Kabut masih menggantung ketika Gian dan tiga anggota tim meninggalkan awal jalur. Erik berjalan tidak jauh di belakangnya, sementara dua orang lain memperhatikan sisi yang berbeda. Mereka tidak sedang membawa pendaki menuju tempat wisata. Laporan warga menyebut kegiatan angkut pada bagian yang ditutup untuk umum.
Gian mengenali percabangan menuju wilayah satwa yang pernah diperiksanya beberapa pekan lalu. Ia memastikan papan pembatas masih terlihat, lalu meneruskan langkah sesuai tujuan tugas. Di belakang, Erik membetulkan bagian ransel yang tersangkut dan mengeluh pelan kepada ranting yang tidak mungkin menjawab.
'Kalau mengajak ribut pohon, nanti laporanmu panjang,' kata Gian.
'Saya cuma minta izin lewat, Ndan.'
'Kedengarannya kurang sopan.'
Erik tertawa kecil. Gian biasanya dapat menimpali sekali lagi, tetapi bunyi gesekan perlengkapan di belakangnya membuat ia memilih diam. Peredam masih terpasang di telinga kiri. Ia menggeser kepala seolah sedang memperhatikan jalur, menunggu dengung yang tidak sepenuhnya hilang sejak malam.
Sesudah melewati bagian jalan yang lebih basah, Erik memanggilnya. Ada jejak roda pada tanah yang belum tertutup langkah tim. Di dekatnya, beberapa ranting patah dan serbuk kayu menempel pada lumpur.
Gian berjongkok pada jarak yang tidak merusak bagian paling jelas. Ia tidak dapat memastikan jam lewatnya kendaraan hanya dengan menyentuh tanah. Ia membandingkan letak jejak dengan arah yang ditunjukkan warga dalam laporan, lalu meminta waktu dan lokasi temuan dicatat.
'Kalau hujan lagi, bagian ini bisa berubah,' ujar Erik.
'Kita simpan yang sekarang terlihat.'
Mereka meneruskan pemeriksaan tanpa memisahkan orang terlalu jauh. Beberapa menit berikutnya membawa mereka kepada bagian hutan yang lebih terbuka daripada seharusnya. Bukan lapangan alami. Ada batang yang baru dipotong dan bagian kayu yang dikumpulkan di bawah penutup.
Erik berhenti mengeluh. Ia menatap bekas potongan, lalu ke arah Gian. Kemarahan pada wajah komandannya terlihat jelas meskipun ia tidak mengeluarkan suara keras.
Gian mengingat kebakaran yang dahulu merambat sampai ladang. Ia tidak sedang melihat api pagi itu, tetapi setiap bagian hutan yang rusak seolah memanggil kemarahan yang sama. Tangannya mengepal sebelum ia menyadari Erik menunggu arahan.
'Pastikan tidak ada orang di bagian yang tidak terlihat. Jangan menyentuh tumpukannya dulu.'
Salah seorang anggota menemukan penanda pada ikatan muatan. Bentuk serta cara penulisan angkanya mirip keterangan yang sudah masuk ke dalam tindak lanjut perkara sebelumnya. Gian meminta gambar dibuat dan dikirim kepada petugas yang memegang catatan pembanding.
'Jejaringnya sama, Ndan?' tanya Erik.
'Itu yang harus kita pastikan. Keterangan dari orang yang sudah ditangkap membantu kita mencari jalur angkut ini. Kita belum tau siapa yang akan kembali mengambil muatan.'
Erik mengangguk dan menyebut kembali bagian laporan warga: sebuah kendaraan terlihat beberapa kali berhenti pada tempat bongkar yang berbeda. Orang yang mengatur pemindahan muatan belum dikenali seluruhnya. Erik membuka salinan laporan pada perangkat yang dibawanya, mencocokkan ciri jalur yang terlihat dengan keterangan tersebut sebelum menyimpannya lagi.
