Kiana terbangun karena suara mesin dari halaman. Ia sempat meraih ponsel untuk mematikan alarm yang ternyata belum berbunyi. Pukul empat belum lama lewat. Di luar jendela, sorot lampu kendaraan bergerak pada dinding pagar.
Ia menyibak gorden sedikit. Gian berada di samping mobil dengan seragam lapangan dan ransel terbuka. Ia memasukkan radio yang baru dilepas dari pengisi, memeriksa sesuatu pada ponsel, kemudian menutup pintu rumah.
Kiana teringat suara keras dari teras malam tadi. Ia tidak mendengar percakapannya, hanya mengenali nada Gian dan satu suara Hannah yang lebih pelan. Ketika ia hendak turun, pembicaraan itu telah mereda. Ia memilih tidak berdiri di balik jendela mendengarkan urusan mereka.
Kini wajah Gian tampak jauh lebih lelah daripada yang biasa dilihatnya saat berangkat kerja. Kiana mengambil jaket, memastikan kunci kamar berada di saku, lalu menuruni tangga.
'Gian?'
Lelaki itu berbalik. Ia hendak mengangkat ransel ke mobil dan berhenti ketika melihat Kiana mendekat.
'Kenapa bangun?'
'Mesinmu punya suara. Ini belum waktu berangkat biasa, kan?'
'Patroli khusus. Aku ke balai dulu.'
Kiana melihat lampu rumah yang masih menyala. Ia tidak langsung bertanya tentang Hannah. Ia menunjuk wajah Gian yang semakin jelas ketika lelaki itu bergeser ke dekat lampu teras.
'Kamu tidur?'
'Sempat.'
'Sempat itu berapa lama?'
Gian memasukkan ransel. 'Kamu mau membuat daftar pemeriksaan di halaman?'
Kiana menahan balasan yang hampir keluar. Ia terlalu mengenal jawaban orang yang tidak ingin menjelaskan kondisinya. Pasien, rekan kerja, dirinya sendiri beberapa waktu lalu; semuanya pernah menyebut tidak apa-apa dengan wajah yang mengatakan sebaliknya.
'Aku cuma bertanya. Kamu kelihatan capek.'
'Kita berangkat dengan tim. Bukan aku sendirian mencari jalan.'
'Itu bukan jawaban soal tidur.'
Gian menatapnya, lalu menurunkan bahu. 'Aku tau.'
Dari kafe terdengar seorang staf membuka pintu bagian belakang. Ia datang lebih pagi untuk persiapan tamu yang hendak berangkat. Kiana membalas sapaan, kemudian menyingkir agar jalannya tidak tertutup. Halaman yang semula terasa hanya milik percakapan mereka mulai kembali pada pekerjaan orang lain.
Gian memeriksa waktu. 'Hari ini aku nggak bisa antar. Kamu atur kendaraan ke klinik, ya.'
'Bisa. Aku tanya agen. Jangan suruh Bayu meninggalkan kerjaan cuma buat jemput aku.'
'Aku belum menyuruh siapa-siapa.'
'Bagus.'
Kiana membuka percakapan dengan pengelola travel yang nomornya disimpan sejak datang. Ia mengetik permintaan penjemputan untuk jam berangkat klinik, bukan meminta jawaban seketika pada subuh buta. Kalau belum mendapat konfirmasi, ia akan menanyakan pilihan kepada staf paviliun setelah mereka siap bekerja.
Gian melihat gerak jarinya, lalu mengambil botol minum dari sisi kendaraan. Tutupnya sempat terlepas dan menggelinding ke dekat kaki Kiana. Ia membungkuk mengambilnya sebelum Gian bergerak, memperlihatkan benda tersebut dengan alis terangkat.
'Yang ini juga bagian patroli khusus?'
'Kalau kamu mau mengejek, nanti setelah aku mendapat tutupnya.'
Kiana menyerahkannya sambil tersenyum. Gian memeriksa kebersihannya sebelum memasang kembali. Gerakan biasa itu mengurangi ketegangan sesaat, tetapi tidak menghilangkan lingkaran gelap di bawah matanya.
