Di pos masuk, Kiana menerima jawaban yang seharusnya membuatnya berhenti. Jalur untuk pengunjung baru ditutup karena keadaan tidak memungkinkan. Petugas meminta ia menunggu keterangan tim yang sedang bekerja, bukan mencari jalan sendiri.
Kiana memandang ke arah gerbang. Ia membayangkan Gian berada tidak jauh di balik kabut, mungkin hanya duduk sebentar sebelum turun. Kalau ia dapat menyusul sekarang, semua kecemasan akan selesai sebelum orang-orang perlu naik mencarinya.
Ia menunjukkan kartu relawan medis dan mengatakan sedang menyusul orang yang perlu ditolong. Ketika ditanya apakah ia bagian tim yang sudah berkoordinasi, Kiana memberikan jawaban yang membuat petugas menganggap kedatangannya telah diketahui. Ia tahu jawabannya tidak benar.
Petugas mencatat nama serta waktu masuk, lalu memberi akses yang seharusnya diperiksa lebih dahulu. Ia meminta Kiana tidak melanjutkan melewati batas yang disampaikan. Kiana mengangguk terlalu cepat, mengambil kartu kembali, dan berjalan sebelum pertanyaan berikut membuatnya harus mengakui bahwa ia datang karena takut, bukan karena menerima penugasan.
Di belakangnya, petugas kembali mencoba menghubungi orang yang dianggap mengetahui kedatangannya. Keterangan yang tidak cocok itu kelak akan membuat tim memahami bahwa Kiana telah masuk tanpa koordinasi yang benar. Namun ketika panggilan tersebut berlangsung, perempuan itu sudah tidak berada pada jarak yang mudah dipanggil kembali.
Kabut membuat bagian yang pernah dilewatinya terasa berbeda. Kiana masih mengenali beberapa bentuk jalan, tetapi pengetahuan tentang satu kunjungan tidak cukup untuk menggantikan pandangan yang tertutup. Ia memanggil nama Gian, lalu berhenti mendengarkan.
Tidak ada jawaban.
Ponselnya menampilkan balasan Erik yang sempat masuk sebelum sinyal melemah. Ia diminta tetap di bawah dan memberitahukan tempat menunggu. Kiana menatap pesan itu dengan rasa bersalah yang datang terlalu terlambat untuk membuatnya masih berada di pos.
Ia mengetik bahwa sudah masuk dan mencoba menyebut bagian terakhir yang dikenali. Pesan belum menunjukkan terkirim. Ia mengangkat perangkat sebentar, menunggu, kemudian menurunkannya ketika tidak ada perubahan.
'Gian!'
Suaranya terdengar jauh lebih kecil daripada yang diharapkannya. Ia tidak dapat mengetahui apakah kabut menyembunyikan orang di dekatnya atau ia memang sudah mengambil arah yang salah. Jalan di belakang tampak serupa dengan bagian yang belum dilalui.
Kiana berbalik mencari titik yang diingat. Pada gerakan itulah ia baru merasakan betapa cepat keyakinannya terkikis. Ia datang dengan membayangkan dapat menemukan Gian sebelum petugas lain. Kini ia sendiri perlu mengetahui di mana tempatnya berdiri.
Ia mencoba menelepon. Sambungan tidak bertahan. Satu suku kata keluar dari mulutnya sebelum suara terputus, dan ia tidak tahu apakah siapa pun mendengar. Ia memeriksa nama yang tadi dihubungi, memastikan bukan menekan kontak yang salah karena tangan mulai dingin.
Ternyata benar nomor Erik. Kiana menahan keinginan mengulangi panggilan terus-menerus. Ia melihat daya yang tersisa dan memasukkan perangkat ke tempat yang terlindung dari air, lalu mencoba mundur menuju bagian jalan yang masih dianggapnya dikenal.
