Gian melepaskan genggaman Hannah perlahan. Ia tidak menampik bahwa perempuan itu mengenal tanda-tanda sakitnya. Justru karena Hannah melihat terlalu banyak, ia merasa setiap penjelasan yang disiapkannya akan terdengar sebagai alasan.
'Aku masih bisa kerja, Han.'
Hannah menatap tangan yang baru dilepasnya. 'Aku nggak bilang kamu nggak bisa melakukan apa-apa. Aku bilang kamu perlu diperiksa lagi.'
'Nanti aku atur.'
'Kamu bilang nanti terus.'
Gian mengambil cangkir yang kopinya tinggal sedikit. Minuman itu sudah dingin. Dari kafe di samping terdengar kursi diseret petugas yang sedang merapikan meja terakhir. Ia menggeser posisi duduk, mencoba menjauh dari bunyi tersebut tanpa membuat Hannah menyadarinya.
Tentu saja perempuan itu menyadari.
'Lihat. Kamu bahkan pindah duduk supaya nggak dengar kursi.'
'Kursinya memang berisik.'
'Gian.'
'Aku dengar.'
Hannah menarik napas panjang. 'Aku tau kamu nggak mau kehilangan pekerjaan ini. Tapi kamu juga tau Rama bukan nawarin kamu duduk diam di rumah. Kamu masih bisa menjaga Rinjani dengan cara lain.'
'Aku sudah menjelaskan itu kepada Rama.'
'Kamu menjelaskan kenapa kamu merasa harus menangkap semua orang sendiri. Bukan kenapa kamu nggak boleh mencari cara kerja yang lain.'
Gian meletakkan cangkir terlalu keras. Kopi melompat ke tatakan dan sebagian membasahi meja. Ia berdiri ketika Hannah menyebut nama ayah dan ibunya, kemudian Anjani, seakan semua orang yang telah pergi kini ikut duduk menunggu jawaban.
'Cukup, Han.'
'Aku cuma nggak mau kamu merasa mengecewakan mereka kalau berhenti memaksakan diri.'
'Aku bilang cukup!'
Suaranya memantul pada dinding kayu. Dengung di telinga kirinya segera naik dan membuatnya memejamkan mata. Ia menekan sisi kepala, menunggu rasa sakit yang terlalu dikenalnya lewat tanpa harus dijelaskan sekali lagi.
Hannah bangkit. Tangannya terulur, lalu berhenti sebelum menyentuh peredam.
'Kamu mau aku panggil orang?'
'Jangan.'
'Kalau sakitnya berubah, kita nggak bisa cuma berdiri di sini.'
Gian menunjuk bangku, meminta waktu. Ia duduk kembali dengan napas yang masih pendek. Hannah mengambil kain dari dekat meja untuk menyerap kopi yang tumpah. Gerakannya pelan, tetapi bunyi cangkir yang dipindahkan tetap membuat Gian mengencangkan rahang.
Beberapa saat kemudian ia membuka mata. Hannah sudah tidak menangis, meskipun bekasnya masih terlihat di wajah.
'Maaf aku bentak kamu,' katanya.
Perempuan itu menatapnya. 'Aku terima maafnya. Tapi aku nggak mau setiap pembicaraan soal kesehatanmu berakhir kaya gini.'
Gian mengangguk kecil. Ia memandang lantai dua, ke kamar lima yang lampunya telah meredup. Kiana mungkin sudah tidur. Ia berharap suaranya tidak sampai ke sana, lalu kesal kepada diri sendiri karena memikirkan itu ketika Hannah masih berada di hadapannya.
'Aku akan menghubungi Pak Huda,' katanya.
'Malam ini?'
'Iya. Kamu mau duduk di sini sampai ponselnya berdering?'
Hannah tidak tersenyum. 'Kalau itu perlu.'
Gian mengeluarkan ponsel. Ada pemberitahuan baru dari kelompok tugas yang belum dibukanya. Namanya disebut bersama Erik untuk pengarahan sebelum patroli khusus esok pagi. Di bawahnya ada ringkasan laporan warga mengenai pengangkutan kayu di jalur barat.