Gian mendekati sisi tumpukan yang dapat dilihat tanpa menggeser barang. Ada bekas tali, kemasan bekal, serta jalan yang berulang kali dilewati menuju bagian lain. Ia membayangkan berapa lama pekerjaan itu berlangsung tanpa terlihat dari jalur biasa, lalu menahan keinginan menyusuri semuanya sebelum tim lain mengetahui posisi mereka.
Ia menghubungi markas. Laporan mengenai kayu dan jalur angkut diteruskan, bersama permintaan penanganan tambahan bila orang yang mengambil muatan kembali. Mereka diminta menjaga pengamatan dan keselamatan, bukan menganggap empat orang harus menyelesaikan seluruh jaringan pagi itu.
Markas memberi jawaban sementara setelah menerima gambar. Catatan penanda itu memang perlu dibandingkan dengan kelompok muatan dalam pemeriksaan sebelumnya. Petugas meminta mereka tidak memindahkan barang sebelum pengambilan keterangan dan dokumentasi dapat disiapkan.
Di seberang tumpukan, seekor burung berpindah dari cabang yang miring. Gian mengikuti geraknya, teringat waktu ayahnya dahulu membawanya mengenali suara di hutan. Dulu ia dapat menikmati bunyi-bunyi kecil itu tanpa memikirkan kapan suara berikutnya akan menusuk kepala. Ia tidak merindukan menjadi anak yang tak mengetahui bahaya. Ia hanya ingin pekerjaan yang dicintainya tidak setiap hari terasa seperti pertarungan dengan tubuh sendiri. Perasaan itu disimpannya ketika radio kembali mengirim kabar.
Saat radio berhenti berbunyi, Gian mengusap pelipis. Erik memperhatikannya.
'Komandan sakit kepala?'
'Kurang tidur.'
'Mau kita berhenti sebentar?'
'Kita memang sedang berhenti.'
Jawaban itu cukup tajam untuk membuat Erik menutup mulut. Gian tahu ia baru menyamakan kepedulian dengan gangguan lagi. Ia menurunkan suara dan meminta Erik memeriksa anggota lain, lalu mengatakan mereka akan menunggu kabar dari markas sebelum berpindah lebih jauh.
Di dekat batang yang sudah tumbang, ia mengambil air. Tutup botol kali ini tidak terjatuh, tetapi ia teringat Kiana mengambilnya dari halaman subuh tadi. Pewangi jeruk tergantung dalam mobil yang ditinggalkan di bawah. Untuk beberapa detik ia ingin berada di sana, mendengar perempuan itu mengomel tentang sesuatu yang tidak mengancam siapa pun.
Lalu terdengar bunyi dari arah jalur angkut. Gian menutup botol dan memasukkannya ke tempat semula. Anggota di sisi lain memberi tanda bahwa suara itu belum disertai orang yang dapat dilihat.
Mereka menunggu sampai dapat membedakan kendaraan dari suara lain di hutan. Erik memperhatikan arah yang tadi ditunjukkan warga, kemudian menoleh ketika dua sepeda motor terlihat mendekat melalui bagian yang lebih terbuka.
Seorang pengendara turun lebih dahulu. Ia melihat tumpukan kayu dan memberi isyarat kepada orang kedua. Tidak seorang pun tampak terkejut menemukan potongan yang ditutup di sana. Mereka datang seperti orang yang mengetahui tempatnya.
Gian mengingat pesan untuk tidak mengisi bagian yang belum diketahui dengan dugaan. Ia menunggu tindakan yang dapat dilihat, memperhatikan siapa yang mengeluarkan alat dan siapa yang bersiap memindahkan muatan. Erik menahan gerakan di sampingnya.
Di antara bunyi hutan pagi, pengendara yang turun mengangkat gergaji mesin. Gian merasakan rahangnya mengeras sebelum mesin itu dinyalakan. Tangan kirinya hampir menyentuh peredam, tetapi ia menurunkannya lagi dan memandang anggota tim yang menunggu tindakannya.