Gian pulang pada hari Minggu setelah tenaga medis mengizinkan dengan pengaturan pemantauan dan tindak lanjut. Hannah menemaninya melalui perjalanan yang sudah disiapkan. Ia tidak kembali dengan menyetir sendiri atau mengambil alih kemudi karena merasa lebih mengenal jalan.
Kendaraannya telah dikembalikan oleh anggota yang ditugaskan atas persetujuannya. Kunci diserahkan kepada Hannah bersama kabar letak parkir. Mobil itu kini berada di halaman, tetapi keberadaannya tidak berarti Gian boleh memakainya untuk kembali ke jalur.
Di rumah, Hannah menaruh barang pribadi pada tempat yang dapat dijangkaunya. Ransel, topi, dan peredam tidak lagi terselip di antara perlengkapan yang dibawa tim. Ia menunjukkan salinan petunjuk perawatan serta waktu kontrol yang sudah dijadwalkan, lalu meminta Gian menyebut jika ada bagian yang belum didengarnya dengan jelas.
Gian menjawab seperlunya. Ia ingin mandi, tidur, dan tidak perlu melihat wajah orang yang mengingatkannya bahwa pagi kemarin berakhir di tempat perawatan.
Hannah mengatur pekerjaan paviliun dengan staf yang dapat mengambil bagian tertentu. Ia tidak tinggal di kamar Gian setiap waktu. Pada jeda yang disepakati ia akan mengecek kebutuhannya, dan ada cara menghubungi bantuan bila keluhan berubah. Gian mendengarkan tanpa mengucapkan terima kasih sampai Hannah hendak keluar.
'Han.'
Perempuan itu berbalik.
'Makasih.'
'Aku dengar. Sekarang istirahat. Jangan mengira setelah bilang itu kamu boleh menghilang ke balai.'
Gian hampir tersenyum, tetapi perempuan itu sudah pergi membawa pakaian kotor yang disepakati untuk dicuci. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandang seragam lain yang masih tergantung. Tidak ada jadwal mengenakannya sore itu.
Kiana datang menjelang sore dengan makanan yang dibawanya setelah bertanya kepada Hannah mengenai keadaan kepulangan. Ia belum mengetahui apakah Gian mau berbicara. Nampan ditaruh pada bangku dekat pintu, bukan dibawa masuk melalui rumah yang tidak mengundangnya.
Tok! Tok!
'Gian. Ada makanan di luar.'
Ia menunggu. Dari dalam terdengar gerakan kecil, kemudian sunyi lagi.
'Aku nggak akan memaksamu ngobrol. Hannah tau ini ada di sini. Kalau nggak mau sekarang, bilang nanti supaya tidak dibiarkan terlalu lama.'
Kiana meletakkan catatan singkat mengenai siapa yang membawa dan waktu diletakkan. Ia teringat nampan yang dahulu muncul di depan kamarnya sendiri. Ternyata berdiri di sisi luar pintu tidak membuat seseorang dapat mengetahui persis apa yang sedang ditahan orang di dalam.
Ia kembali ke kamar lima tanpa menunggu pintu dibuka. Lukisan yang belum selesai berada pada tempatnya, dan buku sketsa yang telah kembali kepadanya tersimpan di sisi meja. Kiana membuka halaman yang digambar Gian atas izinnya. Ia tidak merobeknya hanya karena beberapa kalimat lelaki itu menyakitinya.
Namun ia juga tidak ingin memakai gambar tersebut untuk membantah bahwa ia telah dibentak. Ia menutup buku dan menyiapkan pekerjaan klinik untuk esok hari, membiarkan dua perasaan yang tidak nyaman berada dalam hari yang sama.
Hannah mengabarinya menjelang malam bahwa nampan sudah dibawa masuk. Sebagian makanan dimakan, sisanya disimpan sesuai kebutuhan. Ia mengetahui dari piring yang dikembalikan dan percakapan dengan Gian. Hannah menyebut masakan yang dimakan, lalu mengatakan piring sedang dicuci di dapur.
