Kiana masih berada di kursi ketika Gian memalingkan wajah ke arah pintu. Ia sempat mengira lelaki itu membutuhkan petugas. Namun ketika ia menanyakan apa yang diperlukan, jawaban yang datang justru lebih keras daripada sebelumnya.
'Gue nggak butuh diurus terus.'
Kiana menahan napas. 'Kamu sedang dirawat. Bukan disuruh membuktikan bisa mengerjakan semua sendiri.'
'Jangan ikut campur, Kiana.'
'Aku datang karena khawatir.'
'Itu yang gue bilang. Berhenti khawatir. Berhenti nanya. Lo cuma tamu di paviliun. Beberapa bulan lagi pulang, terus semua kembali seperti biasa.'
Kalimat itu membuat Kiana terdiam lebih lama daripada yang diharapkan Gian. Ia melihat wajah perempuan itu berubah, tetapi rasa malu telah terlanjur mencari jalan keluar sebagai amarah. Ia ingin menarik selimut, menyembunyikan tangan yang masih lemah, dan berhenti dilihat sebagai orang yang tidak dapat berdiri.
Kiana merapikan tas yang tadi digesernya. Tangannya sempat menyentuh pena di saku, lalu dilepaskan lagi. Ia tidak berada di klinik untuk menyelesaikan berkas pasiennya. Ia datang sebagai orang yang memilih peduli, dan kini pilihan itu dianggap gangguan.
'Kamu boleh nggak mau menceritakan semuanya kepadaku,' katanya. 'Aku nggak memaksa membaca hidupmu.'
'Jadi berhenti menanyakan.'
'Tapi jangan pakai kenyataan aku akan pulang untuk menganggap semua yang terjadi di sini nggak berarti.'
Gian menatapnya. Kiana berdiri, menahan kaki kursi agar tidak menggesek terlalu keras ketika dipindahkan. Kebiasaan kecil itu justru membuat dadanya terasa lebih sakit: bahkan ketika marah, ia masih memperhatikan suara yang dapat menyakiti lelaki di hadapannya.
'Waktu aku nangis di makam, kamu nggak bilang itu bukan urusanmu,' lanjutnya. 'Waktu Gala datang membuat keributan, kamu juga nggak bilang aku cuma tamu. Aku nggak meminta kamu membalas apa pun. Tapi jangan memperlakukan kepedulianku seperti sesuatu yang memalukan.'
Gian membuka mulut. Ia ingin mengatakan bukan itu maksudnya. Namun kalimat tersebut tidak cukup untuk menggantikan yang sudah keluar, dan ia sendiri belum sanggup menyusun jawaban yang lebih jujur.
Petugas muncul di pintu ketika mendengar suara meninggi. Kiana mengatakan ia akan keluar agar Gian dapat beristirahat. Ia memastikan tas miliknya sudah diambil, mengucapkan terima kasih kepada orang yang sedang menangani, lalu memandang Gian sekali lagi.
'Aku pulang setelah menemui Hannah. Perawatanmu tetap urusan tim di sini. Tolong dengarkan mereka.'
Ia tidak menunggu Gian memberikan izin untuk merasa terluka. Kiana keluar dan menutup pintu dengan pelan, lalu berdiri di lorong sampai ia dapat mengatur napas.
Hannah mendekat setelah melihat wajahnya. Ia tidak langsung menanyakan setiap kata. Ia menawarkan tempat duduk, tetapi Kiana menggeleng dan meminta waktu untuk pergi ke kamar kecil.
Di depan cermin, Kiana membasuh tangan dan memandang dirinya sendiri. Ia pernah mendengar kata-kata yang membuatnya merasa dapat dibuang ketika tidak lagi sesuai keinginan seseorang. Yang ini tidak sama dengan Gala, tetapi bagian dirinya yang tersentuh tetap terasa sangat akrab.
Ia menyeka mata sebelum kembali. Hannah sudah berbicara dengan Erik mengenai perjalanan pulang mereka. Kiana mengatakan ia ingin kembali ke paviliun, sementara Hannah akan tinggal sampai kebutuhan Gian untuk malam itu jelas.