'Tunggu sebentar,' kata Kiana.
Ia naik kembali ke kamar dan membuka laci. Sachet pewangi jeruk pemberian Gian masih tersimpan tertutup di sana. Ia belum memakainya. Kiana mengambilnya, memastikan pintu terkunci, lalu turun sebelum Gian benar-benar masuk kendaraan.
'Buat di mobil.'
Gian memandang benda yang disodorkan. 'Kamu menyerah dengan bau kopi di sini?'
'Aku tidak menyerah. Aku mengusulkan perubahan.'
'Itu mestinya buat ruangan.'
'Kalau nggak mau, balikin.'
Gian justru mengambilnya. Ia membaca sebentar sebelum membuka pembungkus luar, lalu menggantungkannya bersebelahan dengan kantong biji kopi yang sudah ada. Kiana mengawasi dengan rasa menang yang tidak berusaha disembunyikan.
'Jangan campur lalu salahkan aku kalau baunya aneh,' katanya.
'Kamu yang memberikan.'
'Kamu yang memasang.'
Mereka berhenti saling menjawab ketika ponsel Gian berbunyi. Erik mengabarkan anggota sudah mulai berkumpul di balai. Gian menjawab ia segera berangkat, menyebut perkiraan kedatangan, lalu menyimpan perangkat sebelum memegang kemudi.
Kiana mundur dari sisi pintu. 'Hati-hati. Kalau ada yang nggak beres, bilang ke timmu.'
Gian menatapnya melalui pintu yang masih terbuka. Ia hampir mengatakan kalimat yang biasa dipakai untuk mengakhiri kekhawatiran, tetapi yang keluar hanya anggukan dan ucapan singkat.
'Iya.'
Kiana menunggu sampai mobil keluar gerbang, lalu kembali ke bangunan paviliun. Di tangga, balasan pengelola travel masuk. Kendaraan tersedia sesuai waktu yang dimintanya. Ia mengonfirmasi titik jemput, kemudian memberi tahu staf bahwa tidak perlu mencarikan tumpangan lagi.
Mobil Gian melewati perempatan tempat kios-kios mulai membuka kegiatan. Di rumah yang menjadi satu dengan kios nomor tiga, Hannah telah bangun. Ia melihat kendaraan itu melintas dari jendela, mengenali gerak serta bunyi mesinnya sebelum lampu belakang menjauh.
Hannah menggeser gorden agar dapat melihat jalan utama lebih jelas. Di depannya ada deret pintu kios dan orang yang menyiapkan dagangan. Seorang tetangga menyalakan lampu di atas pintu, lalu menyapanya ketika melihat jendela terbuka. Hannah mengambil ponsel, membuka nomor Gian, lalu mengetik agar ia benar-benar memberitahukan keluhan kepada Huda.
Pesan dikirim. Hannah meletakkan perangkat di meja dan menyiapkan diri berangkat mengurus paviliun. Ia masih kesal, masih khawatir, dan tetap mempunyai pekerjaan yang tidak akan selesai hanya dengan berdiri mengawasi tikungan.
Di balai, Gian menyerahkan keterangan kedatangan dan bergabung dengan Erik serta dua anggota lain. Pengarahan memperlihatkan laporan warga dan hasil penelusuran jalur angkut yang masih perlu dipastikan. Orang yang sudah diamankan pada perkara sebelumnya tidak tiba-tiba berada di hutan lagi; tim sekarang mencari kegiatan yang belum terhenti beserta pihak lain di belakangnya.
Erik menyodorkan minuman, tetapi Gian memilih air. Ponselnya menampilkan pesan Hannah sebelum dimasukkan ke saku. Ia membacanya, tidak menjawab, lalu memusatkan perhatian pada pembagian pekerjaan. Keluhan itu masih ada meski ia tidak menyebutnya kepada anggota. Ketika seorang petugas menutup pintu terlalu keras, Gian menunggu rasa nyeri mereda sambil berpura-pura memeriksa ransel. Sesudahnya ia bangkit mengikuti tim menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke awal jalur.