Gian membuka mata ketika gerakan di bawah tubuhnya berhenti sebentar. Cahaya di antara dedaunan terasa terlalu terang. Ia mendengar seseorang memanggil namanya dan membutuhkan beberapa saat untuk mengenali Erik yang berjalan di dekat sarana evakuasi.
'Komandan bisa dengar saya?'
Ia mencoba mengangguk. Rasa sakit membuat gerakan itu berhenti sebelum selesai. Ada orang lain menanyakan sesuatu, meminta ia tetap tenang dan tidak berusaha bangun sendiri.
Gian melihat lengan kirinya sudah ditangani sementara. Ia tidak mengingat kapan itu dilakukan. Bagian terakhir yang jelas adalah mesin yang berbunyi, lalu tanah yang tidak berada di tempat yang diharapkannya.
'Pembalaknya?' tanyanya.
Erik menelan ludah. 'Satu orang diamankan. Yang satu lagi lari. Tim pengganti sudah menerima arah dan cirinya.'
Gian memejamkan mata. Ia hendak mengatakan mereka harus kembali, tetapi mulutnya terasa kering dan pertanyaan petugas pertolongan datang lebih dahulu. Ia menjawab bagian yang dapat diingat, termasuk benturan serta jeda yang hilang dari ingatannya.
Erik memberikan keterangan yang disaksikannya: Gian sempat menekan kepala, kehilangan keseimbangan, jatuh, lalu tidak merespons panggilan. Ia tidak mengatakan pingsan sebentar pasti tidak penting. Orang yang menerima informasi mencatatnya untuk diserahkan bersama korban kepada tim medis berikutnya.
'Peredam saya,' kata Gian setelah menyadari telinga kirinya kosong.
'Ada. Saya simpan bersama topi dan barang Komandan. Sudah diberitahukan kepada yang menangani.'
Gian ingin mengambil sendiri, tetapi tangannya yang bebas segera berhenti ketika petugas meminta ia tidak meraih ransel. Keluhannya disampaikan, dan kebutuhan terkait benda itu dibicarakan dalam penanganan. Erik tidak memasangnya diam-diam lalu berharap semua rasa sakit selesai.
Di bagian jalur yang lebih terbuka, komunikasi dengan markas kembali terdengar jelas. Gian mendengar suara Huda menanyakan tujuan evakuasi. Jawabannya bukan ruang jaga balai. Kendaraan pertolongan akan membawa korban untuk pemeriksaan medis, dengan rujukan benturan kepala sesuai penilaian tim yang menerima.
'Saya masih bisa menjelaskan laporannya,' ujar Gian.
'Bukan sekarang, Ndan,' jawab Erik.
Gian menatapnya. Biasanya Erik tidak menggunakan nada seperti itu kepadanya. Juniornya tampak pucat, keringat mengalir dari pelipis, tetapi ia tidak mengalihkan mata.
'Saya lihat Komandan nggak sadar. Saya nggak bisa tulis cuma luka lengan supaya kita cepat selesai.'
'Aku nggak menyuruhmu berbohong.'
'Saya tau. Saya cuma ingin Komandan dengar kenapa kita ke tempat perawatan dulu.'
Gian tidak menjawab. Ia memandang langit yang terlihat terputus-putus di atasnya. Ia pernah berada pada sisi lain, membawa orang yang harus segera turun dan kesal ketika ada yang menghambat perjalanan. Sekarang tubuh yang memperlambat semua orang itu adalah miliknya.
Ketika sampai pada tempat kendaraan menunggu, ia mencoba melihat siapa yang masih berada di dekat tim. Seorang anggota menyerahkan ransel yang sudah dikumpulkan, sementara petugas lain menerima catatan kejadian. Tidak ada orang membawanya duduk di kantor untuk menunggu atasan datang.
Huda terhubung melalui telepon Erik. Ia meminta kabar apakah korban telah diterima tenaga medis dan memberi tahu bahwa penjagaan orang yang diamankan serta lokasi kayu sudah diambil alih. Gian tidak perlu bangkit untuk memastikan semua pekerjaan tetap berjalan.