'Aku akan mengabari yang perlu kamu tau,' kata Hannah.
'Jangan kirim hal pribadi yang dia nggak mau bagi. Aku cuma ingin dia mendapat pertolongan.'
Hannah mengangguk. Kiana menghubungi kendaraan yang tersedia dan menunggu di tempat yang ditunjukkan. Ketika kendaraan datang, ia berpamitan kepada Hannah serta Erik, lalu pergi tanpa kembali ke ruang perawatan untuk mencoba mendapatkan jawaban lain.
Huda menemui Gian sesudah petugas menyatakan percakapan singkat dapat dilakukan. Ia duduk pada kursi yang tadi ditinggalkan Kiana dan menanyakan apakah penjelasan medis telah didengar, bukan memulai dengan tuduhan bahwa seluruh kejadian merupakan aib pekerjaan.
Gian menjawab pendek. Kepalanya masih terasa tidak nyaman, dan lengan yang dibalut membuatnya kesulitan mencari posisi yang enak.
'Untuk sementara kamu tidak bertugas di lapangan,' kata Huda. 'Bagian pekerjaanmu dialihkan sampai ada penilaian yang menyatakan tugas tertentu aman kamu jalankan.'
'Jadi saya selesai?'
'Saya bicara tugas lapangan sementara. Bukan menghapus seluruh pekerjaanmu atau menyuruhmu menandatangani pindah ke yayasan malam ini.'
Gian menatap selimut. Ia ingin menolak, tetapi ingatan tentang beberapa saat yang tidak dapat diingatnya sendiri menghalangi jawaban cepat. Ia masih tidak tahu siapa yang pertama mencapai tubuhnya di bawah lereng.
'Erik harus menulis laporan,' ujar Huda. 'Itu bagian tugasnya, dan saya yang meminta keterangan.'
'Saya nggak menyalahkan Erik.'
'Kalau begitu jangan membuat dia merasa harus memilih antara jujur dan setia kepadamu.'
Gian mengangguk. Huda memberitahukan siapa yang mengambil alih urusan orang yang diamankan dan pencarian yang masih berjalan. Tidak ada pembalasan yang perlu Gian lakukan sendiri dari tempat tidur untuk membuktikan ia masih berguna.
Pembicaraan dihentikan ketika petugas kembali memeriksa keadaan. Huda membantu memastikan barang yang tidak diperlukan tetap disimpan, lalu menemui Hannah untuk mengatur kebutuhan pendampingan. Rencana pulang baru dilaksanakan setelah tenaga medis memberikan izin beserta tindak lanjut yang perlu dipenuhi.
Hannah menanyakan kunci rumah serta kendaraan yang ditinggalkan di bawah jalur. Gian menunjukkan tempatnya di dalam ransel yang telah dibawa bersama barang lain. Dengan persetujuannya, Huda mengatur anggota yang dapat mengembalikan kendaraan ke rumah sesudah urusan di lokasi selesai. Hannah menyimpan kunci rumah untuk menyiapkan kebutuhan kepulangan.
Gian sempat mengatakan ia dapat mengurus sendiri nanti. Kalimat itu berhenti ketika ia hendak mengangkat ransel dan lengan kirinya terasa menarik. Ia membiarkan Hannah mengambil pakaian bersih dari tas, lalu menjawab pertanyaan tentang letak barang tanpa mengubah semuanya menjadi perdebatan baru.
Malam itu Gian tetap dalam pengawasan sesuai penilaian yang diberikan. Ia menerima bahwa belum ada jadwal berangkat ke lapangan esok pagi. Ponselnya diletakkan dekat tangan yang dapat digerakkan, tetapi ia tidak mengirim kalimat menyuruh Kiana melupakan ucapannya.
Ia membuka percakapan mereka dan berhenti pada ruang untuk menulis pesan. Ia mengetik nama Kiana, lalu menghapusnya sebelum berhasil menyusun kalimat berikutnya. Gian menutup layar setelah lama memandang, baru merasakan bahwa menyuruh seseorang berhenti peduli tidak membuat ruang di sekelilingnya terasa lebih ringan.