Bunyi mesin itu mengubah wajah Gian sebelum orang lain sempat melihatnya. Getar yang bagi anggota lain merupakan tanda kegiatan di depan mereka terasa seperti tusukan panjang pada telinga kiri. Ia menahan rahang, memaksa perhatian tetap pada orang yang berdiri di dekat kayu.
Pengendara kedua turun dan mendekati tumpukan. Ia menarik bagian penutup, memperlihatkan kayu yang akan dipindahkan. Temannya mengarahkan alat ke potongan yang belum siap dibawa. Kini yang dilihat tim bukan sekadar dua orang lewat atau simbol yang mungkin sama. Ada kegiatan yang sedang dilakukan pada tempat yang diperiksa.
Gian menyampaikan posisi kepada anggota dan meminta mereka bersiap menghentikan kegiatan. Erik menjawab dari sisinya. Seorang anggota memastikan markas mengetahui perkembangan, sementara seorang lagi memperhatikan jalur yang dapat dipakai orang meninggalkan tempat itu.
Ketika tim muncul dan meminta mereka berhenti, pengendara yang berada dekat motor terkejut. Ia hendak bergerak kembali, tetapi Erik serta rekannya lebih dahulu menghalangi. Penjelasan tentang pemeriksaan dibalas umpatan dan usaha menarik diri.
Orang yang memegang gergaji berbalik. Ia tidak meletakkan alat ketika diminta. Dalam gerakan kacau untuk menjauh, ia mengancam siapa pun yang mendekat dengan mesin yang masih berbunyi. Gian mundur menghindari arah geraknya, tidak mencoba memegang bagian yang berbahaya.
'Berhenti! Letakkan itu!'
Suaranya sendiri terdengar memantul terlalu dekat. Pandangannya sesaat menyempit. Ia hendak mengatur jarak lagi ketika ujung kaki bergeser pada permukaan yang basah. Tubuhnya terhuyung, topinya jatuh, dan tangannya terangkat untuk mencari tumpuan.
Peredam di telinga kirinya terlepas.
Bunyi yang sejak tadi ditahan mendadak datang tanpa lapisan yang dikenalnya. Gian memejamkan mata sambil menekan sisi kepala. Tanah dan pohon seperti bergerak meskipun ia tahu ia yang kehilangan keseimbangan.
'Komandan!'
Ia mendengar Erik, tetapi tidak dapat menjawab. Orang di hadapannya bergerak menjauh. Mesin masih berbunyi beberapa saat, bercampur seruan dari dua arah yang tidak dapat dipisahkannya. Ia ingin melihat anggota, memastikan siapa yang sedang berada dekat orang tersebut.
Kakinya bergeser lagi. Kali ini bagian tanah yang menahannya berakhir lebih cepat daripada perkiraannya.
Tubuh Gian jatuh melewati sisi lereng. Ia membentur sesuatu sebelum sempat mengangkat tangan dengan benar. Rasa sakit menjalar dari lengan, disusul benturan pada kepala yang memutus seluruh usaha memahami suara di atas.
Sesudah itu ia tidak mengetahui apa pun.
Erik melihatnya hilang dari tepi yang tertutup tumbuhan rendah. Teriakan yang keluar dari mulutnya membuat rekannya menoleh. Orang yang tadi mereka tahan mencoba memanfaatkan kekacauan itu, menarik tubuhnya ke arah motor.
Rekan Erik mempertahankan pengamanan orang tersebut dan memanggil anggota lain. Erik tidak dapat berlari mengejar dua arah sekaligus. Ia melihat tempat Gian jatuh, lalu meminta bantuan melalui radio dengan suara yang perlu diulang agar lokasi terdengar jelas.
'Komandan jatuh. Tidak menjawab panggilan. Kami perlu bantuan medis dan evakuasi.'
Markas meminta keterangan posisi serta keadaan yang dapat dilihat. Erik menyebut patokan yang sudah dilaporkan sebelumnya. Ia tidak menebak bahwa kepala komandannya aman hanya karena tubuhnya tidak jatuh terlalu jauh.
