Selasa pagi, Hannah menemui Kiana sebelum perempuan itu berangkat ke klinik. Ia tidak membawa orang untuk memindahkan koper. Pesan Bu Dyah mengenai pilihan akomodasi sudah diterima Kiana, dan jawabannya juga sudah disampaikan.
'Aku belum mau pindah, Kak.'
Hannah mengangguk. 'Bu Dyah bilang itu keputusan yang mau kamu bicarakan sendiri.'
'Aku datang ke sini untuk bekerja. Kalau suatu hari tempat ini nggak cocok, aku yang akan memilih pindah. Bukan karena Gian sedang marah kepada dirinya sendiri.'
Kiana merapikan tali tas, lalu menatap Hannah yang masih berdiri dekat meja resepsionis. Ia teringat percakapan mereka tentang jarak beberapa pekan lalu, juga pilihannya sendiri yang tidak selalu sesuai janji. Ia tidak ingin menganggap kesediaan Hannah membantu sebagai tanda semua luka perempuan itu sudah tidak ada.
'Aku tau ini juga susah buat Kakak,' katanya.
'Susah,' jawab Hannah terus terang. 'Aku masih perlu membiasakan banyak hal. Tapi itu bukan alasan mengemasi barangmu tanpa kamu minta.'
Mereka tidak saling berpelukan untuk menyatakan persoalan selesai. Kiana hanya menyentuh singkat lengan Hannah setelah bertanya mengenai keadaan Gian. Perempuan itu mengatakan ia akan mengecek sesuai waktu yang sudah dibicarakan. Pagi tadi belum ada permintaan bantuan baru.
Kiana berangkat setelah kendaraan datang. Hannah kembali mengurus tamu yang hendak menyelesaikan pembayaran kamar. Pekerjaan yang tertunda selama kunjungan ke tempat perawatan harus diperiksa, dan ia tidak dapat terus berdiri dekat rumah Gian sepanjang hari.
Gian sendiri sudah bangun lebih dahulu. Ia duduk memandang seragam yang tidak akan dipakai, lalu pakaian lapangan biasa di lemari. Pesan mengenai jadwal pengganti tugas membuatnya tahu pekerjaan tetap berjalan. Pengetahuan itu seharusnya melegakan, tetapi justru membuat rumah terasa semakin sempit.
Ia ingin berada pada tempat yang tidak dipenuhi tatapan khawatir. Tempat lama yang biasa didatanginya dekat jalur bawah gunung terasa lebih mudah dibayangkan daripada kembali menjawab apakah kepalanya masih sakit. Ia tahu dirinya belum mendapat izin kembali ke kegiatan berat. Keinginan pergi tidak lahir dari penilaian bahwa tubuhnya sudah pulih.
Gian mengambil ransel dan memasukkan radio yang ikut dikembalikan. Ia tidak mengenakan seragam atau menghubungi Huda untuk meminta tugas. Mobil tetap di halaman; kuncinya masih disimpan Hannah sesuai pengaturan kepulangan. Ia memilih berjalan tanpa memberi tahu ke mana tujuannya.
Di halaman ia harus berhenti untuk membetulkan tali ransel. Gerakan menariknya terlalu tinggi membuat lengan kiri terasa sakit. Gian menurunkan beban, memindahkan sebagian ke sisi yang lebih nyaman, lalu duduk pada bangku yang biasa dipakai menerima tamu. Untuk sesaat ia hampir kembali masuk.
Namun dari kafe terdengar seseorang menanyakan apakah ia sudah lebih sehat. Gian mengangguk tanpa menjelaskan, lalu bangkit sebelum pertanyaan lain datang. Ia tidak ingin mengakui bahwa berjalan menjauh juga merupakan cara menghindari percakapan.
Sebelum melewati pagar, ia berhenti sebentar. Ponsel berada di sakunya. Ia dapat mengirim satu kalimat kepada Hannah, tetapi rasa enggan ditanya membuat tangannya kembali turun. Ia meneruskan langkah, meninggalkan penjelasan yang seharusnya diberikan.