Ia membaca lebih lama daripada yang direncanakan. Hannah mengikuti perubahan sorot matanya, lalu bertanya apa yang terjadi.
'Ada kegiatan lagi di barat.'
'Pembalak yang kemarin itu?'
'Yang kita tangkap waktu Kiana baru datang tetap ditangani. Ini jalur angkut lain. Keterangan dan barang yang diperiksa setelah penangkapan itu mengarah ke orang yang belum diamankan.'
Hannah diam. Gian memperbesar foto yang disertakan pada laporan warga. Gambar itu memperlihatkan muatan dari jarak jauh, belum cukup untuk menentukan semua orang di dalamnya. Ia mengenali bagian jalan, bukan wajah pengangkutnya.
'Kamu mau berangkat?'
'Ini sudah ada timnya, Han.'
'Aku nggak tanya jumlah orang.'
Gian menahan jawaban tajam berikutnya. Ia menekan nomor Huda dan menunggu. Hannah tetap di kursi ketika panggilan tersambung.
Ia mengonfirmasi telah menerima pemberitahuan, kemudian mengatakan ingin mengatur pemeriksaan lanjutan. Huda menanyakan apakah ada perubahan kondisi yang perlu segera memengaruhi tugasnya. Gian melihat kain basah di tangan Hannah, lalu menjawab bahwa ia masih dapat mengikuti pengarahan.
Ia tidak menyebut dengung yang baru membuatnya berhenti bicara. Hannah menatapnya dengan kecewa yang tidak dapat disembunyikan.
Huda meminta ia melaporkan keluhan yang mengganggu kemampuan bekerja, tidak menundanya demi urusan lapangan. Pemeriksaan akan diatur, dan penugasan dapat disesuaikan bila ia tidak layak berangkat. Gian mengiyakan. Setelah membicarakan tempat berkumpul, panggilan ditutup.
'Kamu nggak bilang tadi sampai harus duduk sambil pegang kepala,' kata Hannah.
'Aku sudah bilang mau pemeriksaan.'
'Itu nggak sama.'
Gian mengusap wajah. Ia tahu perbedaannya. Mengetahui sesuatu tidak selalu membuatnya bersedia melakukan hal yang diminta, terutama ketika laporan di layar menawarkan persoalan yang terasa lebih mudah dikejar daripada rasa sakit sendiri.
Hannah bangkit membawa cangkir dan kain. Ia mengatakan akan membersihkan meja, lalu pulang ke kios. Gian menawarkan mengantarkan sampai kendaraan, tetapi ia menolak dan menunjuk motor yang masih terlihat dari teras.
'Aku bisa pulang sendiri. Kamu yang sekarang perlu jujur sama dirimu.'
Gian berdiri di dekat pintu ketika Hannah selesai menaruh barang pada tempatnya. Perempuan itu mengambil tas, memeriksa kunci motor, lalu berpamitan tanpa meminta jawaban tentang perasaan lagi. Pembicaraan tersebut telah selesai malam ini; kekhawatirannya belum.
Setelah suara motor meninggalkan halaman, Gian masuk dan memeriksa perlengkapan untuk pagi. Radio perlu diisi ulang. Ia sempat memasukkannya ke ransel sebelum melihat tanda dayanya, lalu mengeluarkan lagi dan menghubungkannya ke pengisi. Kesalahan kecil itu membuatnya berdiri memandang perangkat tersebut lebih lama.
Pesan Erik menyusul, menanyakan apakah mereka bertemu di balai atau berangkat bersama dari rumah. Gian membalas bertemu di balai sesuai pengarahan. Ia tidak meminta juniornya datang lebih awal untuk mengerjakan bagian yang dilupakannya. Setelah itu ia menaruh ponsel di samping tempat tidur. Ia menyiapkan seragam untuk subuh, lalu duduk tanpa menyalakan lampu utama. Pesan Huda masih terlihat di layar. Jari Gian berhenti di atas ruang balasan, tetapi tidak ada penjelasan baru yang dikirim sebelum ia meletakkan ponsel menghadap meja.