskan pencarian korban bersama kelompoknya. Tidak ada kebutuhan membawa Gian kembali memimpin pengejaran.
Gian mengiyakan. Ia menunggu napasnya lebih tenang, lalu memanggil lagi dari tempat yang dapat dijelaskan. Jawaban kali ini lebih jelas daripada suara yang tadi hampir tenggelam.
'Gian?'
Ia mengangkat wajah. Nama itu datang dari arah yang berdekatan dengan bagian jalur, bukan dari tempat jauh yang dapat ditunjuk hanya dengan kemampuan telinganya. Gian memanggil sekali lagi, lalu mendengar jawaban yang sama disertai tangis.
Ia memberi kabar melalui radio sebelum bergerak. Langkahnya pendek, berhenti ketika tidak dapat memastikan pijakan. Dari sela tumbuhan serta kabut yang bergerak, akhirnya ia melihat bagian jaket yang dikenalnya.
Kiana duduk pada tanah basah, satu kaki tidak diletakkan seperti biasanya. Wajahnya berubah ketika melihatnya. Gian berhenti cukup dekat untuk memastikan ia sadar dan dapat menjawab, lalu menyebut temuan itu kepada Erik dengan patokan yang baru dilaluinya.
'Kami di sini. Dia tidak bisa berjalan seperti biasa. Saya juga tidak sanggup membawa sendiri.'
Mengucapkan bagian terakhir membuatnya malu, tetapi ia tetap mengatakannya. Balasan Erik datang singkat: tim telah menerima arah dan akan membawa bantuan yang diperlukan.
Kiana memandangnya dengan mata basah. 'Kamu ke mana?'
'Aku yang seharusnya nanya itu.'
Suara Gian hampir meninggi, lalu tertahan ketika melihat perempuan itu meringis mencoba memperbaiki posisi. Ia berlutut dengan hati-hati, memilih bagian yang tidak membuat lengan kirinya menjadi tumpuan. Kiana mengulurkan tangan, tidak untuk berdiri, hanya memastikan orang di hadapannya benar-benar ada.
Gian memberinya tangan yang mampu digerakkan. Ia tidak menarik Kiana bangkit atau langsung membalikkan badan agar dapat menggendongnya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia memilih tetap berada pada tempat yang diketahui orang lain dan menunggu pertolongan bersama seseorang yang juga terlalu takut untuk menunggu.