Kiana sedang menyelesaikan pemeriksaan seorang pasien ketika Bayu mengetuk pintu. Ia tidak langsung menerobos masuk. Wajahnya yang tegang terlihat di sela pintu, cukup untuk membuat Kiana mempercepat pertanyaan terakhir tanpa mengabaikan jawaban orang di hadapannya.
Setelah pasien menerima penjelasan dan keluar, Bayu baru mendekat.
'Kak Gian jatuh waktu bertugas. Erik tadi memberi kabar ke klinik. Dia sudah dibawa untuk pemeriksaan, bukan di balai.'
Kiana meletakkan pena. 'Jatuh bagaimana?'
'Katanya kepala terbentur dan sempat nggak sadar. Aku belum punya keterangan lengkap.'
Ia berdiri terlalu cepat hingga kursi bergeser. Bayu mengangkat tangan, seolah hendak memastikan ia mendengar bagian terpenting tadi.
'Sudah ditangani, Kak. Hannah juga lagi mengatur supaya bisa datang.'
Kiana mengangguk, mengambil ponsel, lalu berhenti sebelum meraih tas. Pasien berikutnya masih menunggu. Ia tidak dapat berlari keluar dan berharap seseorang akan menebak bagian pekerjaan yang ditinggalkan.
Bu Dyah mendengar permintaannya di ruang administrasi. Mereka mencocokkan pasien serta tugas yang masih harus diselesaikan. Ali bersedia mengambil bagian yang dapat dialihkan, sementara tenaga lain diberi tahu mengenai perubahan agar orang yang menunggu tidak mencari dokter yang sudah pergi.
Bayu menawarkan mengantar, tetapi ia masih mempunyai pekerjaan. Kiana menyuruhnya menyelesaikan sif dan menghubungi Hannah mengenai kendaraan. Perempuan itu akan berangkat sesudah staf pengganti paviliun siap; mereka dapat pergi bersama melalui perjalanan yang diatur.
'Aku kirim kabar setelah sampai,' kata Kiana kepada Bayu.
'Kalau butuh sesuatu, bilang. Jangan lupa makan.'
Kiana hampir tersenyum karena nasihat itu terlalu akrab. Ia mengambil bekal kecil yang ditawarkan Bu Dyah sebelum berpamitan. Sesudah penyerahan pasien selesai, barulah ia membawa tas dan meninggalkan klinik.
Hannah menunggunya dengan wajah yang tidak jauh lebih baik. Ia sudah menerima lokasi tempat Gian dirawat dan penjelasan bahwa kunjungan harus mengikuti keadaan serta izin tim yang menangani.
'Semalam aku minta dia bilang yang sebenarnya ke Huda,' kata Hannah ketika kendaraan mulai bergerak.
Kiana memandangnya. 'Kondisinya sudah buruk semalam?'
'Dia kesakitan. Aku nggak tau seberapa jauh dia menceritakannya. Aku cuma tau dia tetap mau berangkat.'
Hannah memutar tali tas pada jari. Kiana tidak mengatakan seharusnya ia lebih keras menahan Gian. Ia sendiri bertemu lelaki itu di halaman subuh tadi dan membiarkannya berangkat dengan pesan hati-hati. Tidak ada satu orang di kendaraan yang memiliki seluruh kendali atas keputusan Gian.
Mereka tiba sesudah proses penilaian awal berjalan. Erik menemui di tempat tunggu, menerangkan bagian kejadian yang dilihatnya tanpa mengisi rincian medis yang bukan pengetahuannya. Ia sudah memberi keterangan kepada petugas penerima dan Huda.
Sambil menunggu, Kiana membuka bekal dari klinik. Ia menawarkan sebagian kepada Hannah, yang mula-mula menggeleng lalu mengambil satu potong setelah perutnya berbunyi. Keduanya saling menatap, hampir tertawa pada waktu yang terasa salah.
'Semalam aku marah banget,' ujar Hannah. 'Sekarang aku cuma mau dia berhenti bikin semua orang takut.'