Menjelang siang, Hannah datang membawa kebutuhan yang diminta sebelumnya. Ketukan tidak mendapat jawaban. Ia mencoba menghubungi nomor Gian, lalu menunggu sebelum mengetuk lagi. Pintu belum terkunci rapat dan bagian ruang depan terlihat kosong.
Ia memanggil nama Gian dari ambang. Tidak ada suara yang menjawab. Ransel serta sepatu lapangan tidak berada di tempatnya, sementara mobil masih terparkir seperti pagi. Hannah tidak langsung menyimpulkan Gian hilang di gunung. Ia menghubungi balai, menanyakan apakah lelaki itu datang untuk sesuatu yang tidak diketahuinya.
Jawaban Huda membuat kekhawatirannya bertambah. Gian tidak berada di sana dan tidak ditugaskan ke lapangan. Erik juga belum menerima permintaan pertemuan. Hannah memberikan keterangan terakhir yang diketahuinya, kemudian menemui staf yang mungkin melihat orang lewat.
Seorang warga mengenali Gian berjalan ke arah pintu pendakian. Hannah meminta waktu perkiraan dan apakah ia terlihat bersama orang lain. Jawabannya tidak lengkap, tetapi cukup untuk diteruskan kepada Huda dan Erik. Mereka mengatur pemeriksaan jalur serta cara menghubunginya, bukan menyuruh Hannah mencari sendiri.
Sesudah itu Hannah menghubungi klinik. Ia hendak memberi kabar kepada Kiana serta meminta bantuan mengoordinasikan kebutuhan bila kondisi Gian memburuk. Kiana mendengarkan dari tempat yang tidak membuat percakapan pasien terdengar ke telepon.
'Dia pergi sendirian?' tanyanya.
'Yang melihat cuma bilang dia berjalan ke arah sana. Erik sedang mengurus pencarian.'
Kiana memandang ke luar. Punggung bukit mulai tertutup kabut yang lebih tebal daripada ketika ia berangkat. Ia teringat rumah sakit, pintu yang tertutup, dan kalimat Gian bahwa ia tidak mampu menjaga siapa pun. Ketakutan membuat kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang lebih buruk daripada yang sebenarnya diketahui.
Ia menemui Ali setelah memastikan pasien yang sedang ditangani telah mendapat kelanjutan. Bu Dyah diberi tahu dan pengaturan tugas diselesaikan sebelum Kiana mengambil jaket. Ia mengatakan ingin membantu mencari kabar Gian.
'Koordinasi dulu dengan Erik,' kata Ali. 'Jangan sampai tim harus mencari dua orang.'
Kiana mengangguk. Ia bahkan mengirim pesan meminta kabar jalur yang sedang diperiksa. Namun sesudah meninggalkan klinik, ia merasa menunggu balasan terlalu lambat. Ia memilih menuju pintu pendakian lebih dahulu, membayangkan dapat bertemu Gian sebelum masuk terlalu jauh.
Hannah menelepon lagi dan meminta ia menunggu tim. Kiana menjawab ia hanya ingin memastikan di pintu masuk. Kalimat itu menenangkan lawan bicaranya lebih sedikit daripada yang diharapkan.
'Jangan naik sendirian, Ki. Dia juga belum pulih.'
'Aku tau.'
Kiana menyimpan ponsel setelah sambungan selesai. Di kepalanya muncul Ibu yang pergi ketika ia kecil, Ayah yang masih hidup tetapi sulit dijangkau, serta orang-orang yang membuatnya kembali takut ditinggalkan. Ia tahu Anjani telah meninggal dan Ara masih hidup jauh dari Sembalun. Namun rasa takut sedang mendorongnya menyatukan semua kehilangan menjadi ancaman yang sama.
Di depan, kabut bergerak turun menutupi sebagian jalan. Kiana menarik jaket lebih rapat dan melanjutkan langkah menuju pos, meskipun pesan Ali serta Hannah belum berhenti terngiang.