Setelah mendengar Gian sudah sadar, Huda meminta berbicara sebentar jika diperbolehkan. Erik mendekatkan perangkat. Suara lelaki tua itu terdengar lebih pelan daripada biasanya.
'Gian. Pertolongan dulu. Nanti kita bicara setelah dokter mengizinkan.'
'Saya gagal lagi, Pak.'
'Kamu sedang dibawa untuk diperiksa. Jangan putuskan seluruh pekerjaanmu dari kendaraan itu.'
Gian menatap bagian pintu yang masih terbuka. Ia hampir menyebut orang yang lari, tetapi Huda mengulangi bahwa tim lain sudah menangani. Kali ini ia mengiyakan tanpa berdebat.
Perjalanan menuju pemeriksaan berlangsung dengan Erik ikut sebagai pemberi keterangan awal. Ia mengirim kabar seperlunya kepada markas, lalu menyimpan ponsel ketika diminta menjawab pertanyaan tentang waktu dan kejadian. Ponselnya kembali masuk saku setelah markas mengonfirmasi penerimaan kabar serta penanganan tugas yang tertinggal.
Gian mendengar beberapa kata yang semula tidak ingin didengarnya: benturan kepala, tidak sadar, pemantauan. Ia belum memperoleh jawaban mengenai kapan dapat kembali bertugas. Yang ada adalah pertanyaan tentang rasa sakit, keadaan sebelum jatuh, serta keluhan yang selama ini dianggapnya urusan sendiri.
Di fasilitas penerima, ia dibawa langsung ke pemeriksaan. Tim menyerahkan informasi dari lokasi dan hal yang diketahui selama perjalanan. Luka lengan diperiksa bersama keluhan lain, bukan dijadikan satu-satunya alasan kedatangannya.
Sebelum Erik meninggalkan bagian penerimaan, Gian meminta Hannah diberi kabar. Erik menghubungi nomor yang ditunjukkan pada ponsel Gian setelah pemiliknya mengizinkan. Hannah menjawab cepat, lalu terdiam ketika mendengar ada benturan kepala.
'Jangan bawa dia pulang cuma karena dia marah,' katanya.
Erik menjelaskan mereka sedang berada dalam penanganan medis dan akan mengabari tujuan serta waktu kunjungan yang diperbolehkan. Hannah mengatakan akan mengatur pekerjaan paviliun sebelum datang. Panggilan itu ditutup tanpa janji bahwa ia boleh langsung membawa Gian kembali.
Erik menunggu di tempat yang ditunjukkan. Seragamnya masih kotor. Ia baru menyadari satu tangannya tergores ketika hendak memegang botol minum. Petugas yang melihat memintanya membersihkan serta memeriksakan bagian itu juga, membuatnya tiba-tiba malu karena sejak tadi hanya memikirkan komandannya.
Huda tiba setelah memastikan tugas lain telah dialihkan. Ia tidak langsung masuk menuntut tanda tangan laporan. Ia mendengarkan penjelasan Erik dahulu, menanyakan apa yang dilihatnya dan siapa yang masih dapat memberikan keterangan pembanding.
'Saya baru sadar alat di telinga Komandan bukan buat musik,' kata Erik. 'Waktu lepas tadi, dia kesakitan sekali.'
Huda mengangguk. Ia tidak berpura-pura baru mendengar Gian memiliki masalah telinga. Yang baru adalah laporan mengenai kejadian serta dampaknya pada tugas pagi itu. Ia meminta Erik menulis pengamatan dengan jujur setelah kebutuhan pertolongan selesai.
Dari balik pintu pemeriksaan, Gian tidak dapat melihat percakapan itu. Ia hanya mengetahui radio yang biasanya selalu dekat kini berada bersama ransel, dan untuk sementara orang lain mengambil alih suara-suara yang biasanya harus dijawabnya. Ketika petugas kembali menanyakan apa yang masih terasa, ia akhirnya menyebut dengung yang tidak hilang sejak malam, tanpa menggantinya dengan jawaban kurang tidur saja.