Kiana tidak punya jawaban yang dapat mengubah keputusan pagi tadi. Ia menuangkan air ke gelas yang tersedia, menyerahkannya kepada Hannah, lalu makan beberapa suap. Erik duduk pada ujung kursi yang lain dan menerima ketika diberi makanan. Untuk beberapa menit, menunggu mempunyai kegiatan yang dapat dilakukan tanpa terus menatap pintu tertutup.
Kiana meminta izin melihat Gian ketika diperbolehkan. Hannah berbicara dengan petugas mengenai barang serta kebutuhan yang diminta. Mereka tidak langsung memasuki ruang pemeriksaan bersama-sama hanya karena mengenal korban.
Gian sedang berbaring ketika Kiana masuk. Ia melihat perempuan itu, menegakkan kepala sedikit, lalu berhenti ketika gerakan tersebut terasa tidak nyaman. Kiana mendekat sampai tempat yang ditunjukkan dan menanyakan apakah ia ingin dikunjungi.
'Kamu ninggalin klinik?'
'Pekerjaanku sudah dialihkan sesuai izin. Aku nggak membawa pasien ke sini untuk mengejarmu.'
Gian memandangnya, lalu mengangguk setelah petugas memastikan ia bersedia menerima kedatangannya. Kiana meletakkan tas dan duduk, menahan keinginan bertanya terlalu banyak sekaligus.
Penilaian benturan kepala dan masa tidak sadarnya telah menjadi bagian pemeriksaan. Ia masih perlu dipantau sesuai keputusan tenaga yang menangani. Luka lengan juga telah diperiksa dan rencana perawatannya ditetapkan. Kiana mendengar penjelasan yang diperbolehkan Gian, tidak menganggap rasa lega melihatnya sadar sebagai bukti semua bahaya sudah lewat.
'Aku dengar kamu jatuh,' katanya setelah petugas memberi ruang untuk percakapan singkat.
'Dari Erik?'
'Iya. Dia melakukan yang harus dilakukan.'
Gian mengalihkan mata ke lengan kirinya. Kiana melihat balutan yang sedang disiapkan kembali setelah bagian perawatan selesai. Ketika petugas membutuhkan ruang, ia menyingkir tanpa bersikeras harus menjadi orang yang mengerjakan semuanya.
Atas permintaan yang disetujui, ia membantu memegang barang agar tidak menghalangi sisi tempat tidur dan menyampaikan pertanyaan Gian yang suaranya terlalu pelan. Tangan yang biasa bekerja di ruang operasi itu kini terasa lebih canggung ketika hanya diminta menggeser tas milik seseorang yang ia khawatirkan.
Gian memperhatikan wajahnya. 'Kamu marah?'
'Aku khawatir. Marahnya bisa menyusul kalau kamu terus bilang semuanya baik padahal belum mau bercerita.'
Ia hampir menyentuh tangan lelaki itu, kemudian memilih menarik kursi agar lebih dekat tanpa mengganggu perawatan. Hannah masuk sebentar setelah diizinkan, menyerahkan pakaian serta memastikan barang yang dibawa tim sudah tercatat. Ia kemudian keluar untuk menemui Huda, membiarkan Kiana tetap duduk sesuai waktu kunjungan.
Kiana melihat kantong tempat peredam disimpan. Ia teringat cara Gian memegang kepala ketika suara di sekitarnya terlalu ramai, tetapi belum memahami seluruh penjelasannya.
'Benda itu membantu kamu menahan bunyi?' tanyanya. 'Apa yang kamu rasakan sampai tadi jatuh?'
Gian menatap kantong itu, lalu wajah Kiana. Rahangnya mengeras. Ia bisa menjawab pertanyaan tenaga medis, tetapi pertanyaan perempuan di dekatnya membuat rasa malu muncul bersama ketakutan yang tidak ingin diberi nama.
'Jangan mulai,' katanya.
'Aku cuma ingin mengerti.'
'Aku bilang jangan.'
Kiana berhenti. Di luar terdengar langkah petugas dan suara Hannah yang sedang berbicara. Di dalam ruangan, tangan Gian yang tidak terluka sudah mengepal di atas selimut, sementara Kiana menunggu apakah ia masih diinginkan berada di kursi itu.