Batu di bawah kakinya bergeser. Tubuhnya jatuh ke samping sebelum sempat mencari tumpuan yang baik. Rasa sakit pada pergelangan kanan membuat napasnya tertahan, kemudian keluar sebagai teriakan pendek.
Kiana duduk di tanah yang basah dengan satu tangan menopang tubuh. Ia menatap sepatunya, mencoba menggerakkan diri tanpa menambah sakit. Ia menduga ada cedera pada pergelangan, tetapi tidak dapat menentukan keadaannya hanya dengan menjadi dokter dan berharap itu bukan sesuatu yang serius.
Ia tidak lagi sanggup berjalan seperti ketika masuk. Menyadari hal itu membuat matanya panas. Kiana pernah menegur pendaki yang menganggap diri baik-baik saja karena ingin melanjutkan perjalanan; sekarang ia mendengar semua tegurannya kembali dalam suara sendiri.
'Bodoh,' bisiknya. 'Kenapa nggak nunggu?'
Tidak ada orang menjawab untuk mengubah kemarahan itu menjadi lelucon. Ia memindahkan tubuh seperlunya ke bagian yang tidak langsung dilalui air, menghindari percobaan berdiri yang hanya membuatnya meringis. Setelah itu ia mengeluarkan ponsel dan menulis keterangan tentang jatuh serta tidak mampu kembali sendiri.
Ia menyimpan pesan yang menunggu pengiriman itu, tidak menghapusnya agar tampak seolah kedatangannya tetap terkendali. Jika sinyal kembali, ia ingin tim menerima keadaan sebenarnya.
Angin menyentuh bagian leher yang tidak tertutup jaket. Kiana merapatkan pakaian dan memandang sekeliling, mencoba mengenali suara orang di antara bunyi hutan. Ia tidak lagi berteriak memarahi Gian dalam pikirannya. Ia hanya ingin mendengar seseorang menjawab.
Ada bunyi ranting dari sisi yang tidak dapat dilihatnya. Kiana menegakkan kepala, memanggil nama Gian, lalu nama Erik. Ia menunggu cukup lama untuk mendengar bahwa bunyi berikutnya tidak disertai jawaban manusia. Bahunya kembali turun.
Ia biasanya dapat mengisi ketidakpastian dengan pekerjaan: memeriksa pasien, menanyakan keluhan, memanggil rekan. Di tempat itu semua keahlian tersebut tidak membuat pandangan menembus kabut. Kiana merasakan air mata mengalir dan membiarkannya, sambil tetap mendengarkan apakah panggilannya yang berikut akan dibalas seseorang.
Di pos, petugas akhirnya mengetahui bahwa tim tidak mengirim Kiana sebagai petugas medis tambahan. Ia menyampaikan catatan waktu, alasan yang diberikan, serta arah awal yang dilihat kepada Erik. Kekeliruan pemberian akses diakui agar pencarian tidak dibangun di atas dugaan bahwa perempuan itu masih menunggu di klinik.
Erik meneruskan kabar kepada Huda dan tim yang sedang memeriksa keberadaan Gian. Tugas bertambah: memastikan posisi Gian yang belum pulih dan mencari Kiana yang masuk sendirian. Hannah menerima kabar itu melalui telepon, lalu duduk di kursi resepsionis dengan wajah yang membuat staf segera menawarkan bantuan pekerjaan.
Kiana tidak mengetahui percakapan tersebut. Ia hanya melihat layar ponselnya sempat menyala oleh perubahan jaringan, lalu redup kembali. Ia mengirim ulang keterangan yang belum berhasil keluar dan menunggu tanda berikutnya dengan jantung berdebar.
Pergelangan kanannya terus terasa sakit. Ketika ia memejamkan mata, yang muncul bukan sosok dirinya sebagai penolong. Ia teringat Ali yang memintanya berkoordinasi, serta Hannah yang memohon agar ia menunggu tim di bawah sebelum mengambil keputusan. Kiana membuka mata dan memanggil lagi, kali ini berharap ada orang lain yang dapat menolongnya juga.