Kiana membalas terima kasih. Ia tidak naik turun mengetuk lagi untuk meminta penjelasan mengapa makanan tidak habis. Ia sendiri masih perlu makan dan tidur sebelum kembali bekerja.
Senin pagi, ia berangkat dengan kendaraan yang diaturnya. Sebelum meninggalkan paviliun, Kiana bertemu Hannah yang sedang mengurus pesanan tamu. Mereka berbicara singkat mengenai keadaan Gian; tidak ada keluhan baru yang mengharuskan bantuan darurat, tetapi ia tetap menjalani pengawasan dan jadwal pemeriksaan yang diberikan.
'Aku bawa makan sesudah pulang kalau dia mau,' kata Kiana.
'Aku tanya nanti. Jangan membuat makananmu sendiri tertunda.'
Hannah lalu kembali kepada tamu yang menunggu keterangan waktu sarapan. Kiana berangkat, tidak menganggap pekerjaan orang lain boleh berhenti seharian karena ia sedang khawatir.
Gian menghabiskan sebagian hari dengan tidur yang terputus dan waktu duduk yang terasa terlalu panjang. Ia membaca kabar pekerjaan yang disampaikan melalui Huda, tidak mencoba memberi perintah langsung kepada anggota yang sudah mendapat pengganti komando lapangan.
Erik menghubungi pada waktu istirahatnya. Ia mengeluh plester pada goresan tangannya tersangkut ujung lengan seragam, lalu buru-buru mengatakan dirinya baik. Gian menanyakan apakah luka itu sudah diperiksa. Erik menjawab sudah dibersihkan serta diperiksa di tempat perawatan, kemudian terdengar malu karena percakapan tentang kabar komandannya justru berubah mengenai dirinya.
'Saya nggak kenapa-kenapa, Ndan.'
'Jangan meniru jawaban jelekku.'
Erik terdiam, kemudian tertawa kecil. Gian meminta kabar anggota lain sebelum panggilan ditutup. Sesudahnya ia duduk lebih lama tanpa membuka kelompok tugas lagi.
Menjelang malam, ia menelepon Bu Dyah. Ia menanyakan apakah masih ada pilihan kamar di tempat relawan lain tinggal. Bu Dyah meminta alasan, kemudian mengatakan ia akan membicarakan pilihan akomodasi kepada Kiana terlebih dahulu. Perpindahan bukan sesuatu yang dapat diputuskan hanya karena pemilik paviliun sedang merasa tidak sanggup bertemu.
Setelah panggilan berakhir, Gian duduk dekat pintu. Ketukan datang beberapa saat kemudian, disusul suara Kiana yang menanyakan apakah ia ingin makanan diletakkan di tempat kemarin. Hannah telah menyampaikan bahwa ia bersedia menerima makan malam.
Gian membuka pintu. Kiana melihatnya berdiri dengan wajah lelah dan lengan yang masih dibalut. Ia tidak langsung melangkah masuk.
'Ada tempat lain dekat klinik,' kata Gian.
Kiana menatapnya. 'Bu Dyah baru mengirim kabar ada pilihan yang mau dibicarakan. Kamu yang minta?'
'Iya. Di sana kamu lebih dekat dengan teman-temanmu.'
'Aku bertanya kenapa sekarang.'
Gian memandang nampan di tangannya. 'Aku nggak bisa menjaga siapa-siapa. Kamu nggak perlu ikut berada di rumah orang yang cuma membuat semua orang khawatir.'
'Kamu sedang pulih.'
'Aku nggak tau setelah itu jadi apa.'
Kiana menahan jawaban. Ia menyerahkan nampan setelah Gian mengulurkan tangan yang mampu membawanya, lalu mengatakan akan membicarakan tempat tinggalnya sendiri dengan Bu Dyah.
'Jangan mengemasi barangku sebelum aku memutuskan,' katanya.
Gian mengangguk, menunduk pada makanan yang masih hangat. Kiana berpamitan dan kembali ke bangunan paviliun. Pintu rumah ditutup setelahnya, menyisakan makanan di tangan Gian serta percakapan yang belum selesai meskipun malam sudah datang.