Anggota terdekat membantu melihat jalur menuju Gian tanpa menjatuhkan orang berikutnya. Sementara itu orang yang membawa gergaji berhasil menjauh dari bagian yang dijaga. Suara mesinnya berhenti, tetapi ia tidak kembali menyerahkan diri.
Seorang anggota sempat melihat arah pelarian dan ciri barang yang dibawa. Informasi itu diteruskan kepada markas serta tim yang diminta membantu. Erik tidak menyuruh semua orang meninggalkan korban agar pengejaran dapat diteruskan.
Orang di dekat motor tetap diamankan. Ia mengaku hanya disuruh mengambil muatan, tetapi ketika ditanya siapa yang menyuruh, jawabannya berubah-ubah. Anggota mencatat jawabannya yang berubah, lalu menanyakan letak barang serta meminta ia tidak mendekati motor. Perlengkapan yang ditemukan dijaga sampai petugas pengganti datang.
Erik akhirnya dapat mendekati Gian bersama rekannya. Komandannya terbaring dekat batang yang menghentikan gerak jatuhnya. Ada luka pada lengan dan bekas benturan di bagian kepala. Mata Gian tetap tertutup ketika namanya dipanggil.
Tangan Erik gemetar. Ia mengenal orang ini sebagai orang yang biasanya memberi perintah ketika semua orang panik. Kini radio di pundaknya terus bersuara, dan tidak ada jawaban pendek Gian yang menyela kekacauan.
Rekannya memanggil namanya, meminta ia mendengar arahan bantuan yang sedang menuju lokasi. Erik menarik napas, menjawab pertanyaan tentang keadaan korban, lalu membantu sesuai kemampuan yang telah dilatih. Ia membawa perlengkapan yang diminta rekannya dan memastikan radio masih dapat menerima arahan.
Salah seorang anggota menemukan topi serta peredam yang terjatuh di atas. Benda itu diamankan agar tidak hilang atau diinjak, tetapi menemukannya tidak serta-merta membuat Gian bangun. Erik menatap perangkat kecil tersebut dan mulai memahami mengapa reaksi komandannya tadi berbeda dari orang lain yang mendengar mesin.
Ia belum mengetahui seluruh penyakit atau riwayatnya. Yang ia lihat adalah Gian menekan kepala, kehilangan keseimbangan, jatuh, lalu tidak sadarkan diri. Itulah yang disampaikannya ketika Huda tersambung melalui komunikasi markas.
'Pak, saya harus melaporkan kejadiannya seperti yang saya lihat.'
'Laporkan. Utamakan pertolongan. Bagian orang yang diamankan sedang kami atur dengan tim pengganti.'
Jawaban itu membuat Erik dapat memusatkan perhatian kepada Gian. Ia tidak perlu memilih antara menutupi keadaan komandannya dan membiarkan perkara kayu hilang. Orang lain akan mengambil tanggung jawab yang tidak dapat dipikul tiga anggota sekaligus.
Ransel Gian dikumpulkan bersama topi serta peredam, lalu dibawa oleh anggota yang mengikuti perpindahan korban. Bantuan evakuasi mendekat melalui jalur yang telah diberi keterangan. Erik menyerahkan pengamatan mengenai benturan dan tidak adanya respons kepada orang yang menangani korban. Ia tetap di dekat mereka, membawa perlengkapan yang diminta dipindahkan, sementara anggota lain menjaga orang serta tempat temuan.
Ketika tubuh Gian akhirnya dapat dibawa dari bagian lereng, Erik tidak merasa menang. Penangkapan satu orang belum mengakhiri jaringan yang diperiksa, dan orang yang memimpin mereka pagi itu belum membuka mata. Ia mengikuti arahan tim pertolongan, terus menyebut nama Gian dengan suara yang kini lebih pelan daripada teriakan pertamanya.